Belajar dari kisah seorang mantri yang meninggal dunia saat menjalankan tugas di daerah pedalaman Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, apakah bertahan hidup di daerah pedalaman khususnya Papua suatu hal yang tidak mungkin bagi para pendatang?

Melansir Tribunnews.com, petugas medis yang akrab disapa Mantri Patra tersebut bernama asli Patra Marinna Jauhari sudah empat bulan lebih ia bergumul dengan masyarakat di Kampung Oya, Distrik Naikere, Teluk Wondama. Oya merupakan salah satu kampung di pedalaman distrik Naikere yang masih terpencil dan terisolasi. Mantri Patra memilih setia dalam tugas di saat rekan kerjanya pulang dan tak kembali lagi. Dalam kesendirian dia tetap melayani hingga akhirnya ajal menjemput. Petugas medis dari Dinas Kesehatan Teluk Wondama ini berada di Kampung Oya sejak Februari 2019. Patra adalah satu dari sekian tenaga kesehatan yang ditunjuk untuk memberikan pelayanan di daerah pedalaman.

Fakta yang harus dihadapi oleh Mantri Patra saat bertugas di pedalaman Papua adalah masalah infrastruktur yang belum memadai, sarana komunikasi yang tidak lancar, terbatasnya stok makanan dan obat-obatan serta rawannya terkena wabah penyakit akibat lingkungan yang tidak bersih dan nyaman. Hingga akhirnya pemuda berusia 28 tahun itu pun akhirnya jatuh sakit dan meninggal dunia. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa kehidupan di daerah pedalaman (bukan hanya Papua) jauh dari kata bersih dan nyaman. Namun, masyarakat yang tinggal didalamnya cenderung sudah terbiasa dengan keadaan tersebut. Bagaimana dengan para pendatang seperti profesi bidang kesehatan yang sering kali ditugaskan mengabdi di daerah pedalaman?

Butuh Persiapan Penyesuaian Diri

Menurut salah satu buku Gerrit Kuijt, seorang kebangsaan Belanda yang pernah melakukan pelayanan di daerah pelayanan di Papua mengatakan bahwa dia butuh waktu selama 3 bulan untuk mengikuti kursus di Papua Nugini untuk belajar menyesuaikan diri agar mampu bertahan hidup di daerah pedalaman. Gerrit belajar menyesuaikan diri dengan daerah tropis, serta membiasakan diri bekerja tanpa banyak fasilitas sekaligus mempelajari budaya Papua.

Guru Besar dan Dosen Kemiskinan dan Kesenjangan Sosial di FISIP Universitas Airlangga mengatakan bahwa ketika kasus kematian sejumlah penduduk karena kelaparan terjadi di Papua, sejak itu seharusnya tidak lagi terjadi kasus yang sama. Ketika energi bangsa ini lebih banyak terserap untuk menyikapi konflik SARA, pemilihan presiden dan wakil presiden, penanganan kasus korupsi, penyalahgunaan kekuasaan di lembaga pemasyarakatan, dan lain sebagainya, maka isu kemiskinan dan kelaparan sepertinya agak terabaikan. Begitu kasusnya terjadi, biasanya baru kita tersentak dan berusaha responsif, namun nasi sudah telanjur menjadi bubur. Korban telah berjatuhan, dan kita terlambat untuk menanganinya.

Berdasarkan hal tersebut, maka sebaiknya para pendatang yang akan bertugas di daerah pedalaman seperti Papua sebaiknya dilengkapi dengan persiapan seperti latihan penyesuaian diri sampai perbekalan obat-obatan dan makanan yang cukup. Berbeda dengan TNI yang bertugas di pedalaman, memang sudah diperlengkapi untuk tetap tangguh dan kuat hidup di segala medan. Para dokter, perawat serta tenaga medis lainnya harus diberikan pelatihan yang cukup sebelum ditugaskan ke tempat-tempat terpencil dan pedalaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…