Eggi Sudjana Tersangka Makar, Demo KPU Batal

Hari ini (9/5), Eggi Sudjana ditetapkan oleh Polda Metro Jaya sebagai tersangka makar. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) istilah ‘makar’ memiliki tiga arti, yaitu akal busuk, tipu muslihat, perbuatan (usaha) dengan maksud hendak menyerang (membunuh) orang, dan perbuatan (usaha) menjatuhkan pemerintah yang sah. Dilansir Kompas.com (9/5), Penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya menetapkan Eggi Sudjana sebagai tersangka dugaan makar atas seruan people power, sebelum muncul ke publik memimpin massa mendemo KPU dan Bawaslu, siang ini, Kamis (9/5/2019).

Adapun, Eggi dilaporkan oleh Suryanto, relawan Jokowi-Ma’ruf Center (Pro Jomac). Laporan tersebut teregister dengan nomor: LP/B/0391/IV/2019/BARESKRIM tertanggal 19 April 2019 dengan tuduhan makar. Laporan tersebut telah dilimpahkan ke Polda Metro Jaya. Eggi telah dimintai keterangan sebagai saksi pada 26 April 2019. Dugaan makar yang dituduhkan kepada Eggi dianggap melanggar undang-undang ITE.

Sebelumnya Eggi Sudjana juga telah dilaporkan oleh Dewi, relawan Jokowi-Ma’ruf seperti dilansir Merdeka.com (24/4) lalu. Dalam laporan bernomor LP/2424/IV/2019/PMJ/Dit. Reskrimsus, Eggi disangkakan dugaan pemufakatan jahat atau makar dan dugaan melanggar UU ITE Pasal 107 KUHP junto Pasal 87 KUHP atau Pasal 28 ayat 2 junto Pasal 45 ayat 2 UU RI nomor 19 tahun 2016 tentang informasi dan transaksi elektronik. Dewi membawa barang bukti berupa potongan video seruan Eggi Sudjana. Dalam laporan itu, Dewi mengaku baru tahu seruan itu melalui media sosial. Ia melihatnya video tersebut pada 17 April lalu setelah beberapa menit quick count Pilpres. Di situ ada orasi Eggi Sudjana yang mengajak untuk mengadakan people power. Dewi juga berencana buat laporan kepada Amien Rais. Namun batal karena Dewi tak membawa bukti-bukti.

Resmi menjadi tersangka makar, diketahui pada hari Kamis (9/5/2019), Eggi Sudjana bersama mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayor Jenderal (Purnawirawan) Kivlan Zen menginisiasi aksi unjuk rasa di gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Bawaslu RI, Jakarta Pusat. Eggi mengatakan, unjuk rasa tersebut untuk menuntut KPU dan Bawaslu transparan.

“(Tuntutannya) dibongkar kecurangannya, itu yang kami perjuangkan. Kecurangannya itu sudah masif, terstruktur, dan sistematis,” ujar Eggi saat dikonfirmasi Kompas.com, Rabu (8/5/2019).

Dikabarkan massa unjuk rasa telah berkumpul di Lapangan Banteng sejak pukul 13.00 WIB. Namun, aksi tersebut batal dilaksanakan karena tidak mengantongi izin unjuk rasa. Dikutip dari Kompas.com (9/5), Kapolres Jakarta Pusat Kombes Pol Harry Kurniawan menegaskan, massa yang berkumpul di Lapangan Benteng belum mengantongi izin dari pihak kepolisian seputar kegiatan. Massa aksi pun menyadari hal itu sehingga sepakat untuk membubarkan diri. Pukul 14.45 WIB, massa sudah sepenuhnya bubar.

Di depan Gedung Bawaslu, Jakarta Pusat, Eggi Sudjana dan Kivlan Zen bersama Gabungan Elemen Rakyat untuk Keadilan dan Kebenaran (GERAK) berunjuk rasa menuntut penyelenggara pemilu mendiskualifikasi paslon nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Namun upayanya menemui pimpinan Bawaslu gagal karena tidak diizinkan aparat keamanan.

Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) Eggi Sudjana memastikan akan kembali menggelar aksi massa kepung KPU dan Bawaslu pada Jumat (10/5) usai salat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…