Mullah Abdul Ghani Baradar, seorang pendiri dan Wakil Pemimpin Taliban datang beserta rombongan, tiba di kediaman Wapres JK pada pukul 17.45 WIB dan langsung disambut oleh Wapres JK pada Sabtu (27/7/2019) lalu. Melansir Kompas.com, di tengah upaya percepatan proses perdamaian, perang masih terus berlanjut dan merengut semakin banyak nyawa di Afghanistan. Upaya pembicaraan damai lain juga tengah diupayakan Amerika Serikat dengan Taliban, namun menuai kritikan dari pemerintah Afganistan yang merasa tidak pernah dilibatkan dalam proses perdamaian. Diketahui Taliban telah memegang kekuasaan di sekitar separuh wilayah Afghanistan dan secara teratur masih terus melancarkan serangan yang menargetkan aparat pemerintahan. Delegasi Taliban berangkat ke Jakarta untuk mengikuti pertemuan ulama internasional serta membahas perdamaian dengan Afghanistan.

Tidak Melakukan Pembicaraan Dengan Afganistan

Melansir Sindonews.com, Taliban menyatakan, mereka tidak akan melakukan pembicaraan dengan pemerintah Afghanistan dalam waktu dekat. Menurutnya, Taliban akan melakukan pembicaraan dengan pemerintah Afganistan setelah kesepakatan dengan Amerika Serikat (AS) mengenai penarikan mundur pasukan. Terkait penarikan mundur pasukan, AS dan Taliban sejauh ini belum menemui kata sepakat mengenai hal ini. Meski demikian, dalam putaran terbaru pembicaraan AS-Taliban yang berlangsung di Doha beberapa waktu lalu, sudah ada kemajuan dalam pembicaraan mengenai penarikan mundur pasukan tersebut. Diketahui keberadaan pasukan tantara asing di Afganistan adalah sebagai bagian dari misi NATO yang dipimpin oleh AS untuk melatih, membantu serta memberi nasihat kepada pasukan Afganistan serta untuk melakukan operasi kontra terorisme.

AS Siap Menarik Pasukan Dengan Syarat

Mengingat bahwa  Taliban memainkan peran sentral yang mendukung serangan teroris 11 September 2001 di New York dan Pentagon, sehingga menjadi awal pengiriman pasukan tantara AS ke Afganistan dalam rangka misi NATO. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo mengatakan Washington tengah bersiap untuk menarik pasukan dari Afghanistan, namun belum menyetujui kapan waktunya. Seperti yang dikabarkan oleh Sindonews.com, penarikan pasukan AS dari Afganistan akan dipertimbangkan dengan syarat komitmen Taliban untuk bergabung dengan sesama warga Afghanistan dalam memastikan tanah Afghanistan tidak pernah lagi menjadi surga yang aman bagi para teroris.

Indonesia Sebagai Mediator

Melansir Detik.com, Jakarta direncanakan menjadi tuan rumah Konferensi Ulama dan para cendekiawan Muslim dari Afghanistan, Pakistan, dan Indonesia. Sebelumnya Delegasi Taliban dan Afganistan telah menyetujui “komitmen untuk mengurangi kekerasan”. Konsultasi damai Afganistan-Kabul di ibu kota Qatar itu diprakarsai oleh Jerman sebagai pihak penengah. Di sisi lain, Amerika Serikat berencana untuk bekerja sama dengan Pakistan untuk mengakhiri perang Afganistan. Lantas apa pengaruh Indonesia bagi Taliban sehingga berniat berkunjung ke Indonesia?

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengatakan Afganistan tidak pernah tenang dan selalu berkonflik. Sudah banyak yang mencoba memediasi namun ternyata gagal. Akhirnya Indonesia hadir untuk menjadi mediator perdamaian. Pada tahun 2018 lalu, melalui MUI, Afganistan meminta Indonesia menjadi mediatornya karena di Afganistan peran ulama itu besar. Pada akhirnya telah direncanakan akan ada pertemuan ulama Indonesia, Afganistan dan Pakistan. Walaupun di minta menjadi mediator untuk Afganistan, Dalam pertemuan itu, Wapres JK mengatakan bahwa Indonesia selalu menjaga komunikasi dengan semua pihak yang terlibat proses perdamaian di Afghanistan, termasuk dengan Pemerintah Afghanistan dan Taliban. Komunikasi ini dianggap sangat penting artinya untuk menjaga kepercayaan semua pihak sehingga proses perdamaian dapat terus maju. Indonesia juga berkomunikasi dengan Amerika Serikat dan pihak-pihak lainnya dalam upaya perdamaian di Afganistan.

Sebagai langkah konret, Dirjen Kementerian Luar Negeri RI untuk untuk Asia, Pasifik, dan Afrika, Desra Percaya, telah mengunjungi Kabul, Afghanistan pada awal Juli 2019 untuk membahas kemitraan Indonesia dalam proses perdamaian. Melalui langkah-langkah kemitraan ini diharapkan Indonesia mampu menjadi mediator Afganistan dan Taliban demi terwujudnya perdamaian di tanah Afganistan.

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Aplikasi PeduliLindungi Tracing Kontak Covid-19 Aman, Tapi Hati-Hati Palsuannya!

Jakarta, RakyatRukun.com – Melansir CNNIndonesia.com tanggal 18 April 2020, Pemerint…