Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK) menegaskan bahwa ceramah yang disampaikan oleh para pemuka di semua agama harus menghormati orang lain. JK mengharapkan agar semua pemuka agama memberikan ceramah yang lebih menyejukkan kepada umat. Melansir Viva.co.id, sebelumnya
Ustad Abdul Somad (UAS) telah dilaporkan oleh sejumlah pihak kepada polisi diantaranya Brigade Meo pada Senin, 19 Agustus 2019 ke Reskrim Polda Nusa Tenggara Timur dengan laporan penistaan dan penodaan agama; Kedua oleh Organisasi Horas Bangso Batak (HBB) ke Polda Metro Jaya terkait ceramahnya yang membahas salib dan viral di media sosial; Ketiga oleh Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) ke Bareskrim Mabes Polri; Keempat oleh Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) ke Polda Jawa Timur terkait ujaran kebencian atau hate speech.

Sesuai dengan pemberitaan dari CNN Indonesia, sebelumnya beredar ceramah Ustad Abdul Somad yang mengatakan bahwa salib adalah tempat bersarangnya jin kafir dalam video yang tersebar di media sosial. Hal itu diucapkan untuk menanggapi pertanyaan salah satu jamaah yang menggigil hatinya ketika melihat salib. Pernyataan inilah yang membuat kalangan umat Kristen dan Katolik melaporkan UAS ke pihak berwajib. Apa sebenarnya dampak dari pengajaran dari ceramah para pemuka agama terhadap jemaah atau jemaat?

Kata-Kata Memiliki Kekuatan Untuk Mempengaruhi Pendengarnya

Berbicara didepan umum secara general adalah untuk menyampaikan suatu ilmu, ajaran ataupun pengarahan kepada para pendengarnya. Berbicara di depan publik (lebih dari satu orang) dapat mencakup berbagai macam topik yang berbeda. Tujuannya adalah untuk mendidik, menghibur atau mempengaruhi pendengar sehingga biasanya pembicara, penceramah atau pengkhotbah yang dipercaya untuk berbicara di depan umum biasanya dipanggil dari kalangan yang berpendidikan sesuai dengan topik yang akan diajarkan dan disampaikan.

Pengaruh dari ucapan yang dilakukan didepan publik tidak terbatas pada jumlah orang yang mendengar. Perbincangan secara personal antara dua orang saja, seseorang dapat mempengaruhi lawan bicaranya, apalagi berbicara di depan umum. Tentu banyak sekali yang akan terpengaruh dan mendengar ajaran yang disampaikan. Kata-kata memiliki kekuatan untuk menginformasikan, membujuk, mendidik, dan bahkan menghibur. Dan kata yang diucapkan bahkan bisa lebih kuat daripada kata-kata tertulis di tangan pembicara yang tepat. Sebaliknya jika kata yang diucapkan tidak tepat maka hal tersebut juga dapat menjadi persepsi yang tidak tepat pula bagi pendengarnya dan akan disebarkan kembali dari pendengar ke pendengar diluar lainnya.

Perkataan di Depan Publik Harus Memberi Energi Positif

Pakar media sosial dan pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, mengatakan bahwa di era media sosial, siapapun sebaiknya bisa menjaga situasi, terlebih bagi tokoh-tokoh masyarakat, terutama pemuka agama. Hal itu karena tidak ada yang bisa memastikan apakah konten di ruang tertutup itu bisa tetap terjaga di lingkup itu saja, mengingat berbagai kemudahan teknologi yang tersedia saat ini untuk menyebarluaskan informasi. Selain itu menurutnya, pemuka agama harus bisa menghindari ketersinggungan bahwa tidak selamanya apa yang benar itu harus disampaikan apa adanya jika seandainya bisa merusak hubungan antar umat.

Menurut Laura Spencer, ekspertisi di bidang Public Speaking mengatakan bahwa hal yang terpenting dalam berbicara di depan publik adalah untuk memberikan inspirasi yang baik kepada pendengar dan dapat mempengaruhi orang lain dalam membuat perubahan yang positif. Idealnya, pembicara, penceramah atau pengkhotbah harus mampu mengenali siapa pendengarnya sehingga topik dan ajaran yang disampaikan memberi perubahan yang baik dan energi yang positif. Jika pengaruh yang disampaikan keliru, maka pendengar juga akan menerima pengajaran yang keliru pula.

Dampak ujaran kebencian dan pengajaran yang disampaikan oleh pemuka agama berpengaruh besar bagi jemaah yang mendengarnya yaitu ujaran kebencian dan pengajaran tersebut akan tertaman dalam hati jemaah sehingga juga akan ikut melakukan ujaran kebencian bagi yang lainnya. Agama manapun tidak akan terima jika simbol-simbol dan pengajaran agamanya dilecehkan karena agama itu idealnya menuntun manusia untuk lebih dekat dengan Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa. Jangan memandang minoritas lebih rendah dari mayoritas atau mengganggap protes kaum minoritas tidak akan berpengaruh besar. Jika beranggapan demikian, persatuan dan kesatuan bangsa yang beragam ini akan mudah dipecah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…