Pemandangan gedung bertingkat di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Kamis (14/3). Bank Indonesia (BI) optimistis ekonomi Indonesia akan lebih baik di tahun 2019. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta – Situasi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China kini kian memanas. Hal ini turut berdampak terhadap kegiatan ekonomi negara-negara dunia lainnya, termasuk Indonesia.

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) bahkan memperkirakan, gejolak perang dagang bisa membuat pertumbuhan ekonomi RI meleset dari target yang telah ditetapkan dalam Rancangan APBN (RAPBN) 2020 sebesar 5,3 persen, yakni hanya bergerak di angka 5 persen.

Ekonom INDEF, Bhima Yudhistira mengatakan, perang dagang AS-China memiliki dampak cukup besar yang mempengaruhi kinerja ekspor komoditas perkebunan, tambang dan energi.

Pergerakan harga komoditas juga masih terpantau rendah lantaran perang dagang turunkan permintaan. 

“Ini masalah serius dan bisa ciptakan kiamat bagi neraca dagang kita. Sampai bulan April 2019, total ekspor migas dan non-migas sudah turun -9.39 persen dibanding periode yang sama tahun lalu,” ujar dia kepada Liputan6.com, Kamis (13/6/2019).

Di sisi investasi, dia menambahkan, eskalasi perang dagang turut menambah risiko berinvestasi di negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Kita bisa cek data BKPM menunjukkan, realisasi investasi asingnya anjlok cukup dalam selama 2018. Apalagi trade war berlanjut hingga 2020,” keluh dia.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, Bhima beranggapan, itu dapat membuat pertumbuhan ekonomi negara pada 2019 tertahan di angka 5 persen.

Dia pun mewanti-wanti eskportir Indonesia yang dapat terkena imbas pencabutan fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) oleh AS.

“Maka dari itu, INDEF prediksi pertumbuhan ekonomi tahun ini mentok di 5 persen atau dibawah asumsi makro APBN 5.3 persen. Kita harus bersiap hadapi situasi terburuk karena perang dagang ternyata tidak hanya menyasar China, tapi juga Meksiko, India dan Turki,” imbuhnya.

“Bukan tidak mungkin Trump akan sasar Indonesia dengan revisi fasilitas GSP (Generalized System of Preferences) yang selama ini eksportir indonesia nikmati,” dia menandaskan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…