Jakarta (RakyatRukun.com) – Ketimpangan antarnegara akibat kolonialisme pada abad ke-21 bisa lebih parah. Kolonilalisme ini lewat penguasaan algoritma big data yang merupakan hasil perkawinan revolusi teknologi dalam biologi dengan revolusi teknologi dalam pengolahan informasi.

“ketika anda memiliki cukup data, anda tidak perlu mengirim tentara untuk mengendalikan suatu negara. Revolusi artificial intellegent (AI) mungkin menciptakan ketimpangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tidak hanya antar kelas, tetapi juga antar negara,” demikian disampaikan Harari dalam ‘How to Survive the 21st Century’ session.

Perang tak berkesudahan

Hasrat untuk menaklukan, menguasai dan mengekploitasi sesama tampaknya sudah menjadi bagian sejarah umat manusia. Setiap usaha untuk menciptakan perdamaian dan keadilan, selalu saja berujung kegagalan.

Perang tetap saja tidak bisa bisa dihindarkan meski jumlah korban yan jatuh tidak sediki. Liga bangsa-bangsa yang dibentuk pasca perang dunia I, misalnya, merupakan upaya agar peperangan tidak lagi terulang. Perang dunia II tetap tidak terhindarkan.

Perang dunia III, sejauh ini tidak terjadi bukan karena keberhasilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam mencegahnya. Namun, lebih pada dua negara adidaya ketika itu, AS dan Uni Soviet, tidak ingin melakukan perang terbuka.

Mengingat dampak buruk yang akan dialami keduanya terlepas dari siapa pun yang menang atau kalah. Terbukti kemudian, banyak negara yang mengalami perang pada masa perang dingin tak lepas dari keterlibatan kedua negara itu, yang saling memperluas pengaruh.

Karena itu, bubarnya Uni Soviet dan runtuhnya tembok Berlin pada 1989 yang menandai berakhirnya perang dingin, menguatkan harapan tak ada lagi perang. Kejatuhan Blok Timur disebut sebagai kemenangan liberalisme dan kapitalisme yang menjunjung nilai demokrasi dan HAM.

Namun, harapan itu ternyata tak terbukti. Bahkan, memasuki abad ke-21 perang masih terjadi di beberapa negara. Sebut saja, perang kongo II, konflik Darfur, Konflik Ukraina, hingga gejolak yang sampai sekarang mendera negara-negara di kawasan Timur Tengah.

Menengok perang tak kunjung bisa dicegah, fisikawan Albert Einstein pernah menyurati Sigmund Freud dan mengatakan, semua usaha untuk meniadakan perang telah gagal karena di dalam diri manusia ada kesenangan membenci dan menghancurkan. Freud setuju dengan pendapat itu dan mengatakan, manusia seperti binatang yang memecahkan persoalan dengan menggunakan kekerasan (Suryohadiprojo, 2005).

Mengutip B Jongman dan J Van der Dennen (2005) dalam The Great War Figures Hoax: an Investigation in Plemomythology, sejak 3.600 SM dunia hanya mengenyam periode perdamaian selama 292 tahun. Selama masa tersebut terhitung telah terjadi perang sebanyak 14.531 kali, baik perang besar maupun perang kecil, dengan korban jiwa sebanyak 3.640.000.000 orang (Sarsito, 2008).

Karena perang, persekusi dan berbagai kekerasan tersebut, berdasarkan data Komisi Tinggi PBB untuk pengungsi (UNHCR) tahun 2018, sebanyak 70,8 juta orang terpaksa meninggalkan keiaman atau kampung halamannya.

Dari tanah ke data

Perang yang dikobarkan umat manusia menyimpan berbagai tujuan. Misalnya, penyebaran agama, perluasan jajahan, perebutan wilayah, kekuasaan dan sumber daya ekonomi. Namun, diantara banyak tujuan itu yang paling dominan adalah motif ekonomi.

Dalam Indonesia menggugat dan mencapai Indonesia merdeka, bung Karno menjelaskan soal imperialism tua pada abad ke-16, 17, dan 18 serta imperialism modern pada abad ke-19 atau abad ke-20.

Imperialism yang diartikannya sebagai nafsu, selsel menguasai atau mempegaruhi bangsa lain, pada dasarnya sama saja, baik yang tua maupun modern. Yakni, hasrat memaksimalkan utilitas. Imperialisme tua ditandai dengan monopoli perdagangan rempah-rempah dan tanam paksa.

Sementara itu, imperialism modern adalah era persaingan yang ditunjukan dengan berdirinya pabrik, industri, dan bank. Bagi rakyat, menurut Bung Karno, kedua imperialism itu sama-sama memboyong sumber daya ekonomi ke luar pagar. Rakyat tetap susah dan menderita.

Bagaimana pada abad ke-21? Dalam 21 lessons for the 21st Century (2018), menurut Harari, yang disinggung dalam awal tulisan ini, pada abad ke 21 data akan menggeser tanah dan mesin sebagai aset paling penting.

Politik akan menjadi perjuangan untuk mengontrol aliran data. Perlombaan untuk mendapatkan data sudah terjadi, dipimpin raksasa-raksasa data seperti Google, Facebook (AS), serta Baidu dan Tencent (RRC).

Saat ini, orang senang memberikan data dengan imbalan layanan surel gratis dan video kucing lucu. Yang menarik, Harari membandingkan, ini agak mirip dengan suku-suku Afrika dengan suku asli Amerika yang tanpa sadar menjual seluruh negara mereka kepada imperialis Eropa dengan imbalan manik-manik berwarna-warni dan pernak-pernik murah.

Data-data kita tak hanya diberikan kepada pengiklan. Bahkan kita adalah produk mereka. Dalam jangka panjang, raksasa data tersebut dapat meretas rahasia terdalam kehidupan kita. Bukan hanya untuk memberikan pilihan, melainkan juga untuk merekayasa ulang kehidupan Organik dan untuk menciptakan kehidupan anorganik. Inilah yang ia sebut dengan digital dictatorship, dimana manusia menurut Hariri, menjadi Hackable Humans.

Menurut dia, kekuatan AI ini akan menciptakan kekayaan luar biasa di beberapa pusat teknologi tinggi. Sementara, negara-negara lain akan bangkrut, atau menjadi koloni data yang dieksploitasi. Lantas dimana posisi Indonesia dalam perang AI ini?

Agaknya sama dengan negara berkembang lainnya, disadari atau tidak, diakui atau tidak, kita telah menjadi koloni data yang dieksploitasi, melalui kegiatan ekonomi dan sosial yang saling terhubung dengan teknologi Internet.

Indonesia menjadi hackable state dan hackable people, dimana dua negara besar menjadi pemain utama, yakni AS dan China. Karena itu, perlu strategi visioner dan berani yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan kita bias keluar dari peretasan data kehidupan organic kita, sehingga kita tidak sekedar menjadi objek dari perang AI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Malware Berkedok Film Nominasi Oscar 2020 Tersebar di Internet

Jakarta (RakyatRukun.com) – Kemeriahan Oscar 2020 yang terjadi di dunia nyata dan ma…