Jokowi Undercover: Fitnah yang Keji!

Pada tahun 2016 lalu, masyarakat digemparkan dengan adanya tulisan mengenai Jokowi dan keluarganya. Tulisan yang pertama kali disebarkan melalui media sosial ini menuding bahwa sejarah keluarga Jokowi yang merupakan aktivis PKI. Sontak tulisan yang dibuat oleh Bambang Tri Mulyono ini menjadi kontroversial di publik. Pria pendiam ini diketahui oleh kakak sulungnya, Endang, merupakan seorang yang keras dan mengagumi sosok Prabowo Subianto.

Mulanya Bambang menggunakan media sosial untuk mendistribusikan buku itu dikarenakan tidak ada toko buku yang mau menjual hasil karyanya tersebut. Namun, setelah tulisannya banyak mendapat tanggapan, buku akhirnya di cetak ratusan eksemplar. Dalam bukunya disebutkan bahwa Sudjiatmi, ibunda Presiden Joko Widodo, dulunya adalah Sekretaris Jenderal Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Lalu, Widjiatno Mihardjo, ayah Jokowi, ditulis sebagai Komandan Organisasi Perlawanan Rakyat (OPR) yang dikomandoi Partai Komunis Indonesia (PKI). Bambang juga menuduh presiden memalsukan data dirinya ketika mencalonkan diri sebagai pejabat negara, selain menyebut Jokowi sebagai keturunan Tionghoa. 

Michael Bimo yang masih satu keluarga dengan Jokowi menyebut bahwa isi buku tersebut mengandung fitnah dan kebohongan. Menurutnya hal ini telah mencemarkan nama baik Jokowi karena isu tentang PKI dan komunisme adalah masalah yang luar biasa di negeri ini. Kemudian Ia melaporkan kasus ini ke kepolisian. Bambang ditetapkan menjadi tersangka karena membuat buku “Jokowi Undercover” yang dianggap berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Bambang dijerat Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, serta Pasal 207 KUHP tentang Penghinaan terhadap Penguasa.         

Di dalam buku tersebut, ada banyak pihak yang ikut terseret, salah satunya mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) A.M. Hendropriyono. Menurutnya, hal-hal yang dikemukakan oleh Bambang di dalam buku tersebut tidak mendasar dan tidak sesuai dengan fakta. Kemampuan menulis Bambang tidak mengikuti sistematika ilmiah. Tulisan Bambang Tri cenderung ke arah fitnah karena tidak dilengkapi dengan data primer dan sekunder atau sumber lainnya.  

Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Tito Karnavian, kemudian memerintahkan tim dari Badan Reserse Kriminal Polri untuk membedah buku Jokowi Undercover yang ditulis Bambang Tri Mulyono. Berdasarkan hasil pembedahan buku Jokowi Undercover, polisi mencatat beberapa kelemahan sang penulis buku. Berikut ini kelemahan tersebut.

Penulis tidak memiliki kemampuan metodologi untuk melakukan penelitian.

Tito mengatakan, penyidik melihat fakta dan metodologi penulisan buku itu. Menurut Tito, metodologi penulisan harus dilengkapi dengan data pendukung. Namun, dalam buku Jokowi Undercover, penulis tidak bisa menunjukkan data primer seperti akta kelahiran atau sumber pertama atau orang yang mengetahuinya. “Contohnya penulis mengatakan, mohon maaf, Bapak Jokowi ini keturunan dari A, kami tanya apakah penulis punya data primer? Tapi ini tidak ada,” kata Tito di kantornya, Jakarta Selatan, Rabu, 4 Januari 2017. Penyidik juga menanyakan keberadaan data sekundernya. “(Kami tanya lagi) Ada enggak data sekunder? Dia katakan tahu dari orang lain,” kata Tito. Orang lain yang dimaksudkan penulis juga tidak mempunyai rujukan atau buku.

Penulis menganalisis lalu membuatnya menjadi sebuah tulisan.

Tito menduga Bambang sebagai penulis menganalisis sendiri karena dia tidak bisa menunjukkan data primer dan tidak ada rujukan atau buku. “Jadi dia menganalisis sendiri berdasarkan foto, dihitung sendiri gambarnya, panjang alisnya, segala macam. Dia punya enggak keahlian itu?” ucap Tito.

Penulis tidak lulus pendidikan kesarjanaan.

Tito mengatakan Bambang tidak lulus jenjang pendidikan kesarjanaan (strata satu). Menurut Tito, penulis Jokowi Undercover itu tamat sekolah menengah atas. “Waktu kami interview, mohon maaf kemampuan intelektualnya relatif menengah ke bawah,” ujarnya.

Kemampuan menulisnya berantakan.

Menurut Tito, penyidik Bareskrim Polri ragu akan kemampuan menulis Bambang. “Kemampuan menulisnya berantakan, tidak mengikuti sistematika,” ujarnya. Ia bahkan menilai tulisan Bambang bahkan tidak seperti skripsi.

Penulis diduga diajari seseorang untuk menulis buku itu.

Tito mengatakan penyidik Bareskrim Mabes Polri sedang mendalami siapa yang mengajari Bambang. Sebab, penyidik meragukan kemampuan menulis Bambang.

”Kami akan dalami siapa yang menggerakkan, siapa yang mengajari dia (Bambang),” kata Tito. “Kami akan lihat siapa di balik dia, kami akan usut. Tolong dicatat.”

Akhirnya Bambang Tri Mulyono, sang penulis “Jokwoi Undercover” divonis selama 3 tahun penjara pada sidang pengadilan Negeri Blora, Jawa Tengah (29/05/2017). Majelis Hakim PN Blora menilai Bambang Tri bersalah telah menyebarkan ujaran kebencian melalui media sosial yakni Facebook dengan akun Bambang Tri. Dia juga dianggap bersalah telah melakukan penghinaan kepada penguasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…