El Clasico Jokowi Vs Prabowo. Siapa Pemenangnya?

Pada Selasa (09/04) pukul 20.00 WIB, ILC (Indonesia Lawyers Club) baru saja mengadakan debat yang bertemakan “El Clasico Jokowi VS Prabowo: Siapa pemenangnya?”. Jelang Pilpres 2019 ini, siapakah yang berhasil merebut hati rakyat? Debat ini melibatkan narasumber dari kedua kubu. Kubu 01 diwakilkan oleh Budiman Sudjatmiko, Razman Arif, Dini Purwono, dan Maruarar Sirait sedangkan kubu 02 diwakilkan oleh Ferdinand Hutahaen, Dahnil Anzar, Haikal Hassan, dan Said Didu. Perdebatan berlangsung sengit dan terjadi saling tuding antar dua kubu.

Sesi ini kembali dipimpin oleh Karni Ilyas yang sering disebut sebagai Presiden ILC. Topik-topik hangat yang menjadi buah bibir masyarakat Indonesia mengenai pemilu kali ini dibahas di forum. Salah satu topik yang dibahas adalah mengenai elektabilitas terhadap lembaga survey. Kali ini, yang menjadi perdebatan bukan mengenai hasil lembaga survey tentang elektabilitas calon jelang pencoblosan melainkan elektabilitas terhadap lembaga survey itu sendiri.

Pengamat Politik dan Pakar Komunikasi, Effendi Gazali menantang pemirsa yang tengah menyaksikan ILC TVOne secara langsung di studio maupun lewat layar kaca. Tantangan itu berupa pertanyaan terkait seberapa yakin seseorang terhadap lembaga-lembaga survei yang membiayai survei secara mandiri. “Berapa dari anda di studio ini percaya lembaga-lembaga survei kita sedang membiayai sendiri setiap kali melakukan survey? Ada yang percaya di studio ini?” ujarnya.

Tidak cukup di studio, Effendi Ghazali langsung bertanya kepada penonton yang mungkin menyaksikan lewat layar kaca. “Dan yang di rumah ada yang percaya?” timpalnya. Namun, tidak ada satu orangpun yang merespon dan mengiyakan di studio. Bahkan, Karni Ilyas tampak tertawa kecil ketika Effendi Ghazali menyanyakan hal itu. Effendi menambahkan jika ada tendesi saling menipu antara masyarakat dan lembaga survey. Dia menilai bahwa tidak sedikit publik merasa ada permainan tipuan yang dilakukan lembaga survei. Oleh karena itu, ketika lembaga survey tersebut bertanya kepada masyarakat maka mereka akan menjawab dengan tipuan juga. Secara tidak langsung pernyataan yang disampaikan oleh Effendi menilai hasil dari lembaga survey tidak valid.

Delapan hari menjelang pencoblosan pada Pilpres 2019, berbagai lembaga survei banyak yang merilis elektabilitas kedua pasangan calon di pilpres 2019. Jika berkaca dari hasil survei, maka hasil survei bisa jadi indikator penentuan pemenang Pilpres 2019. Tentu saja dengan catatan jika survey berjalan sebagaimana biasanya dan sebagaimana adanya tanpa intervensi kepentingan pribadi. Sebagian besar lembaga survey terkemuka menyatakan pasangan 01 yang akan menang. Dan sangat sedikit lembaga yang menyatakan pasangan 02 akan menang.

Berikut hasil survey dari beberapa lembaga yang Rakyat Rukun rangkum:

1. Lembaga Indikator Politik Indonesia

Direktur Ekselutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi mengatakan terdapat selisih 18 persen antara 01 dan 02. Jokowi-Ma’ruf mendapat suara sebesar 55,4 persen dan Prabowo-Sandiaga 37,4 persen, Rabu (3/4/2019). Sementara responden yang menjawab tidak tahu atau belum menentukan pilihan ditemukan sebanyak 7,2 persen. Survei ini dilakukan 22-29 Maret 2019, yang melibatkan 1.220 responden melalui wawancara tatap muka dengan margin of error 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

2. LSI

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) merilis hasil survei pada 1200 responden dengan metode multistage random sampling, pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin tetap menggungguli pasangan Prabowo-Sandiaga.

Penelisi LSI, Ardian Sopa menyebutkan elektabilitas Maret 2019, pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin ‎sebesar 56,8 persen-63,2 persen. Prabowo Sunianto-Sandiaga Uno 36,8 persen-43,2 persen. Pilpres 2019 mendekati garis finis, pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin unggul telak dibandingkan dengan pasangan Prabowo-Sandiaga, Selasa (2/4/2019).

Ardian Sopa menuturkan tampilan angka elektabilitas masing-masing capres dibuat dalam bentuk range elektabilitas, karena LSI telah memperhitungkan angka elektabilitas masing-masing capres dengan margin of error survei dan asumsi golput yang terjadi secara proporsional. Diketahui survei ini dibiayai sendiri oleh LSI Denny JA. Survei dilakukan di 34 provinsi di Indonesia dengan metode multistage random sampling dan margin of error survei sebesar 2,8 persen.

3. Indobarometer

Peneliti Indo Barometer, Hadi Suprapto Rusli mengatakan pasangan no urut 01, Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin masih tetap unggul dengan selisih 18,8 persen jika dibandingkan dengan elektabilitas pasangan Prabowo-Sandiaga. “Dengan simulasi gambar pasangan calon Presiden dan wakil Presiden 2019 yang ditanyakan kepada masyarakat, seandainya pilpres dilakukan hari ini, maka pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin diprediksi menang. Paslon 01 memiliki elektabilitas sebesar 50,8 persen, sedangkan paslon 02 memiliki elektabilitas sebesar 32 persen, Selasa (2/4/2019).

Rusli mengatakan, terdapat 17,2 persen masih merahasiakan pilihannya atau belum menentukan pilihannya terhadap pasangan calon presiden dan calon wakil presiden. Selain itu, Indo Barometer juga memproyeksikan hasil survei Maret 2019 ke 17 April 2019 (yang tidak menandai surat suara dibagi proporsional). Hasilnya pasangan Jokowi – Ma’ruf masih unggul dibadingkan dengan Prabowo-Sandi. Pasangan Jokowi – Ma’ruf unggul dengan proyeksi 61,35 persen. Sementara Prabowo -Sandi 38,65 persen.”

4. Polmatrix

Survei yang dilakukan oleh Polmatrix pada 20-25 Maret 2019, dengan jumlah 2000 responden ini menunjukan bahwa Paslon nomor urut 01, Joko Widodo-Ma’ruf Amin masih unggul. Direktur Riset Polmatrix Indonesia Dendik Rulianto mengatakan, Jokowi-Ma’ruf 54,1 persen, Prabowo-Sandi sebesar 34,0 persen sisa 11,9 persen yang belum memutuskan pilihan. Dendik mengatakan jika diekstrapolasikan maka Jokowi-Ma’ruf berpeluang merebut 61,4 persen suara. Prabowo-Sandi mendapat sisanya yaitu 38,6 persen, Senin (1/4/2019).

Berdasarkan hasil dari beberapa lembaga survey terkemuka rasanya sulit bagi Prabowo-Sandi untuk dapat mengejar elektabilitas Jokowi-Ma’ruf jika mengingat pilpres hanya tinggal 17 hari lagi, Jika tidak ada perubahan berarti dan semuanya berjalan normal maka diprediksi Jokowi-Ma’ruf menang telak atas Prabowo-Sandi. Menurut Dendik, yang dapat dilakukan kubu Prabowo-Sandi adalah mempersempit jarak elektabilitas. Jika seluruh suara undecided voter mampu direbut, Prabowo-Sandi berpeluang meraih hingga 45,9 persen, atau sedikit di bawah perolehan suara pada Pilpres 2014.

Untuk hasil lembaga-lembaga survei hari ini, Effendi Gazali mencontohkan ketidakpercayaan hasil lembaga surevi pernah terjadi di Amerika Serikat. Menurutnya, kita tidak mesti berpegang kepada lembaga survei terkenal, tapi lembaga survei kecilpun bisa akurat jika mampu menangkap apa yang sedang ada dalam masyarakat. Dia mengambil contoh pada Pilkada DKI Jakarta. Lembaga-lembaga survei mengatakan hasilnya berada dalam margin of error, ternyata kemudian Anies Baswedan itu menang dengan selisih 15,9 persen. Contoh lainnya pada Pilkada Jawa Tengah, ada lembaga survei memberikan Sultan Said dan Ida hanya 13 persen, namun hasilnya mencapai 41,22 persen. Kemudian di Jawa Barat, ada yang memberikan Sudrajat Said sebesar 8 persen, tapi hasil akhirnya 28,74 persen.

Namun kembali lagi pada pengalaman dan kecakapan lembaga survey tersebut. Sebab, masalah keberpihakan lembaga tersebut merupakan problem etika yang seharusnya menjadi tanggung jawab asosiasi profesi. Oleh karena itu, peran asosiasi atau perkumpulan lembaga survei sangat penting untuk menerapkan mekanisme kontrol terhadap lembaga-lembaga survei yang tergabung di dalamnya. Peran lembaga survei dalam keterlibatan politik cukup besar untuk mengetahui seberapa besar pemilihan langsung menggambarkan realitas demokrasi di Indonesia. Oleh sebab itu, selain peran dari asosiasi profesi, masyarakat juga harus turut mengawasi tiap hasil survey yang dikeluarkan lembaga-lembaga tersebut. Salah satunya, dengan melihat rekam jejak masing-masing pendiri lembaga survei yang dimulai dari rekam jejak pendidikannya hingga seperti apa preferensi politiknya.

Dengan begitu, publik tidak akan dirugikan dengan lembaga survei yang memang terbukti memiliki keberpihakan terhadap salah satu calon presiden atau wakil rakyat yang tengah bertarung dalam Pemilu. Sepanas apapun pertarungan antar kedua kubu menjelang Pilpres baik dari segi survey lembaga maupun kampanye, semuanya harus berakhir damai. Masyarakat hendaknya menerima keputusan terhadap siapapun yang akhirnya terpilih dengan tetap mendukung pembangunan negara ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Pegawai Rutan Makassar Mengikuti Upacara Gabungan Dalam Memperingati Hari Bela Negara

Jakarta (RakyatRukun.com) – Memperingati Hari Bela Negara, Kepala Rutan Kelas I Maka…