Banjir Bandang Papua, Puluhan Mengungsi

Bumi Pertiwi kembali dirundung duka. Telah terjadi banjir bandang yang merenggut nyawa puluhan orang di Sentani, Papua pada hari Sabtu (16/03). Bencana terjadi hingga Minggu sore dan menewaskan 70 orang seperti yang diberitakan oleh kompas.tv. Puluhan orang luka-luka dan ribuan penduduk diungsikan ke berbagai titik. Dilaporkan bahwa hujan lebat yang mengguyur daerah Papua menyebabkan banjir bandang yang menerjang 9 kelurahan di Sentani, Kabupaten Jayapura. Banjir yang disertai lumpur ini menyebabkan banyaknya kerusakan pemukiman, fasilitas umum, dan masih banyak korban yang terperangkap material lumpur.

Ditilik dari bbc.com, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperingatkan kemungkinan banjir bandang susulan karena hujan lebat masih berpotensi terjadi di Papua dalam dua hingga tingga hari ke depan. “Dari sisi hujan lebatnya kami sudah memberikan kewaspadaan terutama bagi daerah-daerah yang dataran tinggi, terkait dengan longsoran dan banjir bagi daerah-daerah yang menjadi langganan,” ujar Kepala Bagian Hubungan Masyarakat BMKG Hary Tirto Djatmiko kepada BBC News Indonesia, Minggu (17/03). Curah hujan yang masih tinggi dalam beberapa hari kedepan akan berpotensi terjadinya banjir susulan sehingga masyarakat harus selalu waspada.

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat BMKG Hary Tirto Djatmiko menuturkan hujan lebat yang terjadi di Papua karena pertemuan massa udara yang menimbulkan pembentukan awan-awan hujan yang cukup signifikan. “Dari sisi itu, kalau dilihat secara utuh di perairan sekitar Papua suhu muka lautnya juga lebih hangat. Kalau suhu muka lautnya lebih hangat, penguapan cukup tinggi, ditambah lagi kelembaban udara. Juga pertemuan massa udara tadi. Sehingga potensi hujannya cukup signifikan,” kata dia. Kendati begitu, Hary menegaskan banjir bandang tidak hanya karena faktor cuaca, namun ada faktor lain yang menjadi penyebab terjadinya bencana ini, salah satunya alih fungsi lahan.

Diberitakan inews.id, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, jika melihat dampak dan landaan banjir bandang yang terjadi di Sentani, kemungkinan disebabkan adanya longsor di hulu atau kawasan pegunungan. Rusaknya ekosistem Gunung Cyclop, Jayapura, Papua diduga kuat menjadi penyebab banjir bandang disamping curah hujan tinggi di kawasan tersebut. Semenjak beberapa tahun lalu, sejumlah warga telah menduduki dan memanfaatkan lahan. Daerah pegunungan yang seharusnya menjadi tempat resapan diubah oleh masyarakat menjadi tempat bermukim, berladang, dan berkebun. Alhasil, saat hujan deras maka longsor gampang terjadi karena pohon untuk menahan tanah berkurang serta daerah resapan yang semakin terbatas.

Wilayah Sentani merupakan daerah rawan banjir karena maraknya kerusakan lingkungan dan pertambangan liar. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menuturkan sejak september 2018, Dewan Ketahanan Nasional (Wantanas) bersama BNPB telah memperingatkan tentang adanya banjir bandang. Berbagai upaya telah dilakukan Wantanas dan BNPB untuk meangntisipasi banjir bandang, salah satunya melakukan penanaman 20.000 bibit pohon untuk memperbaiki lingkungan. Selanjutnya, penanggulangan bencana difokuskan pada evakuasi para korba, membuka akses jalan dan perbaikan bangunan yang terkena dampak banjir bandang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Pegawai Rutan Makassar Mengikuti Upacara Gabungan Dalam Memperingati Hari Bela Negara

Jakarta (RakyatRukun.com) – Memperingati Hari Bela Negara, Kepala Rutan Kelas I Maka…