Jakarta, (Rakyatrukun.com) – Kementerian Agama melalui Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) menggelar dialog lintas agama di Daerah Istimewa Yogyakarta menjelang Natal.

Dalam dialog bertema pemeliharaan dan penguatan kerukunan umat beragama itu dihadiri 60 peserta yang berasal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Persekutuan Gereja Indonesia (PGI), Konferensi Waligeraja Indonesia (KWI), Parisadha Hindu Dharma Indinesia (PHDI), Majelis Agama Khonghucu Indonesia (Makin), dan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi).

Hadir pula representasi ormas keagamaan, yakni Pengurus Wilayah Nahdhatul Ulama (PWNU), Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM), Pimpinan Aisyiyah, Fatayat, Pemuda Anshor, dan Pemuda Muhammadiyah.

“Sengaja kami menggelar dialog lintas agama ini sebagai upaya hadapi Natal dan Tahun Baru agar tahun ini semakin aman dan nyaman dalam menjalankan ibadah,” ujar Ketua PKUB Kemenag Nifasri dalam siaran pers, Senin (9/12/2019).

Nifasri mengatakan julukan Yogyakarta sebagai miniatur Indonesia menjadi alasan Kemenag memilih Kota Gudeg menjadi tempat dialog lintas agama. 

“Kalau kami kerja sama dengan luar negeri, seperti menggelar beberapa kegiatan dialog lintas iman, mereka pasti memilih Yogyakarta yang disebut sebagai miniaturnya Indonesia,” sambungnya.

Kepala Kanwil Kemenag DIY Edhi Gunawan yang turut hadir dalam pertemuan tersebut mengungkapkan tantangan yang dihadapi bangsa saat ini, yakni memudarnya budaya bangsa, ancaman disintegrasi bangsa, dan melemahnya kemandirian bangsa.

“Kita harus bangun kerukunan nasional melalui kerukunan umat beragama. Khusus DIY, sudah membentuk FKUB sampai tingkat kecamatan,” jelasnya. 

Menurut dia, kunci kerukunan beragama adalah rutin menggelar pertemuan dengan komunikasi yang produktif. Dari pertemuan itu, bisa dilakukan deteksi dini kejadian yang berpotensi muncul di DIY.

Selain itu, Edhi juga mengingatkan upaya memperkuat moderasi beragama yang berbasis pada tiga pilar, yakni komitmen kuat membangun negara dan bangsa, toleransi, dan semangat antiradikalisme.

Sementara itu, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY Ahmad Muhsin Kamaludiningrat menyebut posisi kota Yogyakarta yang kondang disebut sebagai City of Tolerance. 

“Kami tiap pekan mengadakan rapat Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB),” ujarnya seraya menyebut pembinaan KUB di DIY sudah dilakukan sejak kurun 1970.

Bahkan menurutnya, dialog FKUB yang dihelat pada 9 Juni 1993 mampu terpublikasi dengan baik.

“Waktu itu kami berhasil mengidentifikasi masalah dan menyiapkan solusinya terkait penyiaran agama, pendirian rumah ibadah, peringatan hari besar keagamaan, perkawinan berbeda agama, dan penguburan jenasah,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Pegawai Rutan Makassar Mengikuti Upacara Gabungan Dalam Memperingati Hari Bela Negara

Jakarta (RakyatRukun.com) – Memperingati Hari Bela Negara, Kepala Rutan Kelas I Maka…