Kampanye Ricuh Bisa Coreng Kota Budaya Jogja

Kericuhan terjadi saat masa simpatisan PDIP yang hendak berangkat mengikuti kampanye di Kulonprogo melewati Markas FPI Yogya di Jalan Wates, Gamping, Sleman Yogyakarta pada hari Minggu (7/4) lalu dipicu oleh tindakan saling ejek. Dikutip dari Tirto.id (7/4), Kapolda DIY mengatakan bahwa akibat dari penyerangan itu, markas FPI yang juga merupakan posko pemenangan Capres-Cawapres nomor urut 02 Prabowo-Sandi mengalami sejumlah kerusakan. Mobil yang parkir didepan markas akhirnya terkena lemparan batu yang menyebabkan kaca mobil pecah.

Kericuhan ini tidak lepas dari kegiatan kampanye terbuka yang berlangsung di Yogyakarta sejak Minggu (7/4/2019) hingga Rabu (10/4/2019), sehingga rawan menimbulkan gesekan antar pendukung. Sejak hari Minggu hingga hari ini, Polda Yogyakarta telah menerjunkan kekuatan penuh untuk mengamankan kampanye terbuka ini. Ketua PDIP D.I Yogyakarta, Bambang Praswanto mengatakan, tindakan simpatisan PDIP ini dilatari provokasi, sehingga terjadi pembalasan dan bentrok fisik. “Di situ ada pancingan dan provokasi yang mengakibatkan pembalasan oleh simpatisan PDIP dan bentrok fisik. Kita serahkan kepada aparat kepolisian agar mengusut tuntas supaya adil,” kata dia saat dikonfirmasi Tirto, Minggu (7/4/2019).

Kerusuhan dalam kampanye juga terjadi pada Februari 2019 lalu di luar gedung Grand Pasific Hall, Sleman saat Prabowo menyapa masyarakat dan purnawirawan TNI-Polri DIY-Jateng. Kericuhan juga terjadi akibat provokasi antar pendukung kubu Jokowi dan kubu Prabowo.

Gambaran Berbudaya Tidak Tercermin

Jogja sebagai kota seni dan budaya Indonesia dikenal dengan penduduk yang menjunjung tinggi kesopanan dan kearifan. Bahkan wisatawan domestik dan mancanegara yang berkunjung ke Jogja sangat menghargai dan menghormati kebiasaan dan kebudayaan yang ada disana. Tapi mengapa ketika berhadapan dengan politik seakan warga Indonesia yang di Jogja kehilangan budaya kesopanan sehingga gampang diprovokasi dan melupakan kearifan? Apalagi kericuhan ini melibatkan organisasi keagamaan.

Pelaksanaan kampanye yang berujung kericuhan antar warga sebenarnya tidak akan didukung oleh pihak yang sedang melakukan kampanye. Apalagi jika sampai ada korban kericuhan, biasanya korban tersebut hanya diamankan. Panitia kampanye hanya memberikan himbauan saja. Jadi, jika demikian untuk apa masyarakat bersusah payah sampai tergoda untuk melakukan provokasi? Yang ada hanyalah persatuan dan kesatuan bangsa menjadi terpecah, sedangkan pihak-pihak yang punya kepentingan pribadi akan memanfaatkan situasi tersebut. Bahkan Jogja akan dikenal menjadi kota yang tidak aman saat pelaksanaan kampanye. Hal ini bisa mencoreng Jogja sebagai kota berbudaya.

Hukum Tetap Mendampingi Budaya

Kericuhan di Jogja saat kampanye merupakan kasus yang tidak terjadi dikota manapun selama kampanye terbuka dilaksanakan. Kampanye dikota-kota lain cenderung berjalan dengan aman. Dalam Pembukaan UUD 1945, diamanatkan kepada bangsa Indonesia untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Hukum yang diciptakan manusia mempunyai tujuan untuk menciptakan keadaan teratur, aman dan tertib. Jika masyarakat lupa akan kedua hal ini, maka menciptakan kerusuhan dimanapun berada merupakan hal yang mudah. Masyarakat menjadi mudah dipecah belah dan diprovokasi.

Adanya alasan pendidikan yang rendah sehingga pesan-pesan kerukunan dan ketertiban ini tidak tersampaikan kepada mereka yang suka menciptakan keributan tetap harus ditegaskan dengan peranan hukum. Jangan hanya karena Markas Pusat Front Pembela Islam (FBI) berada di Jogja, hukum Indonesia menjadi lengah. Setiap tindakan yang menimbulkan perpecahan bangsa, pencetusnya harus ditindak tegas oleh aparat hukum. Hukum harus tetap berdiri mendampingi uniknya seni dan budaya yang ada di Jogja. Dengan demikian kampanye mendatang, Jogja dapat mencerminkan keamanan dan ketertiban sebagai kota yang berbudaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Pegawai Rutan Makassar Mengikuti Upacara Gabungan Dalam Memperingati Hari Bela Negara

Jakarta (RakyatRukun.com) – Memperingati Hari Bela Negara, Kepala Rutan Kelas I Maka…