Petugas memeriksa kondisi pesawat terbang jenis Boeing 737 milik maskapai penerbanganLion Air sebelum terbang di Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (31/10/2018). ANTARA FOTO/Aji Styawan/foc.

Kejadian memilukan kembali terjadi dalam dunia penerbangan dunia. Pada Minggu (10/3/2019) pesawat yang dioperasikan oleh Ethiopian Airlines terjatuh. Mengutip dari BBC, pesawat ini mengangkut 8 kru dan 149 penumpang sempat hilang kontak 6 menit setelah take off. Pesawat itu take off pukul 08.38 waktu setempat dan pada pukul 08.44 pesawat hilang kontak. Semua penumpang hingga awak pesawat dinyatakan tidak ada yang selamat. Ratusan korban yang tewas berasal dari 35 negara termasuk salah satunya warga negara Indonesia.

Penerbangan dengan nomor ET-302 ini terjatuh di Hejere dekat Bishoftu, sekitar 50 kilometer selatan Addis Ababa, Ethiopia. Seperti yang dilansir kantor berita berita AFP, Senin (11/3/2019), saksi mata Tegegn Dechasa mengatakan bahwa sebelum terjatuh pesawat sudah terbakar. “Pesawat itu sudah terbakar ketika jatuh ke tanah. Kecelakaan itu menyebabkan ledakan besar,” ujarnya. Kejadian ini menimbulkan polemik mengenai jenis pesawat yang digunakan. Pesawat yang dioperasikan Ethiopian Airlines ini berjenis Boeing 737 Max-8.

Persamaan dengan Jatuhnya Lion Air JT-610

Jenis pesawat ini sama seperti Lion Air JT-610 yang mengalami insiden jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat, pada Oktober 2018 lalu. Banyak persamaan yang terjadi ketika peristiwa jatuhnya kedua pesawat yang berjenis sama ini. ET-302 jatuh setelah 6 menit lepas landas dari Bandara Bole. Tak jauh berbeda dengan JT-610 yang jatuh setelah 13 menit lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Selain itu, kedua pilot mengalami kesulitan dalam mengendalikan pesawat. Berdasarkan sebuah konferensi pers, dikutip Tribun Travel dari Aviation Savety, pilot ET-302 mengatakan kesulitan saat mengendalikan pesawat. Sama halnya yang dialami JT-610 dimana pilot melaporkan kesulitan dalam mengendalikan pesawat yang menukik beberapa kali.

Dampak kejadian tersebut membuat Kementerian Perhubungan memutuskan untuk mengandangkan pesawat Boeing 737 MAX 8 terbang untuk sementara waktu. Pemerintah Cina juga mengambil langkah yang sama untuk menghentikan pengoperasian maskapainya menggunakan Boeing 737 MAX 8. Selama masa itu, Kemenhub akan melakukan inspeksi yang dimulai sejak hari ini, Selasa (12/3). Menurut Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Polana B. Pramesti, langkah tersebut diambil untuk menjamin keselamatan penerbangan dan memastikan bahwa pesawat yang beroperasi di Indonesia dalam kondisi layak terbang. Selain itu, menimbang kondisi psikologis masyarakat Indonesia akibat trauma insiden jatuhnya Lion Air JT-610 selang 5 bulan yang lalu. Sejauh ini pesawat dengan jenis Boeing 737 Max-8 masih digunakan oleh beberapa maskapai penerbangan di Indonesia, yakni PT. Garuda sebanyak 1 unit dan PT. Lion Air sebanyak 10 unit. Pihak Garuda dan Lion Air telah memastikan patuh pada keputusan yang telah diperintahkan ini dan mengandankan semua pesawat berjenis Boing 737 MAX 8 hingga batas waktu yang belum ditetapkan.

Fluktuasi Kondisi Penerbangan Indonesia  

Kejadiaan naas seperti ini sudah sering terjadi dalam sejarah penerbangan di Indonesia. Faktor kesalahan manusia, mesin ataupun kondisi cuaca buruk menjadi penyebab utama kejadian yang tidak diinginkan seperti ini. Keamanan dan keselamatan merupakan hal vital yang harus dipenuhi dalam perjalanan melintasi udara. Seiring dengan hal ini, pemerintah harus menekankan standar keselamatan dan kepatuhan dalam penerbangan seperti dilakukannya uji berkala kesehatan dan kecakapan pilot, pengecekan kondisi pesawat secara rutin serta meningkatlkan kecakapan manusia yang terlibat dalam komunikasi perlintasan pesawat di udara. Kementerian Perhubungan meninjau ulang semua peraturan dan sistem audit yang berkaitan dengan keamanan penerbangan di Indonesia, menyusul kecelakaan fatal penerbangan Lion Air JT-610. Jika ditemukan kekurangan dalam sistem yang sudah ada maka segera lakukan perbaikan. Selanjutnya Kementerian Perhubungan menyatakan akan melakukan pemeriksaan “intensif” pada seluruh pesawat Boeing 737 Max 8 yang beroperasi di Indonesia.

Pada tahun 2007 lalu, berbagai kecelakaan pesawat fatal yang terjadi di Indonesia membuat otoritas penerbangan Indonesia dinilai tidak layak memenuhi syarat standar keselematan internasional yang telah ditetapkan oleh International Civil Aviation Organization (ICAO). Akibatnya, seperti dikutip oleh cnnindonesia.com, Federal Aviation Administration (FAA) menurunkan tingkat keselamatan penerbangan di Indonesia ke kategori dua yang artinya masuk dalam kelompok negara-negara yang belum mampu memenuhi syarat keselamatan terbang internasional. Langkah ini disusul dengan larangan terbang bagi seluruh maskapai penerbangan Indonesia ke Eropa oleh otoritas penerbangan Uni Eropa (UE). Dunia penerbangan Indonesia akhirnya berbenah dengan merevisi regulasi penerbangan di tanah air. Usaha ini berbuah manis karena pada bulan Juni 2018 larangan terbang terhadap 62 maskapai Indonesia resmi dicabutnya.

Malangnya, peristiwa jatuhnya Lion Air JT-610 pada oktober 2018 menimbulkan rasa khawatir jika peringkat penerbangan Indonesia akan mengalami penurunan. Pemerintah telah melakukan upaya mempertahankan posisi pertama itu. Dilansir cnnindonesia.com, Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono mengaku ikut memperjuangkan dan berusaha mempertankan Indonesia berada di peringkat satu dalam setahun terakhir. Soerjanto mengatakan jika ada penurunan performa di bidang penerbangan, pihak-pihak maskapai selalu dikumpulkan dan ditanyakan alasannya. Selain itu juga selalu dilakukan accident review dan penjelasan terkait kecelakaan dan dampak nantinya.

Meski demikian, Soerjanto menjelaskan penurunan itu dapat terjadi berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan. Dari hasil investigasi akan ditemukan, apakah letak kesalahan terdapat pada faktor pengawasannya atau murni kesalahan dari pihak maskapai penerbangan. Pengamat Penerbangan Alvin Lie juga menilai jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkalpinang tersebut tidak serta merta mempengaruhi peringkat keselamatan penerbangan Indonesia. Salah satu faktornya adalah karena belum diketahui penyebab dari jatuhnya pesawat tersebut.

Parameter dalam penilaian yang dilakukan oleh ICAO cukup banyak, salah satunya adalah kepatuhan pelaku penerbangan yang bersangkutan terhadap standar dan rekomendasi dari ICAO. Oleh karena itu, bukan berarti terjadinya satu kecelakan dan belum ketahuan penyebabnya maka peringkat keselamatan penerbangan Indonesia langsung turun. Melalui penghargaan ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan penerbangan Indonesia di mata dunia sehingga mengarah pada perkembangan perekonomian nasional lebih maju. Untuk mempertahankan status ini, diperlukan kerjasama seluruh stakeholder bidang penerbangan untuk meningkatkan kinerja terutama di sektor keselamatan dan keamanan penerbangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Aplikasi PeduliLindungi Tracing Kontak Covid-19 Aman, Tapi Hati-Hati Palsuannya!

Jakarta, RakyatRukun.com – Melansir CNNIndonesia.com tanggal 18 April 2020, Pemerint…