Dilema Boeing 737 Max

Keputusan Boeing untuk mengandangkan semua pesawat Boeing 737 Max dapat menelan biaya miliaran dolar bagi perusahaan tersebut. Sebelumnya Boeing menolak untuk meng-grounded pesawat 737 Max ketika otoritas penerbangan di seluruh dunia mengandangkan pesawat tersebut setelah kecelakaan kedua pesawat 737 Max 8 dalam waktu kurang dari lima bulan. Namun akhirnya Boeing melakukan langkah tersebut setelah Amerika Serikat juga melakukan hal yang serupa. Untuk melakukan grounded pada pesawat 737 Max, rupanya dibutuhkan biaya yang tak sedikit.

Jatuh untuk kedua kali dalam 5 bulan dan ramai-ramai diboikot banyak negara di dunia, kabar seputar Boeing 737 Max disebut Fitch Ratings bisa berdampak luas ke sektor kredit bisnis penerbangan di tahun ini. Meskipun Fitch belum merinci dampaknya, apakah cenderung melemahkan, lembaga pemeringkat itu hanya mengatakan masih menunggu hasil resmi dan akhir investigasi jatuhnya pesawat Ethiopian Air dan Lion Air yang menggunakan produk serupa. Tetapi, Fitch mengatakan terdapat beberapa skenario yang bisa diantisipasi pelaku bisnis. Paling buruk adalah dengan kondisi terus diboikotnya Boeing 737 Max, pembatalan pesanan signifikan, dan sentimen negatif publik terhadap seri Max yang tak henti. 

Skenario terburuk ini bisa melemahkan profil kredit Boeing yang saat ini A-Stable, termasuk profil untuk pemasoknya dan tekanan signifikan untuk emiten maskapai kecil lainnya. “Efek terhadap utang yang dijaminkan maskapai bisa beragam, dengan kesepakatan-kesepakatan penjualan potensial yang kini di tengah ancaman, diimbangi dengan valuasi yang tinggi untuk model alternatif yang akan gantikan seri Max, kami harap tidak sampai berdampak material pada peringkat pinjaman Fitch,” ujar Fitch dalam keterangan tertulisnya. Fitch belum mengambil aksi terkait perubahan peringkat karena masih memantau perkembangan kabar. Namun, jika dua kecelakaan yang terjadi dalam 5 bulan ini berkorelasi, Fitch memperkirakan bisa memperburuk situasi. 

Dilansir dari CNN, perusahaan riset Melius Research and Jefferies memperkirakan biaya untuk mengandangkan semua 737 pesawat Max bisa mencapai antara US$ 1 miliar sampai US$ 5 miliar. Perkiraan tersebut didasarkan pada potensi grounded selama tiga bulan. Salah satu biaya besar yang harus ditanggung Boeing adalah kompensasi bagi maskapai yang kehilangan pendapatan karena tak bisa melakukan penerbangan. Langkah tersebut bukan hal yang pertama kali dilakukan oleh pihak Boeing. Pada 2013, Boeing juga meminta semua maskapai untuk tidak menerbangkan pesawat seri 787 Dreamliner karena insiden baterai pesawat yang terbakar.

Tanggapan Pemerintah Indonesia Terhadap Kasus Boeing 737 Max

Pemerintah Indonesia memutuskan melarang terbang sementara pesawat Boeing 737 Max di Indonesia setelah peristiwa jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines ET-302.

Kebijakan ini, menurut Kementerian Perhubungan, mulai berlaku pada Selasa (12/03) untuk memastikan bahwa pesawat yang beroperasi di Indonesia dalam kondisi layak terbang. Kementerian Perhubungan saat ini tengah menjalani aturan dari otoritas penerbangan Amerika, Federal Aviation Administration (FAA) untuk mengandangkan Boeing 737 Max 8. Kemenhub menyebut hal itu juga demi faktor keamanan.

Menurut Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kementerian Perhubungan Avirianto, Kementerian perhubungan sebelumnya juga telah memberikan instruksi untuk mengandangkan Boeing 737 Max 8 sambil dilakukan inspeksi. Pemeriksaan dilakukan sambil menunggu surat rekomendasi dari FAA. Avirianto juga mengatakan kini FAA telah menerbitkan Continuous Airworthiness Notification to the International Community (CANIC). Ia menegaskan, berdasarkan surat rekomendasi itu, pihaknya melarang Boeing 737 Max 8 mengudara. Inspeksi pun diberhentikan sambil menunggu arahan selanjutnya dari pihak Boeing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Pegawai Rutan Makassar Mengikuti Upacara Gabungan Dalam Memperingati Hari Bela Negara

Jakarta (RakyatRukun.com) – Memperingati Hari Bela Negara, Kepala Rutan Kelas I Maka…