Justiceforaudrey Haruskah Bullying Jadi Perhatian Khusus Pemerintah

Audrey, seorang siswi SMP di Pontianak Kalimantan Barat, dikeroyok oleh sejumlah siswi SMA. Akibat pengeroyokan itu, siswi 14 tahun ini mengalami trauma dan kini masih dirawat di sebuah rumah sakit. Dugaan sementara pemicu pengeroyokan adalah masalah asmara dan saling komentar di media social. Dilansir sejumlah media, pengeroyokan terhadap Audrey terjadi pada Jumat, 29 Maret 2019. Namun orang tuanya baru melaporkan ke Polsek Pontianak Selatan satu pekan kemudian atau pada Jumat, 5 April 2019.

Ketua Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kalbar, Eka Nurhayati Ishak mengatakan pihaknya pada Jumat (5/4) sekitar pukul 13.00 WIB, menerima aduan dari korban yang didampingi langsung oleh ibunya. Dalam aduan itu korban melaporkan dirinya telah mengalami kekerasan fisik dan psikis, seperti ditendang, dipukul, diseret sampai kepalanya dibenturkan ke aspal. Pengeroyokan ini diduga dipicu oleh persoalan asmara dan saling balas komentar di media sosial.

Dunia maya tak gelap mata. Tagar #JusticeforAudrey menjadi salah satu tagar yang sedang naik daun di Indonesia bahkan di dunia. Dunia pun ingin keadilan ditegakkan. Bahkan ada sebuah petisi untuk menuntut keadilan tentang perkara ini yang hingga saat ini mendapatkan 2juta lebih penandatangan. Nama Indonesia terasa tercoreng karena tindakan bullying yang menjadi tagar trending. Lalu sejauh ini bagaimanakah cara pemerintah mengatasi bullying? Sudahkah ada program yang dilakukan pemerintah?

Sebenarnya Pemerintah juga sudah melakukan program mengenai anti-bullying. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) membuat sebuah pendekatan khusus terhadap sekolah-sekolah karena sekolah dinilai menjadi tempat paling sering terjadinya bullying. Pendekatan ini kemudian mendorong lahirnya sekolah ramah anak. Deputi Perlindungan Anak KPPPA Sri Danti Anwar mengatakan, di dalam pendekatan tersebut salah satunya diisi dengan program disiplin positif. Program ini melibatkan para pendidik dan guru dari tingkat SD sampai SMA untuk dilatih agar bisa mencegah kekerasan di sekolah. KPPPA membuat model perlindungan anak terpadu berbasis masyarakat. Kepala-kepala desa diajak untuk melibatkan organisasi perempuan untuk bergerak agar anak bisa terawasi, terpantau, dan terlindungi.

Sayangnya, sepertinya program pemerintah belum berjalan sebagaimana mestinya. Seperti yang dikatakan Meity Arianty, STP., M.Psi di okezone.com, jumlah kasus di sektor pendidikan per 30 mei 2018 mencakup, tawuran 14,3%, kekerasan atau bullying 25,5%, dan putus sekolah 18,7%. Beberapa alasan mereka melakukan bullying adalah karena mereka kurang peka, mencari perhatian, modeling perilaku keluarga, mendapatkan reward karena membully, tidak ada kontrol emosi, pernah menjadi korban bully, cemburu, hingga frustasi. Angka persentase tertinggi adalah di bullying dimana berarti program pemerintah faktanya belum tersampaikan secara penuh. Peraturan Menteri tentang bullying pun belum menjadi perpres sehingga Pemerintah terkesan belum tegas menanggapi bullying.

Cara Finlandia Mencegah Bullying

Program-anti-bullying-Finlandia
Program-anti-bullying-Finlandia

Seperti yang diliput brilio.net, Kementerian Pendidikan Finlandia telah membuat sebuah metode dalam mengatasi bullying. Program ini disebut KiVa yang merupakan singkatan dari “Kiusaamista Vastaan” yang secara harfiah berarti melawan tindakan bullying.Program ini terbagi menjadi dua, yakni aksi universal (Universal Actions) dan aksi nyata (Indicated Actions). Aksi universal menanamkan nilai-nilai lewat pelajaran di sekolah seperti lewat video games, pelajaran di kelas, dan panduan untuk orang tua. Aksi nyata mencakup arahan atas tindakan yang dilakukan saat bullying terjadi, diskusi terbuka dengan anak-anak korban bullying dan pelaku bullying, dan aksi lainnya. Guru harus mampu menganalisis kepribadian siswa dan memberikan materi sesuai dengan posisi murid. Misalnya ketika seorang murid A memiliki kemungkinan besar untuk melakukan tindakan bullying, maka dia akan diberikan materi yang menempatkan dia pada posisi korban sehingga murid A bisa memahami kemungkinan yang terjadi jika dia melakukan apa yang terjadi.

Lalu apa yang terjadi jika murid tetap melakukan tindakan bullying? Pertama: mereka akan diajak berdiskusi dengan tim KiVa. Setelah satu atau dua minggu, akan diadakan follow-up atau pengecekan apakah siswa masih melakukan tindakan bullying. Jika iya, maka akan diberikan hukuman. Hukumannya berbeda-beda tergantung kebijakan sekolah. Namun dari program KiVa yang sudah berjalan, siswa sudah tidak lagi melakukan bullying sejak tahap pertama, yaitu diskusi dengan tim KiVa.

Bagaimanakah hasilnya? KiVa telah diteliti selama 20 tahun, dan hasil yang ditunjukkan cukup memuaskan. Dikutip dari CNN.com, program ini menunjukkan hasil yang sangat yang memuaskan di mana tindakan bullying berkurang, bahkan mengurangi depresi yang dialami oleh korban bullying. Dikutip juga dari Educationworld.com, program ini efektif dalam mengurangi tindakan bullying pada 9 bulan pertama sejak dimulainya program ini.

Bullying harus menjadi perhatian pemerintah. Kasus serupa bisa jadi akan terjadi lagi di masa depan. Pemerintah bisa melakukan studi banding, mencontoh dari bagaimana Finlandia mengatasi bullying. Pemerintah juga bisa melakukan kampanye anti-bullying ke masyarakat seperti yang dilakukan Kanada dengan Anti-Bullying Day setiap tanggal 28 Februari. Tak hanya itu, orang tua, guru, dan lingkungan juga memegang peranan penting dalam mencegah bullying. Dalam pencegahannya pun, negara harus mampu menciptakan lingkungan yang aman dimana para anak-anak dan remaja, baik korban maupun pelaku bullying bisa merasa nyaman, sehingga mereka mau mencurahkan isi pikiran mereka dan mendapatkan dukungan secara mental.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…