Jakarta Dilanda Banjir Lagi, Apa Solusi Anies?

Banjir kembali melanda beberapa wilayah DKI Jakarta pada Jumat (24/6) kemarin. Bermula dari status siaga I Bendung Katulampa di Bogor, Jawa Barat, pada Kamis (25/4/2019) lalu, aliran Sungai Ciliwung di Ibu Kota meluap keesokan harinya. Banjir di sejumlah lokasi pun tak terelakkan. Dilansir dari news.detik.com, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan banjir terjadi hanya di sejumlah RW yang berada di daerah aliran sungai.

Banjir tersebut, sebut Anies, terjadi karena air kiriman dari hulu Sungai Ciliwung. Gunungan sampah di Pintu Air Manggarai pun bukan bukan berasal dari warga Jakarta. Wilayah yang terdampak banjir hanya berada pada daerah aliran sungai, tapi di luar daerah aliran sungai tidak ada genangan dan tidak ada banjir. Ia juga menambahkan jika dearah yang terkena dampak merupakan wilayah langganan banjir.

Jika menilik ke beberapa hari lalu, di mana saja lokasi terjadinya banjir? Dari pemberitaan pada Jumat (26/4), terdapat sejumlah lokasi yang dilanda banjir. Salah satu wilayah yang terparah adalah Kelurahan Pejaten Timur, Jakarta Selatan. Ketinggian air bahkan disebut mencapai 3,7 meter di RT 5 RW 8 di kelurahan itu.

“(Tinggi air) 3,7 meter,” ujar Agus Irwanto selaku Camat Pasar Minggu saat ditemui di lokasi pada hari itu. Agus menyebut setidaknya 7 RW di Pejaten Timur terendam banjir, di antaranya RW 3 serta RW 5-10. Setidaknya, menurut Agus, ada 1.000 warga yang mengungsi.

Kawasan lain yang dilanda banjir pada hari itu adalah sekitar Jalan Raya Kalibata RT 013 RW 007, Cililitan, Kramat Jati, Jakarta Timur. Sejumlah warga yang terkena dampak banjir saat itu terlihat berdiri di pinggir jalan raya. Bahkan banjir sempat membuat Jalan Jatinegara Barat di Jakarta Timur ditutup pada hari itu. Banjir meluap dari kawasan Kampung Pulo. Jalan yang ditutup itu dibuka beberapa jam kemudian pada hari yang sama. Hari-hari berikutnya, hingga Minggu (28/4), banjir surut. Warga yang sebelumnya mengungsi sudah kembali ke rumah dan membersihkan lumpur yang dibawa banjir dari dalam kediamannya.

Anies, selaku gubernur, menyebut Jakarta secara keseluruhan aman dari banjir. Ia pernah melontarkan berbagai ide dalam menangani masalah klasik ibu kota ini. Ide Anies menangani banjir itu mulai dari pembuatan drainase vertikal, naturalisasi sungai, membuat waduk, hingga membuat saringan agar sampah di sungai tak masuk ke DKI. Namun, banjir masih juga merendam sejumlah wilayah Jakarta. Jika dirangkum, ada sejumlah ide yang pernah dicetuskan Anies untuk mengatasi masalah banjir di Jakarta, antara lain:

1. Naturalisasi Sungai

Istilah naturalisasi dilontarkan Anies kepada wartawan saat di Pluit, Jakarta Utara, Rabu (7/2/2018) lalu. Naturalisasi sungai, menurut Anies, adalah solusi untuk mengatasi banjir.

“(Mengatasi banjir) Salah satunya ada soal naturalisasi sungai. Bagaimana sungai itu bisa mengelola air dengan baik. Bagaimana mengamankan (air) tidak melimpah, tapi juga ekosistem sungai dipertahankan,” kata Anies.

Kala itu, Isnawa Adji yang masih menjadi Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI mengatakan naturalisasi merupakan upaya membuat aliran air di sungai menjadi baik. Namun, naturalisasi juga meliputi penjagaan ekosistem di daerah aliran sungai. Isnawa menyebut Anies tak ingin semua dinding sungai dibangun turap. Anies, sebut dia, ingin kondisi natural sungai tetap ada.

“Pak Gubernur tidak mau semua titik di pinggir sungai itu dibangun dinding turap. Kalau memang kondisi alamiahnya ada tanah dan pepohonan, maka itu bisa dikembalikan fungsinya untuk ekosistem yang lebih baik,” kata Isnawa Adji kepada detikcom, Kamis (8/2).

Namun, Anies baru-baru ini menerbitkan Peraturan Gubernur Nomor 31 Tahun 2019 tentang Pembangunan dan Revitalisasi Prasarana Sumber Daya Air Secara Terpadu dengan Konsep Naturalisasi. Berdasarkan pergub tersebut pemasangan sheet pile masih dimungkinkan.

Menurut Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Yusmada Faizal, pemasangan sheet pile disebut hanya soal teknis memperkuat pinggiran sungai. Yusmada menyebut naturalisasi bukan hanya memperlebar lebar sungai namun juga untuk memperkuat tebing yang mau longsor.

2. Vertical Drainage

Sejak menjadi Cagub, Anies sudah memiliki ide untuk mengatasi banjir di DKI Jakarta. Ide itu ialah membuat vertical drainage alias drainase vertikal.

“Pada akhirnya pengelolaan air harus menggunakan vertical drainage, bukan horizontal drainage. Artinya, dialirkan ke laut saja belum cukup. Tetap dimasukkan ke bumi, dan bumi Jakarta memerlukan air. Ke depan, vertical drainage, bukan horizontal drainage,” papar Anies di kantor DPP Gerindra, Jalan RM Harsono, Jakarta Selatan, Kamis (16/2/2017).

“Dengan cara seperti itu, harapannya, volume air yang dialirkan ke sungai bisa berkurang. Karena air itu sudah masuk ke tanah sebelum dikirimkan ke sungai,” lanjutnya.

Setelah menjadi Gubenur, Anies mulai memerintahkan jajarannya untuk melaksanakan ide vertical drainage. Dia mengeluarkan instruksi agar semua kantor pemerintahan DKI membuat drainase vertikal. Selain itu, Anies juga telah berkoordinasi dengan kantor-kantor pemerintah pusat dan seluruh tempat usaha di Jakarta untuk nantinya diinstruksikan membuat serapan air. Mantan Mendikbud itu menyebut telah melaporkan Instruksi ini kepada Presiden Jokowi. Dia juga mentargetkan sebanyak 1,8 juta drainase vertikal akan terbangun di Jakarta.

“Jadi kita melakukan untuk hujan dari Jakarta, sebisa mungkin di tabung dimasukkan ke tanah dengan vertikal drainase dan kita targetkannya masif kemarin kita diskusikan dengan Pak Presiden, kita harapkan bisa 1,8 juta terbangun masif,” ucapnya.

3. Buat Waduk

Selain naturalisasi dan drainase vertikal, Anies juga punya ide membuat waduk di antara Jakarta dan Bogor. Tujuannya, agar volume air yang mengalir ke Jakarta bisa dikontrol.

“Mau tidak mau harus membuat waduk karena bicaranya tentang volume air yang besar sekali. Jadi tidak cukup kalau kita hanya menangani di sini. Apapun yang kita tangani di sini kalau volume airnya besar sekali dari sana, datangnya bersamaan akan selalu menimbulkan limpahan air,” kata Anies di Manggarai, Jakarta Selatan, Jumat (26/4/2019).

Anies menganggap upaya pencegahan banjir di Jakarta akan percuma jika volume air dari hulu tak bisa dikendalikan. Dia menilai pembuatan waduk sebagai solusi yang terbaik.

“Karena kalau kita hanya membereskan di Jakarta tidak ada artinya. Mengapa? Karena nanti kita akan berhadapan dengan permukaan laut yang lebih tinggi daripada permukaan air sungai,” jelasnya.

“Justru yang harus dibereskan adalah bagaimana airnya bisa ditahan di hulu dan antara hulu dan Jakarta sehingga volume air yang masuk di Jakarta terkendali. Saat ini sedang dibangun dua waduk di Kabupaten Bogor dan dua waduk ini, kalau selesai insyaallah bulan Desember ini selesai maka dia akan membantu menahan,” tambah Anies.

Karena itu saat ini, Anies mengatakan bahwa sedang ada pembangunan dua waduk kering di Ciawi. Pembangunan waduk ini diharapkan bisa mengurangi atau setidaknya mengatur volume air yang mengalir hingga ke Jakarta.

“Sedang membangun Dam Dry di hulu ada dua bendungan insyaallah selesai tahun ini Desember. Jika selesai tahun ini volume aliran airnya bisa dikendalikan. Maka 30 persen potensi langsung akan turun,” ujar dia.

4. Bangun Saringan Sampah

Selain persoalan volume air yang membanjiri Jakarta, Anies juga menyoroti masalah sampah. Dia mengatakan akan memasang saringan raksasa di luar Jakarta agar sampah tidak memasuki sungai. Anies mengatakan saringan tersebut penting mencegah volume sampah yang memasuki Jakarta. Menurutnya, hal itu akan mencegah penumpukan sampah seperti yang ada di pintu air Manggarai.

“Penting untuk kami membangun. Bukan jaring rasaksa ya sebenarnya, tapi saringan-saringan. Sehingga volume sampah tidak secara besar terbawa seperti ini. Tapi secara bertahap tertahan agar tak terkumpul seperti ini,” jelas Anies.

Soal jaring ini juga sempat diucapkan Anies saat menyoroti masalah sampah di Teluk Jakarta. Dia mengatakan akan memasang jaring-jaring untuk mencegah kembalinya sampah di kawasan tersebut.

“Kita nanti akan siapkan jaring-jaring untuk menjaring sampah yang keluar dari sungai-sungai di DKI. Dan, kita harapkan juga sungai-sungai di kanan kiri Jabodetabek juga ikut membuat jaring-jaring yang sama,” kata Anies di Masjid Istiqlal Jl Taman Wijayah Kusuma, Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Minggu (18/3/2018).

Namun, hingga April 2019 yang artinya sudah lebih dari setahun Anies menjabat, beberapa program tersebut belum terealisasikan. Konsep real-nya pun masih belum jelas. Hal ini dikritik habis-habisan oleh DPRD DKI Jakarta bahkan oleh WALHI Nasional, mengingat program tersebut membawa embel-embel “menghidupkan ekosistem sungai dan waduk.” Banjir pun kembali menerjang Jakarta akhir April ini. Namun, seperti kehabisan ide, Anies hanya melontarkan janji lama yakni menjalankan vertical drainese serta menunggu rampungnya pembangunan waduk dan bendungan. Anies seoalah melempar tanggung jawab atas belum rampungnya pembangunan waduk dan bendungan kepada pemerintah pusat lantaran hal itu bukan program pemprov DKI.

Selain itu, permasalahan banjir yang sudah mendarah daging di Ibu Kota ini, sudah sepantasnya menjadi perhatian berbagai pihak, mulai dari masyarakat hingga stakeholder pemerintahan. Namun sayangnya, masyarakat belum memiliki kesadaran untuk turut menjaga ekosistem lingkungan. Prilaku membuang sampah sembarangan dan membuka lahan penyerapan untuk dijadikan pemukiman adalah salah satu contoh prilaku masyarakat yang menyebabkan banjir. Secanggih apapun program yang dilakukan oleh pemerintah, jika masyarakat tidak mendukungnya maka banjir akan tetap terjadi. Maka dari itu, cara untuk mencegah banjir terjadi lagi adalah dimulai dari mengubah budaya diri untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…