Jakarta (RakyatRukun.com) – Memasuki bulan Februari, umat Hindu di seluruh Nusantara disibukkan dengan persiapan menyambut hari raya Galungan, yang akan jatuh pada hari rebo 19 Februari 2020 atau Buda Kliwon Wuku Dunggulan, Hari suci di mana dirayakan kemenangan Dharma melawan Adharma.

“Demikian juga umat Hindu di Kupang. Di masing-masing rumah tangga juga nampak sibuk. kesibukan ini dimulai seminggu sebelumnya dengan menyucikan Bhuana Agung (alam semesta) atau biasa disebut dengan Sugihan Jawa dan keesokan harinya dengan prosesi penyucian diri atau Bhuana Alit dalam Sugihan Bali.”

Hal ini ditulis Ketua Yayasan Dewanta Usadha, dr. Dewa Putu Sahadewa, Sp.OG (K) dalam press releasenya, Minggu, (16/2) pukul 21.04 wita, sebagaimana dikutip dari lama kupang.tribunnews.com.

Berdasarkan ritus kepecayaan umat Hindu, 3 hari sebelum hari raya Galungan, akan turun berturut-turut kekuatan negatif yang akan mempengaruhi perilaku manusia Hindu (Sang Kala Tiga atau 3 Butha).

Pertama, pada hari minggu, turun Sang Butha Galungan yang sanggup berperang untuk menyerang manusia. Manifestasi dari penampakannya, urai Putu Sahadewa, ditandai dengan kecenderungan manusia yang gemar berkelahi, berperang atau bertengkar.

Kedua, pada hari Senin, Turun Sang Butha Dunggulan, yang akan menguasai manusia. Akibatnya, manusia pun cenderung memiliki keinginan menguasai segala sesuatu tanpa batas; bahkan termasuk yang bukan menjadi hak atau miliknya.

Ketiga, pada hari selasa, turun Sang Butha Amangkurat atau sifat egoisme dalam diri manusia.

Dalam interpretasi Putu Sahadewa, yang ditilik dalam alur berpikir filosofis. Peperangan manusia melawan tiga butha ini, dimaknai sebagai upaya manusia memerangi sifat atau perilaku buruk diri sendiri. Dengan kata lain, sebagai suatu bentuk upaya manusia untuk menaklukkan dirinya sendiri.

Apakah cukup dengan menghaturkan sesajen atau upacara di rumah dan di pura maka akan dilalui dengan baik segala ujian dan cobaan itu, urai Putu Sahadewa dalam pertanyaan eksistensialisnya.

Menurut Putu Sahadewa, sejak manusia dilahirkan ke dunia, manusia sudah dibekali dengan kemampuan yang cukup untuk memenangkan Dharma. Manusia dibekali akal, budi dan iman.

Dengan melakukan introspeksi diri, mulat sarira, menekan ego sekuat mungkin, berpedoman selalu pada ilmu pengetahuan suci dari Kitab Pedoman Hindu.

Selain itu, lanjut Putu Sahadewa, dengan memohon bimbingan dan perlindungan dari Leluhur para Dewa dan Brahman dengan segala manifestasinya melalui Yadnya atau upacara persembahan suci baik di rumah maupun di pura.

Putu Sahadewa menambahkan, akan memunculkan sifat mulia atau Dewa dalam diri. Dengan demikian, sang Kala Tiga akan dapat ditaklukkan.

Bagi Putu Sahadewa, dengan menekan sekuat mungkin egoisme, meminimalisir pikiran, perkataan dan perbuatan buruk. Maka, dunia akan terjaga dari kekacauan dan kehancuran. Dengan kata lain, akan muncul keindahan dan kecemerlangan karena pancaran sinar suci dari sifat dewa dalam diri manusia.

Lebih lanjut dijelaskan Putu Sahadewa, setelah melalui 3 hari pencobaan yang berat dan melelahkan, karena umat Hindu juga mempersiapkan segala material upacara pada hari hari itu, maka tibalah hari kemenangan yakni Hari Raya Galungan.

Siapa saja yang berhak merayakan kemenangan,? Tentu mereka yang berhasil menaklukkan dirinya, “mengalahkan” Sang Kala Tiga yang datang menyerang, yang mampu memunculkan cahaya dalam jiwanya. Bukan juga berarti yang lain tidak berhak merayakan, karena usaha sekecil apapun asal dilakukan secara sungguh-sungguh akan tetap dihargai dan dimuliakan tanpa memandang hasil dari perbuatan itu.

Jadi, seluruh umat Hindu akan serempak merayakan Galungan, hari kemenangan Dharma melawan Adharma. apalagi, hari sakral tersebut juga dikenal dengan Otonon (hari lahir) Bumi.

Demikian pula, bagi yang pada saat ini belum sepenuhnya mampu memenangkan dharma dalam hatinya. Putaran hidup terus berlangsung. Selama masih Hidup, kesempatan untuk memperbaiki diri masih ada.

Itulah makanya hari raya itu selalu berulang baik dalam siklus bulan ataupun matahari.

Hari raya Galungan di Kupang, ungkap Putu Sahadewa dalam tulisannya, akan terasa lebih istimewa karena bertepatan dengan Piodalan atau Hari perayaan bagi pura tertua dan terbesar di Kupang yakni Pura Oebanantha di Oeba.

Pada hari Galungan umat juga akan mengupacarai Pura yang merupakan salah satu Pura Padma Bhuana Nusantara atau Sembilan Pura Penjuru Mata Angin di Seluruh Indonesia.

Semoga segala prosesi baik dalam diri sendiri, keluarga, umat Hindu dan upacara di Pura dapat memberikan vibrasi baik sehingga Kota Kupang akan semakin indah, selamat dan sejahtera sehingga semua mahluk, seluruh alam semesta akan senantiasa berbahagia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Universitas Muhammadiyah Purwokerto memiliki Digital Forensik Center

Jakarta (RakyatRukun.com) – Kejahatan siber akhir-akhir ini kian banyak terjadi. Unt…