Seperti yang kita ketahui, asteroid berukuran 10 km yang jatuh ke Bumi sekitar 66 juta tahun lalu, memusnahkan hewan-hewan raksasa dan memicu perubahan iklim. Menurut penelitian yang diterbitkan jurnal Nature, jatuhnya asteroid ke Bumi yang memusnahkan dinosaurus, juga menyebabkan lautan di dunia terganggu selama jutaan tahun.

Kepunahan hewan-hewan raksasa daratan terjadi akibat dampak langsung dari hantaman, tetapi hewan yang hidup di lautan atau mengubur diri bisa bertahan beberapa lama. Sesaat setelah asteroid menghantam, tsunami, pemanasan di beberapa bagian bumi, dan letusan gunung berapi terjadi. Namun dampak jangka panjangnya belum diketahui.

Rusak Ekosistem Laut Jutaan Tahun

Sebuah riset berbasis pemodelan yang dilakukan oleh ilmuwan dari National Center for Atmospheric Research (NCAR) baru-baru ini memberi gambaran lengkap bagaimana hantaman asteroid bisa memusnahkan. Menggunakan Community Earth System Model (CESM), mereka menganalisis dampak jelaga sebesar 15 miliar ton akibat hantaman asteroid pada perubahan iklim. Menurut hasil pemodelan itu, jelaga pada awalnya akan naik ke atmosfer dan memblokir sinar matahari yang seharusnya sampai ke bumi.

Setelah setidaknya 6 bulan, jelaga mulai berkurang. Namun, tumbuhan tak serta merta bisa melakukan fotosintesis. Sebagian besar tumbuhan hilang terbakar saat asteroid menghantam. Ekosistem laut merasakan dampak terbesar. Laut menjadi miskin fitoplankton sehingga hewan-hewan laut yang bertahan jadi kekurangan pangan dan oksigen. Para ilmuwan meneliti fosil berumur 13 juta tahun dan menemukan bahwa spesies plankton di dasar ekosistem lautan terganggu selama 2 juta tahun setelah serangan asteroid besar di Bumi. Dan butuh 8 juta tahun lagi untuk pulih.

Sekitar tiga-perempat spesies tumbuhan dan hewan di Bumi punah ketika asteroid merusak lingkungan global 66 juta tahun yang lalu. Para peneliti dari universitas Southampton, Bristol, UCL, Frankfurt dan California menemukan setelah meneliti bagaimana ekosistem laut “reboot”.

Temuan juga menunjukkan bagaimana hilangnya keanekaragaman hayati dapat mempengaruhi efektivitas ekosistem. Sarah Alvarez, penulis utama penelitian menjelaskan bahwa ilmuwan menganalisis catatan plankton laut menggunakan nannofossil berkapur.

“Kami mengukur kelimpahan, keragaman dan ukuran sel dari lebih 700.000 fosil, mungkin dataset fosil terbesar yang pernah dihasilkan dari satu situs,” kata Alvarez, yang bekerja di University of Gibraltar.

Kepunuhan Massal di Bumi Sedang Berlangsung

Rekan Alvarez, ahli paleobiologi Samantha Gibbs menambahkan bahwa penelitian ini menyoroti risiko yang ditimbulkan oleh hilangnya keanekaragaman, seperti kepunahan spesies yang saat ini terjadi di seluruh dunia. Kehilangan spesies saat ini berisiko menghilangkan makhluk penting dalam ekosistem.

Pada 2017, para ilmuwan memperingatkan bahwa kepunahan massal keenam dalam sejarah Bumi sedang berlangsung. Karena hilangnya satwa liar dalam beberapa dekade terakhir yang disebabkan oleh kelebihan populasi manusia dan konsumsi berlebihan.

Sebuah studi terpisah pada 2018 mengatakan bahwa perlu waktu antara 3 dan 5 juta tahun untuk memulihkan tingkat keanekaragaman hayati yang diperkirakan akan hilang selama 50 tahun ke depan.

Saat ini, dengan mengurangi keanekaragaman hayati, kita menghadapi risiko kehilangan pemain ekosistem penting kita, yang banyak di antara mereka yang peran pentingnya belum kita hargai sepenuhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Pegawai Rutan Makassar Mengikuti Upacara Gabungan Dalam Memperingati Hari Bela Negara

Jakarta (RakyatRukun.com) – Memperingati Hari Bela Negara, Kepala Rutan Kelas I Maka…