Pesta demokrasi rakyat terbesar di Indonesia sebentar lagi akan segera digelar. Tepat pada tanggal 17 April 2019 seluruh penduduk Indonesia akan menggunakan hak suaranya untuk memilih pemimpin negara ini 5 tahun kedepan. Hiruk pikuk kampanye tiap calon pasangan presiden semakin dikumandangkan. Tak sedikit rakyat turut menyuarakan pilihannya meskipun itu dengan cara yang baik maupun buruk sekalipun.

Fenomena hoax yang semakin merajalela di berbagai media online menjadi isu berat bagi calon presiden. Hal ini tentunya berkaitan dengan tingkat elektabilitas masyarakat dan dapat menjadi alat propaganda untuk memecah belah kerukunan antar rakyat. Apalagi dalam era teknologi dan media sosial sekarang membuat sebuah berita cepat menyebar di berbagai kalangan. Tidak jarang berita hoax tersebut menyebabkan perpecahbelahan dalam masyarakat itu sendiri. Ada yang semakin yakin dengan pilihannya dan menjelekkan calon pasangan lain, ada yang kemudian mengubah suaranya dan tak sedikit pula yang golongan putih (golput) alias tidak memilih siapapun dalam pemilu nanti.

Tren Golput di Indonesia

Golput memang bukan hal baru dalam pemilihan presiden (pilpres) kali ini. Tercatat semenjak pesta demokrasi pilpres pertama digelar pada era reformasi, yaitu tahun 2004 tingkat golput sebesar 21.80% (Sumber: KPU). Angka ini terus merangakak naik dari tahun ke tahun pemilihan presiden. Golput terjadi dikarenakan tidak adanya kepercayaan masyarakat terhadap partai maupun kandidat pemimpin yang akan berlaga. Indonesia saat ini telah mengalami tiga kali proses pemilihan presiden, yakni pada tahun 2004, 2009, dan 2014. Trend golput selalu menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan setiap tahunnya.

Golput Keputusan terbaik ?
Tingkat Golput Pilpres di Indonesia

Sikap apatis rakyat dalam setiap ajang pemilu menunjukkan fungsi demokrasi yang sudah tak punya gigi. Demokrasi sangat erat kaitannya dengan partisipasi. Jika fenomena ini dibiarkan terus menerus dan angka golput semakin meningkat maka tidak tertutup kemungkinan terjadinya demokrasi yang “pincang”.

Penyebab Golput Semakin Meningkat

Ada dua faktor penyebab masyarakat dapat dikatakan golput, yakni faktor dari dalam dan faktor dari luar. Faktor dari dalam masyarakat memilih golput adalah berdasarkan pilihan hati nurani mereka sendiri. Ketidakpercayaan terhadap pemerintah dan kandidat yang sedang bersaing menimbulkan sikap apatis bahkan anti pemilu. Mereka beranggapan bahwa siapapun yang terpilih tidak akan membawa dampak lebih baik dan hanya akan menambah masalah di Indonesia. Selain itu, kurangnya pendidikan politik sehingga menimbulkan kesadaran berpolitik rendah menjadikan mereka non-aktif dalam pemilu.

Faktor dari luar antara lain adalah kurangnya pendidikan politik dan adanya pengaruh lingkungan. Beberapa pihak seperti penyelenggara pemilu, partai politik, dan lembaga swadaya masyarakat harus berperan aktif dalam memberikan pendidikan politik secara masif. Pendidikan yang diberikan dapat berbentuk sosialisasi mengenai kapan dilaksanakanya pemilu, program kerja dari kandidat yang bersaing, atau tata cara dalam mengikuti dan menjalani pemilu. Kurang maksimalnya sosialisasi tentang pemilu menyebabkan minimnya tindakan politik masyarakat karena tidak memahami pemilu secara substansif dan teknis. Adanya kampanye gelap yang menyuarakan tentang ideologi golput pun turut andil dalam mengarahkan opini masyarakat untuk bungkam memilih. Suara dari masyarakat memiliki arti penting dan sangat menentukan siapa yang akan memimpin kedepannya.

Selain itu, Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang semrawut turut berkontribusi dalam meningkatnya jumlah golput. Dalam banyak kasus di berbagai daerah, masyarakat yang ingin memilih namun tidak tercantum dalam DPT pad akhirnya tidak bisa menggunakan hak pilihnya. Hal tersebut bisa saja memunculkan sikap pesimis politik yang berujung pada tindakan golput.

Jika dibiarkan fenomena golput yang menjadi tren di masyarakat dapat meruntuhkan esensi dari demokrasi itu sendiri. Ketika politik sudah dipandang “buruk” maka mereka memilih golput. Indonesia yang telah menetapkan jalur bangsa ini dalam demokrasi yang partisipatif tentunya menjadikan ideologi golput sebagai perhatian kita bersama. Apapun alasannya untuk tidak percaya pada kandidat yang bersaing, golput bukanlah pilihan yang bijak. Bila kita belum bisa memberikan sesuatu untuk negara, paling tidak janganlah bungkam dalam menggunakan hak pilih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…