Jakarta – RakyatRukun.com Wajar jika masyarakat resah dan sedih, khususnya bagi para perantau yang tidak bisa mudik alias kembali ke kampung halamannya untuk bertemu sanak keluarga dan orang tua apalagi saat Lebaran nanti.

Kebijakan pemerintah yang mengharuskan untuk tetap tinggal di rumah sejak pertengahan Maret 2020 lalu membuat sebagian masyarakat sedikit kaget dengan suasana yang berbeda. Disusul lagi dengan kebijakan Pemerintah per 30 Maret 2020 lalu, agar masyarakat tidak kembali ke kampung halamannya hingga libur lebaran nanti.

Hingga saat ini, masih banyak masyarakat yang mencuri kesempatan untuk bisa mudik, walaupun larangan untuk mudik sudah dikeluarkan pemerintah. Bagaimana jika pemerintah memberikan kesempatan untuk mudik bagi perantau sebelum Pandemi Corona menyebarluas? Ada beberapa analisis yang dapat diberikan mengenai hal ini antara lain:

Mahasiswa dan Beberapa Karyawan Sudah Dirumahkan

Sejak munculnya kasus positif Corona pada tanggal 2 Maret lalu, pemerintah Indonesia mulai waspada terhadap penyebaran virus Corona di Indonesia. Dua WNI terinfeksi Corona untuk pertama kalinya di Indonesia, sempat membuat kepanikan dikalangan masyarakat seperti dilansir Indonesia.go.id.

Pencegahan sebenarnya sudah dilakukan pemerintah sejak beredarnya kasus virus Corona di Wuhan yang menyebar juga ke Malaysia yaitu sejak Februari 2020. Pelabuhan dan bandara juga telah diperketat masuknya WNA yang masuk ke Indonesia sejak Februari. Indonesia sempat lengah dan merasa senang ketika menjadi salah satu negara di Asia Tenggara yang belum ada kasus positif Corona pada saat itu.

Belajar dari negara lainnya, diketahui bahwa virus Corona ini sangat cepat menyebar. Bahkan dari 1 kasus positif, dalam hitungan hari bisa bertambah banyak. Semua negara sudah merasakan hal tersebut.

Seharusnya kegiatan belajar dan bekerja sudah dihentikan sejak adanya 2 kasus positif Corona di Indonesia. Dan memberikan kesempatan bagi mahasiswa dan karyawan perantau untuk kembali ke kampung halamannya sebelum kasus Corona bertambah di Indonesia. Tentu saja mereka kembali untuk belajar dan bekerja dari rumah karena dengan internet saat ini apa saja bisa dilakukan walaupun tidak harus ke sekolah, kampus ataupun kantor.

Setidaknya Kepadatan Aktivitas di Ibukota Berkurang

Apakah terjamin bagi perantau yang kembali ke kampung halaman sebelum Corona menyebarluas tidak menjadi carrier (pembawa virus)?

Penyebaran virus Corona akan semakin cepat jika suatu tempat ramai orang dan padat aktivitas. Setidaknya, jika beberapa kalangan masyarakat yang sudah tidak beraktivitas diluar dapat didistribusi ke daerahnya masing-masing yang belum terjangkit. Potensi menjadi carrier masih kecil kemungkinannya.

Tentu saja hal ini harus dibarengi dengan pemantauan untuk isolasi mandiri selama 14 hari oleh petugas kesehatan setempat, ketika pemudik sampai di kampung halamannya.

Melansir tayangan Mata Natjwa yang mewawancarai Presiden RI pada 23 Maret lalu, Presiden Jokowi menyatakan ada perbedaan antara mudik dengan pulang kampung. Menurut Presiden, orang yang pulang kampung adalah orang yang telah kembali ke kampung halamannya jauh hari sebelum lebaran. Dikarenakan kondisi tempat tinggal di Jakarta yang berupa kamar ukuran 3×2 meter dan ditinggali oleh 5 hingga 10 orang dalam satu rumah, justru lebih beresiko tertular dibandingkan dikampungnya sendiri memiliki rumah dengan kamar sendiri.

Beban Pemerintah Pusat akan Dibantu Oleh Pemerintah Daerah

Selain itu, melalui pembatasan kalangan masyarakat seperti mahasiswa serta kalangan karyawan yang telah belajar dan bekerja di rumah dan bisa pulang kampung jauh hari sebelum menyebarluasnya Corona, beban pemerintah pusat akan menjadi berkurang karena dapat dibantu oleh pemerintah daerah.

Meskipun pada akhirnya pemudik yang pulang kampung dinyatakan reaktif terhadap virus Corona, setidaknya pemerintah daerah juga cepat tanggap untuk memberikan perawatan kesehatan.

Saat pemerintah sudah melakukan pembatasan mudik (semi lockdown) saat ini, faktanya seluruh provinsi di Indonesia telah terdapat kasus Corona karena sebelumnya terlambat memberikan kesempatan masyarakat untuk pulang kampung. Kebijakan yang abu-abu menjadikan masyarakat sebelumnya masih tetap nekat pulang kampung setelah kasus Corona di Indonesia telah mencapai ratusan bahkan ribuan kasus.

Menurut Data dari Kemendikbud, saat ini 60 persen mahasiswa sudah kembali ke kampung halamannya dari sabang sampai merauke, namun tetap mengikuti perkuliahan online.

Kasus Bertambah Banyak, Ingin Mudik Bukan Keputusan Yang Tepat

Jika kasus sekarang sudah semakin banyak (data tarakhir di Jakarta sudah 4.092 kasus), memang bukan langkah yang bijak jika kita berkeinginan untuk mudik. Potensi carrier akan semakin bertambah peluangnya.

Jika ingin mudik seharusnya jauh hari sebelum kasus Corona belum banyak setidaknya belum mencapai puluhan atau ratusan.

Jika terhalang oleh pekerjaan pada saat itu, maka yang hanya dapat dilakukan adalah tetap bersabar dan menjaga kesehatan di tempat tinggal masing-masing tanpa memperkeruh suasana atas keputusan pemerintah yang mulai melarang untuk mudik keluar daerah.

Situasi genting (urgent) memang memerlukan langkah yang cepat dan tepat tanpa saling menyalahkan atau saling mencari-cari kesalahan pihak satu dan yang lainnya. Saat ini yang paling penting adalah bersatu untuk melawan Corona hilang dari Indonesia dan dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Singapura Prediksi Pandemi Covid-19 di Indonesia Berakhir Pada Juni 2020

Singapura, RakyatRukun.com – Sebuah laboratorium penelitian di Singapura memprediksi …