Bermain permainan (game) adalah hal yang sangat membahagiakan bagi sebagian orang terutama kalangan muda. Dahulu kala sebelum gadget begitu populer semua anak-anak bermain permainan tradisional. Meskipun jenis permainannya sangat sederhana, nyatanya mampu memberikan kebahagiaan tersendiri. Permainan jenis ini bisa membuat akrab satu sama lain, melatih kerjasama, kreatifitas, dan perkembangan otak dalam memecahkan masalah. Nyatanya permainan tradisional dinilai lebih banyak memberikan manfaat dan pembelajaran.

Namun, seiring dengan kemajuan teknologi anak-anak yang masih memainkan permainan tradisional hanya bisa ditemukan di daerah pinggiran atau desa saja. Itupun tidak banyak, hanya sebagian saja. Saat ini masa kecil anak Indonesia banyak terenggut oleh teknologi yang modern. Game modern dapat dimainkan tanpa bertemu langsung dengan teman sepermainan menjadikan pamornya kian meroket. Game yang bisa diakses melalui gadget dan terkoneksi dengan jaringan internet (online)  dapat dimainkan dimana saja, kapan saja, dan dalam kondisi apapun. Permainan daring (game online) ini juga memiliki berbagai macam jenis permainan. Mulai dari game yang bertemakan edukasi, bercocok tanam, kehidupan sehari-hari hingga olahraga. Selanjutnya, apakah kaum milenial sekarang memperoleh manfaat dari hadirnya game online tersebut?

eSport Bisa Jadi Penghasil Lahan Lapangan Kerja

Baru-baru ini sempat populer istilah eSport saat dibahas dalam debat capres 2019 Sabtu (13/04/19) lalu. Melalui debat ini pemerintah seolah-olah mulai membuka jalan bangkitnya cabang olahraga elektronik di Indonesia. Namun, tentu saja ini tidak akan menjadi mudah untuk membuka eSport di Indonesia. Mengingat mayoritas orang Indonesia saat ini masih menganggap eSport hanyalah permainan game semata tanpa adanya sisi olahraga.

Dilansir dari indosport.com, salah satu Youtuber terkenal di Indonesia, Ericko Lim pun angkat bicara. Ericko justru menganggap sebaliknya, eSport bisa menjadi investasi dengan penghasilan yang cukup memuaskan.

“Presiden aja bilang jika eSport ini memiliki potensi untuk perputaran uang sebanyak ratusan triliun dalam waktu singkat, sehingga para gamers masa kini hidup lebih berkecukupan,” ujar Ericko melalui kanal Youtube pribadinya.

Pria berusia 24 tahun ini mengungkapkan bahwa data yang sudah disimpulkan merupakan nyata. Sehingga tidak mengherankan jika gamergamer di Indonesia saat ini menjadi profesi yang menjanjikan. Seperti Rizky Zeus Faidan yang aru-baru ini membuat bangga Indonesia. Rizky memenangkan pertandingan eSport PES kelas dunia dan membawa pulang hadiah ratusan juta rupiah. Tentunya hal ini menunjukkan sudah bukan saatnya lagi bermain video game dianggap sebagai kegiatan tidak berfaedah.  

Ericko juga mengungkapkan untuk menggeluti eSport bukan hanya sebagai seorang atlit. Ada berbagai posisi yang juga bisa digeluti selain menjadi seorang atlit. Berbagai Profesi itu bisa memberikan keuntungan yang menjanjikan. Profesi ini berupa Caster atau komentator, pembawa acara, coach atau pelatih, event organizer atau bahkan bisa menjadi seorang jurnalis berita khusus untuk eSport.

Peluang dan Perkembangan Industri eSport Indonesia di Tahun 2019

Berdasarkan laporan yang dirilis Newzoo, pada tahun 2019 ini nilai pasar game global akan mencapai angka US$152 miliar (sekitar Rp2,15 kuadriliun), meningkat 9,6 persen dibanding tahun sebelumnya. Indonesia sendiri menjadi salah satu pasar video game terbesar di Asia Pasifik, dengan angka mencapai US$941 juta (sekitar Rp13 triliun). Asia Pasifik merupakan wilayah dengan pertumbuhan pasar game paling tinggi di dunia. Apalagi, ada Cina dan India yang juga memiliki jumlah pemain video game sangat besar.

Melihat angka tersebut, bukan hal mengherankan apabila industri e-sport juga ikut berkembang pesat. eSport adalah permainan video game yang bersifat kompetitif. Apabila sebelumnya eSport identik dengan game untuk PC dan konsol, kini telah menjamah ranah game mobile.

Salah satu indikasi industri e-sport tanah air makin berkembang adalah kian menjamurnya kompetisi lokal yang bermunculan di berbagai kota. Skalanya pun beragam, mulai dari tingkat kota hingga provinsi. Sebut saja Battle of Fridays yang diselenggarakan bersama Tokopedia. Selain itu ada juga Piala Presiden 2019 lalu yang didukung oleh Blibli, atau Dunia Games League yang digagas Telkomsel.

Tantangan Industri E-Sport di Indonesia

Perkembangan industri eSport Indonesia ternyata juga tak lepas dari berbagai kontroversi. Terutama sudut pandang orang Indonesia yang banyak menganggap game tidak ada sangkut pautnya dengan olahraga dan lebih membuat orang malas untuk melakukan kegiatan produktif seperti bekerja dan belajar.

Masih banyak warga di Indonesia yang menganggap eSport itu hanya merugikan bagi diri sendiri. Hal ini memang benar karena di Indonesia sendiri tidak ada yang tahu mengenai pentingnya waktu. Penggunaan waktu yang berlebihan justru menjadi contoh yang buruk bagi eSport itu sendiri.

Menurut Ericko seperti yang dilansir dari indosport.com, dengan tidak memperhitungkan waktu saat menjalani eSport, maka orang tersebut juga menjadi kehilangan tempat di dunia nyata. Kesimpulannya, Ericko menyarangkan bila ingin menjadi seorang yang menggeluti eSport harus dapat mengatur waktu. Kapan waktu untuk bermain game dan waktu lainnya terfokus pada dunia nyata. Selain itu, Youtuber dengan subsciber lebih dari dua juta ini mengatakan juga perlunya berprestasi di dunia nyata untuk menghilangkan pandangan negatif mengenai eSport di Indonesia.

Dukungan pemerintah

Pertumbuhan industri eSport di Indonesia mendapat respons positif dari pemerintah. Salah satunya adalah dengan mendirikan Indonesia eSport Association (IeSPA) sebagai wadah resmi komunitas di Indonesia. IeSPA akan membantu para pemain video game mengembangkan kemampuan dalam dunia kompetitif.

Tak hanya itu, lembaga pemerintah juga mulai aktif menginisiasi kompetisi e-sport. Sebut saja Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Komite Olimpiade Indonesia (KOI), Federasi Olahraga Masyarakat Indonesia (FORMI), juga Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo). Dari mereka lahir kompetisi seperti Piala Presiden, Youth National eSports Championship, dan juga IEC University Series 2019.

Dukungan pemerintah memberi legitimasi bahwa eSport kini merupakan salah satu cabang olahraga yang diakui. Bahkan, eSport sudah mulai dilombakan pada Asian Games 2018 lalu, serta SEA Games 2019 yang akan datang. Namun, menurut Yohannes Siagian, kepala sekolah SMA 1 PSKD yang memiliki program pembinaan di bidang eSport, dukungan pemerintah harus berada di porsi yang pas agar ekosistemnya bisa terbentuk secara alami. Intervensi terlalu dalam justru membahayakan ekosistem eSport untuk jangka panjang.

Cara Jokowi Merangkul eSport

Menurut catatan Jokowi yang disampaikan lewat sesi tanya jawab Debat Pilpres 2019, industri game memiliki peluang dan kontribusi besar untuk ekonomi Indonesia. Industri memiliki nilai ekonomi yang tumbuh dengan pesat, disebutkannya pada tahun 2017 perputarannya mencapai Rp 11-12 triliun dimana per tahunnya bertumbuh 30-35%.

Ia juga menambahkan anggaran-anggaran iklan dengan jumlah yang besar sudah mulai bergeser ke industri game ini, sehingga pemerintah harus merespons dengan cepat dan memberikan regulasi-regulasi yang baik. Hal ini merupakan sebuah profesi yang digemari anak-anak, yakni menjadi gamer. Oleh sebab itu pemerintah siap mendukung mereka dengan membangun infrastruktur digital, akses broadband dengan kecepatan tinggi, Palapa Ring, hingga 4G.

Calon Presiden nomor urut 01 ini juga menambahkan untuk membuat para gamer nyaman dikembangkan pula ekosistem agar mereka juga bisa mengembangkan game sendiri, sehingga tak cuma jadi konsumen game asing. Termasuk membuat tempat latihan sehingga nantinya para gamer lokal bisa menjadi pemain profesional dunia.     (jsn/ash)

Dukungan dari pemerintah yang paling dibutuhkan adalah support pembangunan infrastruktur dan regulasi yang mendukung eSport berkembang. Misalnya pengembangan jaringan internet di Indonesia dan pengakuan eSport sebagai bidang usaha yang sah. Contoh beberapa regulasi yang bisa menunjang eSport untuk tumbuh adalah mempermudah proses pembuatan visa kerja untuk pemain, pelatih, atau pekerja asing di ranah eSport. Upaya positif itu tentu akan menghadirkan pertukaran informasi dan wawasan yang berdampak baik bagi ekosistem. Jika eSport didukung dengan tepat maka akan menjadi suatu sektor yang sangat menguntungkan bagi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Aplikasi PeduliLindungi Tracing Kontak Covid-19 Aman, Tapi Hati-Hati Palsuannya!

Jakarta, RakyatRukun.com – Melansir CNNIndonesia.com tanggal 18 April 2020, Pemerint…