Sepekan berlalu isu demo pergerakan warga Papua menolak rasisme yang dialami mahasiswa Papua di Surabaya atas perlakuan kata-kata yang kurang pantas. Para mahasiswa itu dikepung karena dituduh merusak bendera merah putih yang dipasang di depan asrama, meski bukti-buktinya tak jelas. Akibatnya terjadi aksi proses dari warga Papua yang ada di Manokhwari, Fakfak Papua Barat hingga daerah Mimika serta ramainya isu pengibaran bendera bintang kejora di tanah Papua sebagai dampak protes Papua atas rasisme yang dialami belakangan ini.

Baca Juga : Kerusuhan di Manokwari Hari Ini, Apa Penyebabnya?

Sebelumnya, sebagai bentuk respon pemerintah RI dalam menangani kasus ini, Presiden Jokowi menyampaikan pesan damai kepada Papua atas ketersinggungan yang mereka alami serta menyampaikan untuk saling memaafkan dan sabar itu lebih baik. Pemerintah juga berjanji akan terus menjaga kehormatan dan kesejahteraan warga Papua. Menanggapi pesan damai yang disampaikan Presiden, Gubernur Papua Lukas Enembe menyatakan bahwa permasalahan di Papua tidak bisa diselesaikan dengan pernyataan damai saja. Menurut Lukas Enembe, Presiden harus menindak tegas oknum-oknum yang menghina mahasiswa Papua yang ada di Surabaya sesuai dengan hukum yang berlaku.

Rasisme Dialami 60 Tahun oleh Kulit Hitam di Amerika

Sebenarnya Indonesia bisa belajar tentang hal serupa yang terjadi pada saat orang-orang kulit hitam diperlakukan dengan tidak adil di wilayah Amerika. Berdasarkan sejarah Amerika Serikat, selama lebih dari 60 tahun, misalnya, orang kulit hitam di Selatan tidak dapat memilih siapa pun untuk mewakili kepentingan mereka di Kongres AS atau pemerintah daerah. Jurnal Universitas Oxford menuliskan bahwa bersamaan dengan pencabutan hak pilih orang Afrika-Amerika, para Demokrat berkulit putih memaksakan segregasi rasial secara hukum. Kekerasan terhadap orang kulit hitam meningkat. Sistem diskriminasi ras yang disahkan negara bagian diberlakukan secara nyata, dan penindasan yang terjadi. Sistem tersebut hampir-hampir tidak tergoyahkan hingga awal tahun 1950-an. Pada akhirnya diskriminasi kulit hitam di Amerika berakhir pada tahun 1964 dengan disahkannya undang-undang hak-hak sipil nasional yang menghapus pemisahan fasilitas umum bagi kulit putih dan hitam yang diprakarsai oleh Martin Luther King.

Berhasil Karena Strategi Non Kekerasan

Ras kulit hitam di Amerika bukan tidak melakukan aksi protes atas perlakuan ras kulit putih kepada mereka. Melansir BBC.com, Martin Luther King ikut serta berada dipihak kelompok kulit hitam turun ke jalanan membela penindasan kelompok kulit hitam pada tahun 1955 serta memimpin aksi boikot terhadap kebijakan pemisahan kulit putih dan hitam di bus. Martin Luther King merupakan seorang doktoral dari Universitas Boston dan juga seorang Pendeta Baptis dari kelompok kulit hitam keturunan Afrika-Amerika. Ia terkenal dengan pidato I Have A Dream-nya menggambarkan visi kesetaraan ras di Amerika yang menginspirasi jutaan orang.

Pada tahun 1963, Martin Luther melakukan pidato yang mendorong Amerika Serikat untuk menghapus rasisme bagi warga kulit hitam. Keberhasilan menghapus rasisme di AS berhasil karena strategi non kekerasan Martin Luther yang diilhami oleh ajaran pemimpin India Mahatma Gandhi. Melansir VOAIndonesia.com, strategi non kekerasan yang dipimpin oleh Martin Luther ini ditandai dengan melakukan demonstrasi oleh ribuan warga kulit hitam dan kulit putih di Washington, D.C yang berlangsung damai dan tidak terjadi penangkapan. Presiden Asosiasi Nasional untuk Kemajuan Orang Kulit Berwarna (NAACP) mengatakan kampanye non-kekerasan itu memenangkan hati dan pikiran rakyat Amerika.

Dengan demikian, kampanye dengan kekerasan serta merusak fasilitas pemerintah tidak akan menyelesaikan masalah. Sikap protes dapat dilakukan tanpa kekerasan juga dapat dijadikan solusi bagi warga Papua untuk menyikapi rasisme yang kerap dialami. Tidak jauh berbeda dengan kasus rasisme di AS, Indonesia bisa belajar dari metode penyelesaian rasisme yang diusung Martin Luther King. Hingga saat ini aksi rasisme kelompok kulit hitam tidak terlihat lagi di Amerika. Bahkan mantan Presiden AS, Barack Obama berhasil menduduki Gedung Putih walaupun merupakan warga kulit hitam. Penyanyi terkenal hingga artis kulit hitam saat ini tidak kesulitan meniti karir di Amerika Serikat. Semoga hal seperti ini juga bisa terjadi bagi warga Papua dan suku lainnya di Indonesia, sehingga tidak ada lagi aksi kekerasan akibat rasisme dikemudian hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…