Isu Kiamat Di Ponorogo : Iman tanpa Pengetahuan, atau Pengetahuan tanpa Iman?

Tahun 2012 lalu dunia sempat dihebohkan dengan teori konspirasi kiamat yang diambil dari kalender suku maya. Kalender suku maya menunjukkan bahwa dunia akan mengalami kehancuran pada 21 Desember 2012 dan akan dimulai lagi dunia yang baru. Hal ini diperkuat dengan adanya salah satu ayat di kitab suci rekan kita yang beragama Kristen, yang dimuat di Wahyu 20:12 yang salah satu isinya berbunyi: “..Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu..” Melihat angka 20:12 dengan 2012 yang cenderung mirip, banyak orang beranggapan 2012 adalah benar kiamat. Bahkan produsen film dunia pernah membuat film berjudul 2012 yang bertemakan tentang keruntuhan dunia karena kiamat.

Lagipula, siapa yang tidak takut dengan akhir zaman? Semua orang beragama pasti takut. Akhir zaman selalu dihubungkan dengan kematian massal dan maut yang melanda dunia. Kita sudah mendengar cerita-cerita dari kitab-kitab yang kita percayai bahwa akhir zaman selalu berhubungan dengan kehancuran. Hampir semua agama mempercayai akhir zaman. Bukan hanya dari era modern, ketakutan akan akhir zaman bahkan sudah ada sejak zaman dulu. Ketakutan akan akhir zaman sering dikaitkan dengan kepatuhan kita terhadap agama. Semakin kita patuh pada agama kita, kita harus mempersiapkan sepenuhnya akan akhir zaman.

Kepindahan sejumlah warga Badegan ke Malang karena isu kiamat

Rumah Warga Badegan
Rumah Warga Badegan

2 hari yang lalu, kita dihebohkan dengan berita kepindahan 52 warga Kecamatan Badegan, Ponorogo, ke Malang, dalam 1 bulan terakhir. Diketahui bahwa kepindahan mereka adalah karena kiamat akan segera datang dan mereka beranggapan bahwa daerah Malang lah yang tidak terkena dampak dari kiamat tersebut. Banyak hal sudah dilakukan, seperti menjual aset mereka seperti rumah, tanah, dll demi biaya hidup di Malang. Ada yang meninggalkan desa di malam hari, sampai dini hari. Mereka pergi secara berkelompok. Mereka rela meninggalkan pekerjaan mereka, bahkan bersama anak-anak mereka yang statusnya masih sekolah. Uniknya mereka tidak lapor ke RT terlebih dahulu. Bahkan KTP mereka masih KTP kecamatan badegan sehingga status mereka adalah masih warga kecamatan Badegan.

Seperti yang dilansir detik.com, Camat Badegan mengatakan bahwa banyak warga hijrah ke Malang setelah mendapat bisikan atau doktrin tentang kiamat sudah dekat dari santri atau jemaah sebuah ponpes di Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang. Selain tentang kiamat, para warga tersebut juga diberi pemahaman tentang perang dan ancaman kemarau panjang. Ada dugaan bahwa 52 warga tersebut adalah jemaah Thoriqoh Musa. Jemaah diminta pergi dan menjual semua aset di Desa Watubonang karena kiamat akan segera datang. Padahal para warga tersebut hidup normal seperti masyarakat pada umumnya. Sebagian besar adalah petani dan mereka selalu ikut salat berjamaah dan tidak ada masalah interaksi dengan warga sekitar.

Agama dan Pengetahuan Tidak Terpisahkan

Ada kutipan yang mengatakan bahwa “science without religion is lame, religion without science is blind.”, terjemahannya adalah Pengetahuan tanpa agama itu timpang, agama tanpa pengetahuan itu buta. Pengetahuan sangat berkaitan erat dengan agama. Menurut Dedi Kusmayadi melalui artikel kompasiana, manusia berhubungan dengan realitas dalam memahami keberadaan diri dan lingkungannya dengan pengetahuan atau sains. Sedangkan agama menyadarkan manusia akan hubungan keragaman realitas tersebut, untuk memperoleh derajat kepastian mutlak, adalah kesadaran akan kehadiran Tuhan. Sains berurusan dengan fakta, agama berurusan dengan nilai/makna. Setelah kita memahami makna sebuah pembahasan dalam agama yang kita anut, kita wajib membandingkan dengan pengetahuan yang ada, karena kita hidup di dalam fakta. Agama dan pengetahuan mutlak tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Kita boleh saja mempelajari agama kita dengan baik. Bahkan kita diwajibkan untuk itu. Kita adalah umat manusia yang tidak bisa apa-apa sehingga kita membutuhkan Sang Pencipta. Namun cerita akan berubah apabila kita tidak menggabungkan pembelajaran agama kita dengan apa yang terjadi di pengetahuan ilmiah. Kejadian yang sudah terjadi di Kecamatan Badegan ini bisa menjadi perhatian pemerintah daerah setempat untuk memberikan pengarahan mengenai ilmu agama lebih lanjut. Pemerintah bisa mengundang pemuka agama dari berbagai pondok pesantren untuk mendiskusikan tentang hal ini lebih lanjut. Selanjutnya, pengawasan terhadap kegiatan keagamaan di tiap daerah bisa dijadikan pendekatan oleh pemerintah. Dengan ilmu-ilmu tambahan dari pemuka agama, diharapkan pengetahuan tentang agama makin membaik dan kita mampu menyaring isu tentang agama dengan baik.

Tag: isu kiamat, kiamat, agama pengetahuan, akhir zaman

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Pegawai Rutan Makassar Mengikuti Upacara Gabungan Dalam Memperingati Hari Bela Negara

Jakarta (RakyatRukun.com) – Memperingati Hari Bela Negara, Kepala Rutan Kelas I Maka…