Tidak ada pekerjaan yang mudah, pun juga menjadi seorang jurnalis atau wartawan. Selain dibutuhkan komitmen dan passion untuk menyalurkan berita yang akurat dan layak dikonsumsi masyarakat luas, wartawan juga dituntut untuk memiliki keberanian. Berbagai resikopun harus dihadapi jika mendapatkan tugas meliput ke daerah yang rawan.

Reporters Without Borders (RSF) mengeluarkan laporan yang berisi jumlah jurnalis yang hilang, ditahan, disandera dan tewas di seluruh dunia sepanjang 2017. Berdasarkan laporan tersebut, bisa disimpulkan bahwa jurnalis masih merupakan salah satu pekerjaan yang paling memiliki risiko.

Belum lama ini, jurnalis asal Indonesia mengalami kejadian tragis saat meliputi aksi demonstrasi di luar negeri. Veby Mega terkena tembakan peluru karet di mata kanan saat melakukan liputan pada aksi demonstrasi di daerah Wan Chai, Hong Kong, Ahad (29/9) waktu setempat. Peluru merusak kacamata pelindungnya. Video insiden itu menunjukkan polisi menembakkan peluru karet ke sekelompok peserta aksi dan wartawan di kaki jembatan di wilayah Wan Chai. Akibat kejadian ini, dokter menyatakan bahwa mata kanannya mengalami buta permanen. Padahal saat meliput, Veby mengenakan helm dan rompi berwarna mencolok yang mudah dikenali. Di rompi dan helm tersebut terdapat tulisan ‘Pers’.

Jadi, bagi Anda yang memiliki cita-cita bekerja dalam bidang ini harus tahu risiko apa saja yang akan didapatkan saat terlibat dalam wilayah pekerjaan ini. Seperti yang dilansir oleh idntimes.com berikut resiko yang dihadapi oleh para jurnalis ini:

1. Pekerjaan yang dekat dengan risiko kematian

Saat melakukan tugas liputan di tempat yang sedang terjadi kerusuhan atau bencana alam, kamu harus siap menghadapi hal-hal yang tidak terduga, termasuk kematian. Nyatanya, bukan hanya tentara yang rela mati bagi negara. Wartawan juga harus rela mati demi berita.

2. Bekerja dalam industri yang bersifat menuntut

Bukan seperti di kantor dengan jam kerja yang pasti. Sebagai wartawan kamu akan dituntut selalu siap dan siaga. Kapanpun, dimanapun, apapun yang kamu lakukan, bagaimana perasaanmu, semua itu harus ditinggalkan demi mendapat berita eksklusif dari tempat kejadian langsung. Wartawan itu bekerja pada industri yang sifatnya menuntut. Menuntut waktu, kecepatan dan pastinya tenaga.

3. Jarang menikmati akhir pekan

Bagi seorang wartawan, akhir pekan bisa jadi bukanlah sebuah akhir pekan. Kamu harus selalu siaga dan siap meliput bahkan di akhir pekan. Walau kelihatannya hal ini melelahkan, tapi kamu yang sudah passion, pasti justru senang harus terus bekerja. Bahkan di akhir pekan sekalipun.

4. Siap punya banyak musuh

Karena pekerjaan wartawan adalah memberitakan, maka pastinya bukan hanya berita yang baik-baik saja. Berita buruk juga. Hal ini memicu adanya pro kontra dari berbagai macam pihak yang membaca ataupun mendengarkan berita yang kamu sampaikan. Dari situ, kamu bakal punya banyak musuh yang merasa tidak setuju dengan apa yang kamu tulis atau beritakan.

5. Dikejar deadline hingga stres

Wartawan itu selalu berada dalam naungan deadline tiada henti. Tekanan macam ini pastilah bikin stres dan sebal setengah mati. Kalau ada kejadian yang harus saat itu juga diliput, media tempatmu bekerja pasti berlomba dengan kecepatan untuk jadi media pertama yang menerbitkan. Di saat seperti inilah kamu akan akrab banget sama yang namanya stres.

6. Jadwal acara yang tak tentu

Sebagai wartawan, kamu akan dituntut untuk selalu siap siaga. Janjian dengan teman bisa jadi hal yang mustahil kalau ternyata saat itu ada kejadian yang harus kamu liput. Jadwalmu tidak akan menentu dalam sehari. Kamu akan terkejut sendiri dengan selalu berubahnya jadwal yang telah kamu rencanakan di awal.

7. Wartawan juga harus flexibel, mudah berpindah-pindah jika ada kejadian

Buat kamu yang tidak betah atau tidak bisa bekerja dengan tempat yang berbeda setiap harinya, wartawan sepertinya bukan pekerjaan yang cocok untukmu. Pencari berita menuntutmu untuk fleksibel, aktif dan tanggap. Dimanapun kapanpun harus meliput, kamu harus siap bagaimanapun kondisinya. Dan juga, kamu harus segera menuliskan berita tersebut secepat yang kamu bisa.

8. Penolakan itu hal yang biasa, namun kamu perlu cara untuk mengakalinya

Semua berita berhubungan dengan narasumber. Saat inilah kamu akan akrab dengan penolakan-penolakan yang tidak bisa kamu paksa. Kamu harus memutar otak dan mencari narasumber lain untuk menghasilkan berita yang terpercaya. Sebagai wartawan, kamu harus kebal dengan penolakan ini.

Selain berbagai resiko diatas, para jurnalis yang bertugas di daerah konflik kemungkinan akan mengalami kekerasan, penyanderaan, dipenjara, bahkan hilang tanpa tahu keberadaannya, serta resiko kematian yang selalu mengintai. Setelah mengetahui semua risiko ini, bagi Anda yang masih ingin menjadi seorang jurnalis atau wartawan, maka jangan berhenti dan terus kejar cita-cita tersebut. Jadilah wartawan yang profesional. Yang bukan hanya modal suara tapi juga pengetahuan. Buatlah negeri ini lebih berbobot, dengan menyebarkan berita yang butuh diketahui semua orang, bukan hanya yang ingin didengar saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Aplikasi PeduliLindungi Tracing Kontak Covid-19 Aman, Tapi Hati-Hati Palsuannya!

Jakarta, RakyatRukun.com – Melansir CNNIndonesia.com tanggal 18 April 2020, Pemerint…