Indonesia Dan Perdamaian Dunia

Dunia ini memiliki banyak negara yang berdiri di atasnya sehingga menciptakan keberagaman budaya, bahasa, pandangan hidup, dan keberagaman lainnya. Keberagaman tersebut menyebabkan munculnya diferensiasi tertentu dalam masyarakat, misalnya berdasarkan sosiokulturalnya terdapat diferensiasi suku, agama, klan, dan profesi. Seperti yang telah diketahui, keberagaman merupakan salah satu faktor utama yang dapat menyebabkan pergesekan-pergesekan dalam masyarakat. Oleh karena itu, bumi yang dihuni oleh banyak negara ini sangat rentan terhadap pergolakan yang dapat merusak perdamaian antar bangsa.

Salah satu tujuan nasional Indonesia sebagaimana tercantum dalam alinea ke-4 Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Salah satu konsekuensi dari tujuan tersebut adalah bangsa Indonesia harus senantiasa berperan serta dalam menciptakan perdamaian dunia. Di sini pula terletak fundamental dari politik luar negeri Republik Indonesia sebagai politik bebas dan aktif.

Politik bebas dan aktif maksudnya Indonesia bebas untuk menjalin kerja sama dengan negara manapun, serta turut aktif dalam organisasi internasional untuk bekerja sama dan menjaga perdamaian dunia. Menurut Mohammad Hatta dalam bukunya yang berjudul Demokrasi Kita, tujuan politik bebas dan aktif tersebut antara lain mempertahankan kemerdekaan dan menjaga keselamatan bangsa, memperoleh barang-barang yang diperlukan dari luar untuk meningkatkan kemakmuran rakyat, meningkatkan perdamaian dunia, dan mempererat persaudaraan antarbangsa.

Partisipasi Aktif Dalam Perdamaian Dunia

Pada awal pendirian negara Republik Indonesia, kita dihadapkan pada satu situasi dunia yang dikuasai oleh dua kekuatan negara adidaya sebagai akibat dari Perang Dunia II. Dua kekuatan tersebut adalah Blok Barat di bawah kendali Amerika Serikat dengan mengusung ideologi liberal, sedangkan kekuatan lainnya dikuasai oleh Blok Timur yang dipimpin oleh Uni Soviet dengan mengusung ideologi komunis. Untuk mewujudkan partisipasi dalam rangka memelihara perdamaian dunia, Indonesia tergabung dalam Gerakan Non-Blok (GNB) bersama negara dunia ketiga lainnya. Anggota GNB menyatakan bahwa mereka bukanlah negara yang memihak blok manapun. Indonesia bertekad membantu dunia internasional meredakan ketegangan perang dingin antara Blok Barat dan Blok Timur.

Peran besar Indonesia memelihara perdamaian dunia semakin besar semenjak tergabung menjadi anggota PBB. Indonesia sebagai bagian dari masyarakat internasional dan anggota PBB berkomitmen seperti pada tujuan dan prinsip dalam Piagam PBB, khususnya dalam menjaga keamanan dan perdamaian dunia. Partisipasi Indonesia pada UN Peacekeeping Operation berdasarkan pada Pembukaan UUD 1945, UU Hubungan Luar Negeri No. 37 Tahun 1999, UU No. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia, UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan UU No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara, serta UN Charter.12 Sejarah pasukan penjaga perdamaian Indonesia/Pasukan Garuda (Kontingen Garuda/Konga) dimulai dengan pengiriman misi pertamanya, yaitu Kontingen Garuda I pada tahun 1957 ke Mesir (UNEF) di Timur Tengah. Selanjutnya pengiriman Kontingen Garuda setingkat batalyon di Kongo, yaitu Kontingen Garuda II pada tahun 1960-1961 dan Kontingen Garuda III di tahun 1963-1964. Lalu Kontingen Garuda IV pada tanggal 7 April 1973, Kontingen Garuda V pada tanggal 23 Juli 1973, dan Kontingen Garuda VII ke Vietnam untuk melakukan pengawasan terhadap gencatan senjata. Kemudian Kontingen Garuda VI pada tahun 1973-1974 dan Kontingen Garuda VIII pada tahun 1974-1979 ke Mesir. Selanjutnya, Kontinten Garuda XII pada tahun 1992-1994 ke Kamboja, lalu Kontingen Garuda XIV di tahun 1995 ke Bosnia, dan Kontingen Garuda XXIII/UNIFIL di tahun 2006-2015 ke Lebanon. Kontingen Garuda lainnya merupakan pengamat militer di berbagai misi PBB di dunia, termasuk Brigjen TNI Susilo Bambang Yudhoyono, mantan Presiden RI, yang menjabat sebagai Chief Military Observer pada Konga XIV di Bosnia (UNTAES, 1995-1996).

Selain itu, peran lain Indonesia dalam UN Peacekeeping Operation ialah Indonesia telah mengirimkan kapal lautnya, yaitu KRI Diponegoro sejak 2009 untuk bergabung dengan Maritime Task Force (MTF) of the UNIFIL di Lebanon. Beberapa posisi high ranking officials di UNIFIL juga telah dipercayakan kepada Indonesia, yaitu Chief of Staff of the Maritime Task Force (MTF) dan Deputy Commander Sector East di UNIFIL. Selain itu, Indonesia juga berpartisipasi dalam UN PKO di kawasan Amerika, yaitu pada UN Stabilization Mission in Haiti (MINUSTAH). Sejauh ini Indonesia juga berkomitmen mengirimkan UN Female Peacekeepers dalam berbagai misi PBB, seperti pada tahun 2016 merupakan puncak pengiriman personil wanita terbesar Indonesia sejak tahun 2009-2016, dimana personil wanita banyak dikirimkan dalam misi UNIFIL di Lebanon hingga Desember 2016. Hal ini membuat Indonesia menempati urutan ke-7 dari 124 Troops/Police Contributing Countries (T/PCC).

Peran Indonesia Membangun Perdamaian Dunia

Dalam rangka membangun partisipasi aktif dalam perdamaian dunia, beberapa hal dapat dilakukan Bangsa Indonesia, di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Menjalankan politik damai dan bersahabat dengan segala bangsa atas dasar saling menghargai dengantidak mencampuri urusan negara lain.

2. Menegaskan arah politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif serta berorientasi pada kepentingannasional, menitikberatkan pada solidaritas antarnegara berkembang, mendukung perjuangankemerdekaan bangsa, menolak penjajahan, dan meningkatkan kemandirian bangsa, serta memiliki kerjasama internasional bagi kesejahteraan rakyat.

3. Bangsa Indonesia memperkuat sendi-sendi hukum internasional dan organisasi internasional untukmenjamin perdamaian yang kekal dan abadi.

4. Meningkatkan kerja sama dalam segala bidang dengan negara tetangga yang berbatasan langsung dankerja sama kawasan ASEAN untuk memelihara stabilitas, melaksanakan pembangunan, dan meningkatkankesejahteraan.

5. Meningkatkan kesiapan Indonesia dalam segala bidang untuk menghadapi perdagangan bebas, terutamadalam menyongsong pemberlakuan AFTA, APEC, dan WTO.

6. Meningkatkan kualitas dan kinerja aparatur luar negeri agar mampu melakukan diplomasi proaktif dalamsegala bidang untuk membangun citra positif Indonesia di dunia internasional, memberikan perlindungandan pembelaan terhadap warga negara, serta kepentingan Indonesia, dan memanfaatkan setiap peluangpositif bagi kepentingan nasional.

7. Meningkatkan kualitas diplomasi baik regional maupun internasional dalam rangka stabilitas, kerja sama, dan pembangunan kawasan.

Jika melihat rekam jejak di dunia internasional sejauh ini, Indonesia telah banyak berpartisipasi dalam rangka mewujudkan dan menjaga perdamaian dunia sekaligus dalam rangka penyelenggaraan politik luar negeri yang dianut, yaitu politik luar negeri bebas dan aktif. Seiring berkembangnya zaman dan semakin meluasnya era globalisasi, diharapkan Indonesia dapat terus berpartisipasi dalam menjaga perdamaian dunia serta tetap melakukan kerja sama dan menjalin hubungan diplomasi yang baik dengan negara-negara lain. Hal ini sejalan dengan tujuan nasional bangsa Indonesia untuk mewujudkan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…