Filosofi Sapu Lidi Ala Jokowi

Kampanye akbar yang dilakukan oleh Calon Petahana 01 Jokowi di Kota Tangerang (7/4) menyita perhatian masyarakat yang hadir. Jokowi dan para pendukungnya membawa sapu lidi saat melakukan kampanye. Dikutip dari IDNtimes.com (7/4), Jokowi mengatakan bahwa sapu adalah untuk membersihkan hoaks, untuk membersihkan hasutan-hasutan, untuk membersihkan korupsi. Simbol sapu merupakan simbol kebersihan. (Baca juga : Meriahnya Kampanye Fun Jokowi di Tangerang) Dalam aksi sapu lidi tersebut, Jokowi menekankan kepada seluruh pendukungnya agar jangan termakan berita bohong atau hoaks yang semakin marak jelang Pilpres 17 April 2019 mendatang.

Sejatinya sapu lidi memang biasa digunakan untuk membersihkan halaman rumah, bukan di dalam rumah. Sapu lidi digunakan untuk membersihkan jalanan kota dan mampu menjangkau lebih banyak sampah dibandingkan sapu ijuk. Strukturnya yang keras dan tajam mungkin akan bisa melukai jika dibenturkan kepada seseorang. Dengan demikian sapu lidi terlihat lebih keras dibandingkan sapu ijuk. Artinya, filosofi sapu lidi ala Jokowi ini menggambarkan bahwa masyarakat harus keras dan tegas dalam membersihkan hal-hal yang kotor seperti informasi hoaks, hasutan-hasutan dan korupsi yang ada di lingkungan sekitar.

Filosofi sapu lidi juga diusung oleh Bung Hatta untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan bangsa. Bung Hatta menjelaskan secara sederhana tentang filosofi ‘sapu lidi’: lidi kalau berdiri sendiri mudah dipatahkan, tapi kalau disatukan menjadi sapu lidi, ia sulit dipatahkan.” Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Itulah Negara Gotong-Rotong yang dimaksud Bung Karno. Itulah Bhinneka Tunggal Ika.

Jika kedua filosofi ini dihubungkan, maka untuk membersihkan hoaks dan korupsi tidak bisa dilakukan oleh satu orang, namun harus dilakukan bersama-sama seluruh bangsa Indonesia. Demikian juga sapu lidi tidak bisa bergerak sendiri untuk membersihkan halaman rumah, harus ada orang yang menggerakkan gagangnya agar bisa membersihkan halaman lebih luas. Orang tersebut harus mampu memegang gagang sapu lidi dengan benar agar bisa bekerja dengan baik. Untuk itulah dibutuhkan pemimpin yang mampu mengendalikan gagang sapu lidi tersebut agar negara ini bersih dari ujaran kebencian, berita bohong, korupsi dan tindakan kotor lainnya.

Pilihan Tepat Secara Akal

Sepanjang pelaksanaan kampanye terbuka dan debat Pilpres 2019, kubu Jokowi-Ma’ruf memang selalu memilih dan memunculkan jargon-jargon yang sangat masuk akal dan mampu diterima oleh akal sehat. Mulai dari jargon infrastruktur langit untuk menyatakan infrastruktur digital oleh Ma’ruf Amin saat debat ketiga, DILAN atau digital melayani oleh Jokowi saat debat keempat dan pada kampanye di Kota Tangerang Pilihan untuk menggunakan sapu lidi pada Minggu kemarin juga merupakan pilihan yang positif sebagai simbol membersihkan hoaks.

2 Komentar

  1. Kampanye ya kampanye..ibadah ya ibadah.. jangan kampanye digabung sama ibadah..kan yang beda agama ga bisa datang kalaupun tadi mau ikut dukung..
    Pak jokowi emang mengayomi semua kalangan dan agama…Hidup Pak Jokowi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

WhatsApp Luncurkan Katalog Belanja Buat Pengguna di Indonesia

WhatsApp meluncurkan fitur baru untuk pengguna di Indonesia. Fitur tersebut adalah katalog…