JAKARTA (Rakyat Rukun): Keragaman bahasa, suku, daerah, etnis bahkan agama yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan hal yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain. Namun terkadang, perbedaan ini justru memunculkan perbedaan-perbedaan lainnya yang seharusnya perbedaan tersebut memperkaya kebudayaan Indonesia. Bahkan perbedaan tersebut bisa meluas ke ranah demokrasi yang ada di Indonesia. Membawa perbedaan agama dan etnis sangat sering menjadi polemik bahkan berpotensi membawa perpecahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kaum milenial saat ini harus memahami “Kenapa kita bisa beda sih, padahal kita satu negara dan tanah air? Kenapa ada kesenjangan diantara saya dengan kalian? Apa emang negara kita tidak bisa menyatukan kita? Kayaknya hanya suporter bola aja kita bisa satu”.

Kuncinya adalah saling menghargai perbedaan dan diperlukan bahasa semua perbedaan sebagai media komunikasi dan mempersatukan pemahaman. Kita sudah punya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Jadi kenapa harus pusing menghadapi perbedaan yang ada di negara kita. Mari kita gunakan bahasa nasional untuk berkomunikasi dengan orang yang berbeda suku, agama dan ras serta janganlah kita menghidupkan fanatisme kepada daerah, kelompok, etnis, suku termasuk agama. Dengan demikian, sikap eksklusifisme seharusnya lebih kita minimalisir serta perlu kita membuka diri dengan orang lain, yang beda suku, beda daerah, beda etnis dan bahkan beda agama. Sikap terbuka harus kita wujudkan dalam berbagai aktivitas kita. Yang suka ormas mencobalah terbuka dengan yang lain, yang suka partai politik cobalah TERBUKA dengan yang lain. Yang suka daerahnya cobalah terbuka dan membuka wacana dengan daerah yang lain. Jadilah hati kita terbuka dengan orang lain. Adapun terkait dengan kodrat itu adalah persoalan lain. Kodrat atau takdir bukan hal yang mesti dipersoalkan itu sudah ada pembahasannya sendiri.

Mengapa sih perbedaan itu harus disatukan? Padahal rasa perbedaan itu justru bisa menjadi modal yang tak ternilai harganya bagi negara kita ini. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana pengelola negara ini bisa membuat kita semua merasa disamakan haknya dan merasa mendapat tempat yang sejajar, tanpa membeda-bedakan.

Anda yang tinggal di Jawa, seharusnya bisa memahami mengapa orang-orang yang di daerah merasa dianaktirikan karena sejak orde baru pembangunan selalu terpusat di Jawa. Setelah masa reformasi dan otonomi dilaksanakan barulah beberapa daerah bangkit. Di saat rekan-rekan di Jawa sudah membicarakan di sekolah mana yang terbaik menimba ilmu, kami yang di daerah pada tahun 1990-an masih berkutat apakah ada biaya untuk melanjutkan sekolah karena sekolah lanjutan saat itu hanya ada di ibukota kabupaten atau ibukota provinsi.

Bangsa kita harus memiliki unsur pemersatu bangsa, sehingga perbedaan-perbedaan yang ada bukanlah menjadi hal yang dipermasalahkan tetapi menjadi modal yang tak ternilai bagi negara kita. Demikian juga dalam hal demokrasi, perbedaan pilihan terhadap pemimpin yang akan dipilih merupakan hal yang wajar, namun harus dipahami bahwa pemimpin yang akan dipilih mampu mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa di segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Persatuan yang terbaik adalah persatuan dalam hal perasaan kita, bukan persatuan  mutlak dalam segala hal.

 

Ditulis oleh : Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…