Kreativitas dan inovasi Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) dalam menata kota menuai apresiasi dari banyak pihak. Dalam hal mengelola sampah, misalnya, sejak bertahun lalu Risma memelopori berbagai upaya mengurangi sampah plastik. Dia juga yang pertama menjadikan sampah di Surabaya sebagai kompos hingga sumber energi listrik.

Dilansir oleh news.detik.com, pada 15 Juni lalu dia menjadi pembicara di World Materials Forum di Kota Nancy, Prancis untuk memaparkan pengalamannya mengelola sampah. Di dalam negeri pada Senin pekan ini, sejumlah anggota DPRD DKI khusus menemui Risma di Surabaya untuk studi banding soal sampah. Saking terpikatnya, Ketua Fraksi NasDem DPRD DKI Besari Barus sempat melontarkan harapannya agar Risma bersedia ikut menyelesaikan persoalan sampah di Jakarta.

Risma digadang-gadang menjadi Gubernur DKI Jakarta. Juga disebut-sebut berpeluang masuk jajaran menteri kabinet Jokowi-KH Ma’ruf Amin. Risma merespons itu dengan rendah hati.

“Jabatan publik itu amanah, bukan untuk diminta atau diperebutkan,” kata dia kepada tim Blak-blakan detikcom.

Ia tak mau terjebak apakah mau menjadi gubernur, menteri, atau presiden sekalipun. “Kalau saya bilang iya, itu artinya sombong seolah saya punya kemampuan,” tegasnya.

Risma lebih senang berbagi pengetahuan dan pengalaman ketimbang bergunjing soal jabatan publik yang lebih tinggi. Sebagai wali kota, ia berseloroh, dia sudah bertindak dan bekerja layaknya menteri sosial, pendidikan, lingkungan hidup. “Pokoknya aku ini sudah jadi menteri macam-macam,” ujarnya sambil tertawa.

Di luar semua itu, Risma juga mengungkapkan cerita sebenarnya terkait gangguan kesehatan yang membuatnya harus rawat inap di rumah sakit beberapa hari lalu. Kini, dandanannya sedikit berubah. Dia menggunakan sepatu kulit jenis boot, bukan sepatu yang biasa digunakan kaum perempuan pada umumnya. “Iya, ini bagian dari terapi,” ujarnya.

Pengelolaan Sampah Ala Surabaya Bisa Diterapkan di Jakarta

Dalam mengelola sampah di Surabaya, Tri Rismaharini menyebut pihaknya hanya mengeluarkan dana sekitar Rp 30 miliar untuk pengelolaan sampah. Model pengelolaan sampah di Surabaya disebut Risma bisa diterapkan di DKI Jakarta. Risma awalnya menjelaskan soal pengelolaan sampah di Surabaya dengan memakai anggaran Rp 30 M. Dia berbicara soal alat pengontrol.

“Jadi saya punya alat ya, yang bisa kontrol. Jadi apakah sampah ini di TPS ini bisa terangkut jam yang sama. Kedua, memang karena saya ada banyak taman, 400-an taman kalau rawat kimia itu mahal sekali, makanya saya buat rumah kompos-kompos itu jumlah banyak sekitar 28. Ini yang mengurangi sampah yang kita buang ke TPA sehingga hasil kompos itu untuk rawat taman,” kata Risma di Soehanna The Energy Building, Jakarta, Rabu (31/7/2019) yang ditilik dari news.detik.com.

Selain itu, Risma menyebut warga Surabaya banyak yang memilah sampah serta mengolahnya sendiri menjadi kompos untuk menanam sayuran. Untuk sampah anorganik seperti kertas dan plastik, Risma mengatakan warga Surabaya memanfaatkannya dengan menjual kembali.

“Surabaya ada tempat pembuangan akhir di TPA. Setiap tahun jumlah penduduk Surabaya naik tapi sampahnya turun. Sampah turun karena terus terang saya kebanyakan turun karena selalu bayar tipping fee. Kalau jumlahnya semakin banyak, bayarnya semakin besar karena itu kita harus tekan,” sebut dia.

Selanjutnya, Risma berbicara soal pengendalian pengeluaran untuk BBM truk sampah dan mobil sejenis lainnya. Dia juga menjelaskan soal peran penyapu jalan.

“Nah itu pertama. Kedua kelola bener, tiap hari per menit berapa jumlah BBM yang dikeluarkan untuk truk karena itu saya ada alat pengendali pengeluaran, termasuk misalkan berapa jumlah penyapu jalan di sini di jalan ini protokol. Dia kita akan bayar UMK sesuai undang-undang, bekerja 8 jam istirahat 1 jam. Nah itu kita hormati tapi kerja 8 jam dengan jaminan 3K,” jelas Risma.

Risma mengatakan pengelolaan sampah di Surabaya bisa hanya dengan anggaran Rp 30 M karena dua hal. Dua hal itu membuat pengelolaan sampah di Surabaya efisien.

“Itu kita pantau betul kuncinya di monitoring dan kontrol sehingga mungkin efisien. Dan karena sampah itu turun, dan kemudian kita gunakan alat konvektor untuk angkut sehingga anggaran kita semakin lama semakin turun,” tutur Risma.

Risma menegaskan cara pengelolaan sampah di Surabaya bisa diterapkan di DKI Jakarta. Alasannya, DKI Jakarta menurut Risma punya uang. Namun, selain menyangkut anggaran untuk mengelola sampah, keikutsertaan masyarakat merupakan hal terpenting. Surabaya berhasil dalam memanfaatkan sampah dikarenakan masyarakatnya pun turut mendukung program pemerintah daerahnya. Maka, tidak menutup kemungkinan jika warga Jakarta juga dapat terbebas dari masalah sampah jika warganya turut mendukung program pemerintah dalam mengelola sampah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…