Indonesian Cultural Circle Dimeriahkan Dengan Kebudayaan Palembang

Kebudayaan Palembang, Sumatera Selatan, dengan paduan seni, pariwisata, dan kulinernya memukau pengunjung Canberra. Penampilan tersebut dikemas dalam kegiatan Indonesian Cultural Circle (ICC) yang diselenggarakan Dharma Wanita Persatuan (DWP) bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Canberra.

Acara itu berlangsung di Wisma Indonesia, pekan lalu. Temanya: The Riverine City of Palembang – The City Where Culture and River meet in Harmony. Kebudayaan khas Sumatera Selatan yang ditampilkan, di antaranya kain songket atau tenun, kain jumputan, baju tradisional wilayah Palembang. Selain itu, ada pameran foto bertema pariwisata di Palembang.

“Karena kedekatannya dengan daerah tetangga lainnya, Palembang telah menjadi ikon perpaduan harmoni berbagai pengaruh budaya, termasuk yang berasal dari pesisir Melayu, pedalaman Minangkabau, Jawa, India, Cina, dan Arab,” ujar Ketua DWP KBRI Canberra, Caecilia Legowo di kutip dari rmco.id. Menurut dia, semua pengaruh tersebut tercermin dalam beragam kebudayaan Palembang. Mulai dari tekstil tradisional, arsitektur, makanan tradisional, juga bahasanya.

Dalam kegiatan tersebut juga dipaparkan terkait sejarah dan pariwisata yang ada di kota Palembang. Sekretaris Kedua Diplomat KBRI Canberra, Cerya Paramita, juga menjelaskan sejarah Kerajaan Sriwijaya serta tempat-tempat eksotis yang wajib dikunjungi di Palembang. Beberapa di antaranya, yakni Benteng Kuto Baru, Pagoda Pulau Kemaro, dan Masjid Cheng Ho yang memiliki arsitektur yang kental terhadap nuansa China. Setelahnya, para tamu undangan diberikan kesempatan menikmati keindahan Sungai Musi dan Jembatan Ampera di malam hari, melalui tayangan video.

Selain itu, pengunjung juga diajak menari rancak Tarian Gending Sriwijaya sambil bertepuk tangan mengikuti irama lantunan musik Melayu yang sesuai. Bahkan, Barbara Reeve, seorang WN Australia, tidak tahan turut menari bersama peserta lain. “Irama musiknya sungguh familiar dan gerakannya mudah diikuti bahkan untuk yang seusia saya,” kata Barbara dengan bersemangat. Tamu lainnya, Natalie Mobini mengaku hidangan pempek model dan kuah ikan yang dicicipinya sangat gurih dan cocok disajikan di musim dingin di tempat asalnya.

“Saya ingin bertanya resep pempek ini ke koki yang memasak, untuk bekal kuliner di musim dingin nanti,” tutur Natalie sambil tertawa. ICC rutin diselenggarakan DWP KBRI Canberra sebagai salah satu promosi kekayaan budaya dan destinasi pariwisata Indonesia. Sebelumnya, DWP KBRI Canberra mengangkat potensi Sulawesi Selatan, DKI Jakarta, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…