Serangan drone terhadap dua fasilitas perusahaan minyak di Arab Saudi, Aramco, pada Sabtu (14/9) dini hari menyebabkan hilangnya 5,7 juta barel produksi minyak mentah per hari. Serangan ini memangkas 50 persen dari total produksi minyak di negara itu. Situasi inilah yang menjadi pertimbangan bagi PT Pertamina (Persero) RU VI Balongan untuk melindungi kilang minyak dan gas bumi yang dimilikinya dari ancaman serangan pesawat tanpa awak atau drone.

Hal tersebut diwujudkan dengan menjalin sinergi bersama Kementerian Pertahanan RI (Kemhan) melalui kerjasama penggunaan Anti Drone (Drone Jammer) guna mengantisipasi serangan pesawat tanpa awak. Adapun alat yang dipinjamkan berupa Drone Jammer Gun Model dan Static Drone Jammer milik Kemhan yang sudah terbukti mampu menangkal atau mencegah serangan udara melalui drone. Hal ini merupakan tindak lanjut dari arahan Menteri Pertahanan (Menhan), Ryamizard Ryacudu.

Perlindungan Terhadap Objek Vital Negara

Berbagai upaya terus dilakukan untuk melindungi obyek vital milik negara berupa kilang minyak dan gas bumi dari serangan pesawat tanpa awak atau drone. Sesuai dengan amanah Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, penggunaan bersama Anti Drone sebagai komitmen nyata Kemhan dalam menjaga serta melindungi obyek vital nasional (Obvitnas) dari ancaman serangan drone. Sebagai obyek vital nasional, kilang minyak dan gas bumi tersebut bertanggung jawab memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).

Sesuai dengan amanat undang-undang, Obvitnas harus dilindungi dari berbagai ancaman karena menyangkut kemaslahatan rakyat Indonesia. Hal itu mengacu pada Peraturan Menhan RI nomor PM 90 tahun 2015 tentang Pegendalian Pengoperasian Pesawat Udara Tanpa Awak di Ruang Udara yang Dilayani Indonesia, dan Peraturan Pemerintah RI nomor 4 tahun 2018 tentang Pengamanan Wilayah Udara RI.

Dilansir oleh indopos.co.id, Manager HSSE PT Pertamina (Persero) RU-VI Balongan Hartanto berharap kerja sama tersebut merupakan bentuk sinergitas yang baik antara PT Pertamina (Persero) RU VI Balongan sebagai salah satu BUMN dengan Kemhan. Dalam hal upaya pertahanan dan menciptakan situasi keamanan termasuk pada keberlangsungan operasional obvitnas.

Dalam kerja sama penggunaan bersama Anti Drone (Drone Jammer) dengan PT Pertamina (Persero) RU-VI Balongan, delegasi Kemhan dipimpin oleh Kasub Komlek Kemhan Letkol TNI Arh Aries Sugiantoro. Turut hadir Hartanto Manager HSSE PT Pertamina (Persero) RU-VI Balongan yang didampingi oleh Maryono Senior Supervisor Non-Fisik Security PT Pertamina (Persero) RU-VI Balongan serta sejumlah karyawan bagian Pengamanan fisik dan non-fisik PT Pertamina (Persero) RU-VI Balongan.

Serangan Drone Yang Berbahaya

Kerja sama peminjaman pesawat anti drone ini juga tak lepas dari peristiwa serangan drone ke kilang minyak terbesar di dunia yang berada di Arab Saudi beberapa waktu lalu. Akibat serangan tersebut, sekitar 50% pasok minyak dunia mengalami penurunan. Situasi ini juga berdampak terhadap kondisi minyak global dimana harga minyak diprediksi akan naik US$10 per barel karena memangkas lebih dari 5 persen dari pasokan minyak global.

Dampak yang telah ditimbulkan oleh serangan drone tidak dapat dianggap sebagai hal sepele. Sebelumnya diberitakan pada Rabu (18/06/19), aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Changi Singapura tiba-tiba saja harus dihentikan. Bukan tanpa alasan, pemberhentian operasional yang bersifat sementara itu dilakukan setelah diketahui adanya sebuah drone yang memasuki salah satu landasan pacu di bandara tersebut.

Semengerikan itukah drone hingga pihak bandara harus melakukan tindakan yang amat serius seperti itu?

Senjata Anti-Drone

Drone yang pada umumnya kita ketahui hanyalah mainan mirip remote control yang bisa dikendalikan lewat smartphone. Ukurannya pun tidak terlalu besar. Akan tetapi, fungsi dan cakupan benda ini ternyata sangat luas. Salah satunya dipakai untuk militer. Tujuannya sendiri macam-macam, mulai dari pengintaian untuk aksi terorisme, mengganggu lalu lintas udara, sampai dipakai untuk perang.

Dalam ranah militer, keberadaan drone bagi si empunya tentu sangat berguna, tapi bagi musuh hal tersebut adalah sesuatu yang membahayakan. Oleh karenanya, kemudian dikembangkan senjata-senjata anti drone yang bisa melumpuhkan si benda terbang itu. Di beberapa negara, untuk mengantisipasi masuknya drone ke daerah terlarang, petugas keamanan umumnya diberikan fasilitas berupa senjata anti drone.

Kemunculan senjata anti drone sendiri sudah ada sejak beberapa tahun lalu dan kini penggunaannya kian marak di kalangan pihak keamanan suatu wilayah terlarang seperti kawasan militer dan penjara. Semoga saja penggunaan anti drone di Indonesia semakin luas cakupannya. Oleh karena perkembangan teknologi semakin canggih, sistem pertahanan tradisional kesulitan menghadapi drone kecil yang terbang rendah dan lambat.

Apalagi jika yang digunakan adalah beberapa drone sekaligus untuk menyerang tempat seperti Arab Saudi di mana teritorinya luas. Pertahanan menyeluruh hampir tak mungkin, tapi terjadinya serangan ini seharusnya meningkatkan kewaspadaan dan memicu dibuatnya sistem pertahanan terhadap drone yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…