Hijrah ke Jakarta, Momentum Hidup Ma’ruf Amin

Memasuki usia dua puluh tahun, KH. Ma’ruf Amin menikahi gadis pilihannya, Nyai Huriyah. Tak lama setelah menikah, pada 1963 Kiai Maíruf memulai jejak pengabdiannya dengan hijrah ke Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Saat berpamitan akan merantau ke ibukota, kakeknya, Kiai Romli berpesan agar dirinya mengaji kepada Habib Ali bin Husen Al-Attas. Habin yang akrab dipanggil Habib Ali Bungur itu merupakan kawan kakeknya saat belajar di Makkah.

Seperti dikutip dari buku KH Ma’ruf Amin “Santri Kelana Ulama Paripurna” karya Iip Yahya, di Jakarta, Kiai Ma’ruf mengikuti jejak kakaknya, Nyai Musawwamah, yang sudah lebih dulu menetap di Koja. Nyai Musawwamah adalah istri dari KH. Ahmad Miían, seorang ulama terkenal di wilayah Priok yang populer sebagai Muaíllim Miían.

Dia menjadi tokoh NU Tanjung Priok dan salah seorang pengelola masjid Al-Fudlola yang terkenal dan bersejarah. Kiai Maíruf banyak belajar kepada kakak iparnya dan juga berguru kepada Kiai Usman Perak.

Sejak memasuki kehidupan Jakarta, Ma’ruf tak lupa dengan pesan kakeknya. Secara rutin, dia mendatangi majelis taklim Habib  Ali di Bungur. Di majelis ini, dia bertemu dengan banyak ulama di Jakarta, antara lain Kiai Syafi’i Hadzami.

Disela kesibukannya, Kiai Ma’ruf masih menyempatkan waktu kuliah di Fakultas Ushuludin Universitas Ibnu Chaldun Jakarta. Tahun 1967, dia meraih gelar sarjana muda (BA).

KH. Ma’ruf Amin merupakan ulama besar dan aktivis Nahdlatul Ulama (NU). Sosok sebagai kiai sudah melekat dalam kebribadiannya sejak usia muda.

“Sejak bertemu dalam kampanye untuk Pemilu 1971, Pak Ma’ruf itu style-nya memang seorang kiai,” ujar KH. Ahmad Bagdja, Sekjen PBNU periode 1994-1999.

Saat itu Kiai Ahmad Bagdja menjadi aktivis Ansor Salemba yang ikut berkampanye untuk caleg dari Partai NU.

“Kiai Ma’ruf itu seorang ulama besar dan aktivis NU, seorang ahli fiqih  dan ushul  fiqih,” kata Ketua Umum PBNU KH. Dr. Said Aqil Siroj.  “Kalau NU mengadakan Munas, beliaulah yang paling sibuk menyiapkan berbagai materi yang akan dibahas,” lanjutnya.

Kalau tinggal di Jawa Tengah atau Jawa Timur, Ma’ruf muda pasti akan dipanggil dengan sebutan Gus. Kiai Ma’ruf merupakan putra seorang kiai ahli fiqih dan cucu seorang ulama yang dihormati di Banten. Dari kakeknya, dia mendapat ijazah doa-doa yang selalu diamalkannya.

Di antara doa yang dibacanya adalah Al-Muasabba’atul Asyr. Doa ini berisi sepuluh macam wirid yang dibaca berulang sebanyak tujuh kali, diwiridkan setiap pagi dan sore. Doa ini bersumber dari Syekh Ibrahim at-Taimi yang memperolehnya dari Nabi Hidhir melalui mimpi. Konon, doa ini merupakan amalan para wali abdal.

“Kiai Maíruf biasanya tak bisa diganggu selepas shalat subuh,” terang Kiai Zulfa Mustofa, keponakan yang sudah mendampingi lebih dari 20 tahun. “Beliau baru menemui para tamu setelah jam enam pagi,” sambungnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Aplikasi PeduliLindungi Tracing Kontak Covid-19 Aman, Tapi Hati-Hati Palsuannya!

Jakarta, RakyatRukun.com – Melansir CNNIndonesia.com tanggal 18 April 2020, Pemerint…