Nama Enzo Zenz Allie, pria keturunan Prancis-Sumatera Utara menjadi viral sejak dinyatakan lulus menjadi calon Taruna Akmil. Namun setelahnya muncul foto Enzo di media Facebook membawa bendera hitam bertuliskan kalimat Tauhid yang membuat masyarakat resah dengan keputusan TNI meloloskan remaja keturunan Perancis tersebut ke dalam militer Indonesia. Melansir Detik.com, bersamaan dengan foto itu, beredar narasi Enzo punya keterkaitan dengan organisasi yang sudah dilarang di Indonesia, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Pesantren tempat Enzo menimba ilmu membantah tuduhan tersebut. Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Sisriadi menerangkan bahwa TNI mempunyai sistem untuk menyaring calon taruna Akmil. Melansir Tribunnews.com (7/8), Ia menegaskan TNI sudah memiliki prosedur operasi standar (SOP), tidak hanya Enzo tapi semua calon taruna, tahap satu sampai tahap empat diawasi. Meskipun demikian, berbahayakah kedepannya jika memang benar Enzo memiliki keterkaitan dengan kelompok radikal?

Semua Tergantung Bagaimana TNI Mendidiknya

Sebagai remaja yang masih memiliki pola pikir ikut-ikutan mungkin saja masih melekat pada Enzo, sehingga fotonya yang memegang bendera hitam tersebut bisa saja benar dia memiliki keterkaitan dengan HTI namun bisa saja hanya ikut-ikutan. Beruntungnya Enzo adalah remaja yang sudah masuk dalam wadah yang tepat seperti TNI yang dapat memantau dan mendidik Enzo nantinya. Namun, bisa saja setelah masuk menjadi anggota militer Indonesia, kelak ia menjadi teroris yang ditakuti. Semua tergantung TNI bagaimana mengawasi dan mendidiknya sehingga benar-benar tidak ada paham dalam dirinya yang bertentangan dengan ideologi bangsa Indonesia.

Para remaja yang masih punya pemikiran yang labil dan dibiarkan berkeliaran di jalanan serta menggangur justru yang paling dikhawatirkan. Mereka bisa saja bertemu dan di doktrin oleh ustad jalanan untuk menjadi “pengantin”. Beruntung seorang Enzo yang bertekad masuk TNI walaupun memang benar sebelumnya ia memiliki keterikatan dengan kelompok radikal. Kuncinya, TNI dapat mengubah ideologinya untuk mencintai tanah air. Selama masa pendidikan tiga bulan bagi seluruh taruna diharapkan dapat membuatnya bersih dari berbagai pola piker ditambah dengan masa pengabdiannya.

Perkuat Pengawasan Aspek Komunikasi dan Interaksi

Dalam kajian peneliti politik DPR RI menuliskan bahwa dewasa ini baik Indonesia maupun dunia internasional telah mengalami kemajuan teknologi sehingga setiap jaringan teroris sudah bisa terkoneksi satu sama lain. Jadi walaupun suatu kelompok mengatakan tidak terhubungan dengan ISIS namun secara perorangan mereka dapat saja saling berkomunikasi. Pendapat ini pun terbukti dengan terjadinya serangan teror di kedai kopi Starbucks Sarinah-Thamrin Jakarta pada awal Januari 2016, dimana teror tersebut diduga telah dilakukan oleh kelompok ISIS. Dalam kasus Enzo, bisa saja ibu atau keluarganya memiliki komunikasi dengan kelompok ISIS yang ada diluar. Kewaspadaan tetap harus ada bagi manajemen TNI dari sisi komunikasi dan interaksi Enzo dan keluarganya agar TNI jangan sampai kecolongan dikemudian hari.

Karakteristik dari paradigma yang dikembangkan dalam menghadapi terorisme harus bersifat dinamis, tepat waktu dan tepat situasi. Di samping itu, ketiga sifat tersebut harus dapat dilaksanakan secara sekaligus sesuai dengan fungsinya masing-masing. Perkembangan komunikasi dan teknologi membuka peluang besar terhadap hal-hal yang dianggap tidak mungkin menjadi mungkin terjadi. Dengan demikian, Enzo tetap berhak berkarir di TNI jika militer Indonesia berhasil mendidiknya bukan tidak mungkin Enzo bisa menjadi prajurit yang dapat diandalkan Indonesia dan bisa jadi kebalikannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…