Benarkah Jokowi Anggota PKI? Jokowi: Itulah Kejinya Politik

Pelabelan PKI dan anti-Islam yang menimpa Jokowi pertama kali bermula semenjak masa kampanye Pilpres 2014. Sudah acap kali Jokowi ditimpa fitnah absurd yang menyangkutpautkan dirinya dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Tampaknya, Jokowi mulai gerah dengan serangan pemberitaan negatif tersebut dan menyebutnya sebagai ‘politik yang keji’. Jokowi menjelaskan bahwa Ia lahir pada tahun 1961 sedangkan PKI dibubarkan pada tahun 1965. Jadi, sangat tidak masuk akal jika ada seorang balita sudah menjadi PKI. Adapun juga beredarnya gambar yang disebut sebagai Jokowi bersama DN Aidit ketika berpidato di tahun 1955. Hal ini terjadi bahkan ketika Ia belum lahir.

Dilansir dalam news.detik.com, dalam acara pembagian sertifikat tanah untuk warga Kabupaten Bekasi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) berbicara seputar isu hoax yang dialamatkan kepada dirinya. Awalnya, Jokowi mengaku sabar diterpa isu sebagai aktivis PKI. Setelah empat tahun memimpin, Jokowi angkat bicara meluruskan isu tersebut karena ada 9 juta orang, menurut survei timnya, yang percaya bahwa Jokowi adalah PKI.

“Tahun politik isunya itu-itu saja. Saya 4 tahun dengerin, ya Allah, sabar, sabar. Coba dilihat, Presiden Jokowi itu PKI. Ada nggak itu di Bekasi? PKI dibubarkan 65-66. Saya lahir tahun 61. Nangkep? Umur saya berarti baru 4 tahun. Masih balita. Ada PKI balita? Hayo? Tapi kadang-kadang isu seperti itu langsung dimakan mentah-mentah,” ujar Jokowi di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Jumat (25/1/2019). Terkait dengan foto dirinya Bersama DN Aidit, Ia menjelaskan, “Lahir saja saya belum. Tapi gambar saya ditaruh situ. Kejam nggak itu? Anak saya bilang, ‘Pak, ada gambar gini di medsos’. Saya lihat. La kok wajahnya persis saya? Itulah namanya kejinya politik kayak gitu, kejamnya politik seperti. Tapi masyarakat jangan diracuni hal seperti ini. Nggak mau saya,” ujar Jokowi.

Kabar menarik sekaligus mengejutkan disampaikan oleh seseorang mengenai asal muasal fitnah keji tersebut. Dialah Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Romahurmuziy yang biasa dipanggil Romi mengungkap sejarah pelabelan PKI yang disematkan kepada Presiden Joko Widodo oleh lawan politiknya. Saat itu, Romi yang masih menjadi Sekjen PPP menjabat Wakil Ketua Bidang Strategi Tim Pemenangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Saat itu, PPP masuk dalam Koalisi Merah Putih yang mengusung Prabowo-Hatta. “Saya katakan dan saya tegaskan bahwa urusan prokomunis itu adalah betul-betul sebuah fitnah dan hoaks. Mengapa? Karena ketika Pak Jokowi diusung jadi Wali Kota Solo dua periode, tidak pernah ada isu demikian,” kata Romi dalam pidato pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama PPP di Hotel Patra, Semarang, Jumat (13/4/2018).

Seperti diberitakan oleh cnnindonesia.com, saat itu Romi menyampaikan kepada Ketua Alkhairaat, Habib Sayid Saggaf Muhammad Al Jufri tentang rencana salah satu oknum pendukung pasangan Prabowo-Hatta Rajasa untuk membuat tabloid Obor Rakyat. Tabloid itu sengaja dibuat untuk memuat tulisan yang menyebut Jokowi sebagai keturunan Tionghoa dan PKI. “Saya sempat diminta mengoreksi tabloid itu, tapi saya menolak karena ini fitnah. Kalau Pak Prabowo enggak menang, kita bakal dapat masalah, kalau menang ya bisa saja ditutup kasus hukumnya,” ujar Romy saat memberi sambutan dalam acara munas alim ulama di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (13/4/2018). Romy yang saat itu menjadi Wakil Ketua Bidang Strategi Tim Pemenangan Prabowo-Hatta tak mau mengambil risiko. Namun tabloid itu akhirnya tetap dicetak sebanyak 1 juta eksemplar dan dibagikan ke 28.000 pesantren dan 724.000 ribu masjid seluruh Indonesia. Sejak saat itu, isu bahwa Jokowi keturunan PKI semakin santer terdengar. Padahal saat masih menjabat sebagai Wali Kota Solo maupun mengikuti Pilgub DKI 2012, Jokowi tak pernah diisukan terkait PKI.

Masyarakat bawah yang memiliki pendidikan rendah dan malas untuk mencari kebenaran sebuah informasi cenderung langsung percaya terhadap pemberitaan di tabloid tersebut. Apalagi tabloid tersebut dibungkus dengan kemasan yang rapi dan cetakan yang bagus. Setiyardi yang merupakan pemimpin redaksi tabloid Obor Rakyat dan Darmawan, redaktur tabloid tersebut akhirnya divonis 8 bulan penjara. Mereka dianggap melakukan pencemaran nama baik dan penghinaan terhadap Joko Widodo melalui tabloid Obor Rakyat.

Para pelaku penyebar hoax yang mengaitkan Jokowi dengan PKI akhirya ditangkap. Setelah Setiyardi dan Darmawan, pada 15 Oktober 2018, polisi menangkap pemilik akun media sosial Instagram @sr23_official bernama Jundi di kediamannya Kecamatan Lueng Bata, Provinsi Aceh. Jundi diketahui memproduksi serta menyebarkan hoaks serta ujaran kebencian, dan beberapa kali menggunggah tuduhan bahwa Presiden Joko Widodo adalah pengikut PKI. Tersangka terancam pidana 6 tahun penjara dan/atau denda paling banyak Rp 1 miliar.

Atas semua pemberitaan keterkaitan Jokowi dengan PKI ini dinilai sangat absurd. Lebih parahnya lagi tokoh elite politik seperti Amien Rais juga menyebutkan bahwa pemerintahan Jokowi memberikan angin segar bagi kebangkitan PKI di Indonesia. Mengapa isu mengenai PKI ini baru berhembus saat Jokowi mengajukan diri pada Pilpres 2014 lalu? Apa yang mendasari bahwa pemerintah memberikan angin segar dalam kebangkitan PKI? PKI sudah bubar dengan Ketetapan MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 Tahun 1966 yang menyatakan segala hal yang berbau paham komunis merupakan hal terlarang. Tap MPR ini masih berlaku hingga sekarang shingga tidak ada celah bagi PKI untuk kembali bangkit di Indonesia. Masih panjang perjalanan dan tugas yang harus diselsaikan Jokowi. Ia masih harus ekstra kerja keras lagi untuk membangun perekonomian dan kesejahteraan di tanah air sehingga seluruh lapisan masyarakat hingga daerah terpencil dapat merasakan kemajuan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…