Black Campaign dan Negative Campaign, Apa Bedanya?

Dalam presidential election atau pemilihan presiden selalu terdapat banyak cara untuk memenangkannya. Metode kampanye atau pendekatan kepada masyarakat pun dilakukan dengan cara yang berbeda-beda. Dalam masa kampanye ini, paslon biasa mensosialisasikan proyek jangka panjang mereka apabila nanti terpilih menjadi presiden dan wakil presiden. Ada juga yang melakukan pendekatan melalui pengadaan acara sosial yang melibatkan masyarakat dari segala usia. Sembari mengadakan cek kesehatan gratis, makan bersama, sepeda santai atau berkumpul bersama. Sekilas, pada saat kampanye seperti ini kita bisa merasa kalau seluruh capres terasa sama-sama baik karena mau menyatu dengan masyarakat.

Ada cara untuk memenangkan berarti ada cara untuk mengalahkan. Jika dipahami dengan benar, paslon selalu berkompetisi agar citra masyarakat ke paslon tersebut adalah baik. Permasalahannya adalah bagaimana cara membuat agar citra masyarakat ke paslon lainnya buruk? Tentunya ada paslon yang diuntungkan dengan citra buruk masyarakat ke paslon lainnya. Dengan buruknya citra paslon tertentu, otomatis paslon lainnya citranya lebih terangkat. Inilah yang biasa disebut dengan HBH (Hoax, Black Campaign, Hate Speech).

Secara umum yang disebut dengan kampanye hitam adalah menghina, memfitnah, mengadu domba, menghasut, atau menyebarkan berita bohong yang dilakukan oleh seorang calon/ sekelompok orang/ partai politik/ pendukung seorang calon, terhadap lawan mereka. Mahfud MD menyatakan bahwa negative campaign tidak dilarang karena berbeda dengan kampanye hitam atau black campaign. Black campaign adalah penyampaian berita kebohongan tentang paslon terkait sedangkan Negative campaign adalah penyampaian fakta-fakta negatif tentang paslon terkait. Pelaku black campaign bisa dikenakan pidana karena menyebar kebohongan, sedangkan negative campaign bisa dilawan dengan argumen.

BLACK CAMPAIGN UNTUK MENJATUHKAN

Belakangan ini kita melihat sebuah alat kontrasepsi yang dibungkus gambar paslon 1. Ini adalah salah satu contoh black campaign yang memperkeruh suasana pilpres 2019 nanti. Bisa jadi ini dibuat oleh pihak ketiga yang memang sengaja ingin membuat perpecahan dalam pilpres. Gus Ubaid, seperti yang dilansir antaranews.com, mengaku tidak sepakat dan mengutuk cara-cara berpolitik yang tidak sehat yang dapat merusak tatanan demokrasi yang sudah dibangun. Tidak hanya dari kubu 01. Contoh lain black campaign yang menyerang kubu 02 adalah terkait konten dari sebuah tabloid bernama Indonesia Barokah. Berita-berita semacam ini sudah seharusnya kita saring dan tidak perlu kita bagikan ke masyarakat luas.

Para pelaku HBH ini memang membuat perpecahan ditengah suatu kegiatan besar negara, yaitu pemilihan presiden. Memang tidak menutup kemungkinan tiap kubu saling memberikan HBH satu sama lain. Justru yang paling diwaspadai adalah pihak-pihak diluar kedua paslon yang memang sengaja ingin membuat kegaduhan diantara kedua paslon. Untuk saat ini memang tidak mudah untuk menemukan siapa dalang dari kegaduhan ini. Kita berharap agar pihak berwajib mampu memberantasnya dengan sempurna. Namun paling tidak, kita harus konsisten untuk tidak menyebarkan HBH karena menyebarkan berita bohong dan menjatuhkan mampu menimbulkan perpecahan diantara kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Aplikasi PeduliLindungi Tracing Kontak Covid-19 Aman, Tapi Hati-Hati Palsuannya!

Jakarta, RakyatRukun.com – Melansir CNNIndonesia.com tanggal 18 April 2020, Pemerint…