Jokowi Sedih Dengar Kabar Audrey. Kapolri Harus Bertindak Tegas

#JusticeforAudrey, tagar tersebut kini tengah viral di berbagai sosial media. Seketika perhatian seluruh masyarakat tertuju dengan kasus seorang anak yang bernama Audrey. Mulai dari selebgram, pengacara kondang hingga presiden turut angkat bicara mengenai kasus tersebut. Audrey, seorang siswi SMP di Pontianak Kalimantan Barat, dikeroyok oleh sejumlah siswi SMA. Akibat pengeroyokan itu, siswi 14 tahun ini mengalami trauma dan kini masih dirawat di sebuah rumah sakit.

Tidak Ada Penyelasan Dari Pelaku

Perbuatan tidak terpuji yang dilakukan oleh anak di bawah umur ini memaksa kekuatan hukum kehilangan taringnya. Keadaan ini diperparah dengan tidak adanya rasa penyesalan di diri pelaku atas perbuatannya. Pelaku malah asyik memamerkan kesenangan di media sosialnya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Hal ini semakin membuat masyarakat geram hingga memunculkan banyaknya petisi. Petisi ini kebanyakan meminta keadilan untuk Audrey dengan menjerat pelaku dengan hukum yang sesuai tanpa memandang umur mereka.

Bukan tidak beralasan masyarakat hingga Presiden Jokowi meminta aparat keamanan untuk bertindak tegas. Pasalnya, perlakuan yang diterima oleh korban yang masih SMP ini kelewat batas untuk anak usia di bawah umur. Tindakan pelaku penganiayaan dinilai sudah bukan tindakan yang dilakukan oleh anak kecil. Maka dari itu, pelaku harus dihukum sesuai dengan perbuatannya di pengadilan.

Jokowi Turut Menanggapi Kasus Audrey

Jokowi dalam laman instagramnya mengunggah kesedihan dan kemarahan terhadap kejadian yang menimpa Audrey. Dalam keterangan foto tersebut tertulis, “Kita semua sedih dan marah dengan kejadian ini. Saya telah meminta Kepala Kepolisian RI untuk bertindak tegas menangani kasus ini. Penanganannya harus bijaksana dan berjalan di koridor undang-undang yang sesuai, mengingat para pelaku dan korban masih di bawah umur”. Selain itu, Jokowi berharap masyarakat untuk selalu berhati-hati dalam menggunakan media sosial.

Saat ini, masyarakat tengah menghadapi masalah perubahan pola interaksi sosial dari yang hanya bertatapan langsung hingga melalui layar media sosial. Dalam masa transisi pola interaksi sosial itu, Jokowi mengingatkan orang tua untuk lebih hati-hati dan mengawasi anak-anak. Peran serta keluarga, guru, dan masyarakat sangat diperlukan untuk melakukan kontrol terhadap efek setiap perubahan yang ada.

Jokowi menegaskan bahwa tidak memperbolehkan adanya perundungan apalagi hingga menganiaya secara fisik. Usulan revisi terhadap regulasi yang berkaitan dengan anak-anak penting, namun yang terpenting adalah budaya, etika, norma yang berlaku serta nilai agama yang tidak memperbolehkan adanya hal semacam itu. Oleh karena itu, Jokowi meminta Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengusut tuntas kasus ini sesuai prosedur hukum yang berlaku. Dia ingin kasus tersebut ditangani secara tegas.

Polresta Pontianak akhirnya menetapkan tiga orang sebagai tersangka. Mereka berinisial L, TPP, dan NNA. Mereka dijerat dengan Pasal 76C juncto Pasal 80 ayat 1 UU Perlindungan Anak tentang kekerasan terhadap anak. Polisi menyatakan penetapan tersangka ini dilakukan setelah polisi menemukan bukti yang cukup serta kesesuaian keterangan antara saksi dan korban. Saat ini proses penyidikan masih berlangsung.

Masih Ada Korban Sebelum Audrey

Audrey dikabarkan bukanlah korban pertama. Sebuah cuitan yang disematkan oleh akun @iluveavocado menyebut, Audrey adalah korban kedua. “Jadi aku kebetulan se-grup sama sepupunya Audrey and kata sepupunya, tantenya Audrey bilang kalau… AUDREY ITU KORBAN KEDUA. ini bukti chat dan betapa kejamnya sudah pelaku-pelaku itu”cuitnya, Rabu (10/4/2019). Akun @iluveavocado menyebut, korban pertama adalah anak Polisi.

Meski orangtuanya dikabarkan Polisi, namun korban pertama tidak berani melapor karena orangtua pelaku disebut-sebaut memiliki kekuasaan.

“Kita gak tau ya orang tua pelaku seperti apa. Belum secara legal dinyatakan bahwa orang tua pelaku pejabat atau apa karena masih dari mulut ke mulut aja. Dan aku dapet semua info dari sepupu audrey ya. “Diceritakan, bahkan korban pertama juga menjenguk Audrey. “Korban pertama ini bahkan jenguk Audrey,dan BAPAKNYA KORBAN PERTAMA POLISI. Tapi saking traumanya dia gak mau speak up jadi di pendam saja itu,” cuitnya.

Namun, belum ada kepastian mengenai latar belakang korban pertama dan belum diklarifikasi oleh pihak terkait. Yang ingin penulis sampaikan bahwa jangan jadikan usia dibawah umur alasan untuk meloloskan pelaku kejahatan. Sejatinya untuk manusia setingkat SMA sudah bisa berpikir yang benar dan salah serta bisa mengendalikan prilaku di lingkungan sosialnya. Jika hal ini dibiarkan maka akan ada Audrey kedua, ketiga, dan selanjutnya. Pelaku yang bebas berkeliaran dan beranggapan bahwa apa yang dia lakukan tidak salah maka akan terus mengulangi perbuatannya tersebut terhadap orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…