Kelompok Rahasia Diantara Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi

Litbang Kompas mengeluarkan hasil survey terhadap elektabilitas pasangan calon presiden dan wakil presiden pada rentang waktu 22 Februari 2019 – 5 Maret 2019. Pada hasil survey tersebut menunjukkan kenaikan suara yang signifikan untuk pasangan Prabowo-Sandi, sedangkan walaupun masih unggul, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf turun. Menurut litbang Kompas, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf turun 3,4 persen, dari 52,6 persen pada Oktober 2018 menjadi 49,2 persen. Selisih kedua suara mengecil menjadi 11,8 persen. (Baca juga : Meskipun Masih Unggul, Elektabilitas Jokowi Turun)

Ada 3 penyebab naiknya elektabilitas Prabowo-Sandi menurut peneliti litbang Kompas antara lain : Pertama, Prabowo-Sandiaga tidak hanya berhasil menjaga basis pendukung kalangan menengah ke atas, tetapi juga memperluas kuantitas dukungan dari karakteristik kelompok itu. Kedua, meskipun tidak terlalu masif, perluasan dukungan terhadap Prabowo-Sandi juga tampak di kategori responden lapis bawah sosial ekonomi dengan meningkat dari 28,9 persen menjadi 32,5 persen. Ketiga, perluasan dukungan terhadap Prabowo-Sandi juga ditopang oleh loyalitas dan agresivitas para pendukungnya. Pemilih Gerindra, PKS, Demokrat, dan PAN semakin loyal dan terfokus pada Prabowo-Sandi.

Diantara selisih nilai elektabilitas kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden sebesar 13,4 persen menyatakan diri sebagai kelompok rahasia atau belum menentukan pilihan. Belum diketahui kelompok rahasia ini didominasi oleh golongan mana. Namun berdasarkan data tersebut, penurunan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf berasal dari kelompok menengah ke atas yang beralih ke Prabowo-Sandi, dan sebagian kelompok yang berpendidikan rendah menjadi ragu dan beralih ke kelompok rahasia. Perubahan pilihan tersebut disebabkan oleh berubahnya pandangan terhadap kinerja pemerintah khususnya dibidang politik, keamanan, hukum dan sosial. Dari segi usia, perpindahan pilihan terjadi pada generasi tua antara 53-71 tahun dan generasi milenial matang antara usia 31-40 tahun.

Walaupun terdapat kemunculan kelompok rahasia ini, namun suara 13,4 persen ini tidak boleh diabaikan karena berpotensi menjadi golput atau tidak memilih kandidat manapun. Kelompok rahasia ini harus dipetakan kembali berasal dari rentang usia mana saja, sehingga segera dikenali untuk dilakukan tindak lanjut sosialisasi mengenai kedua kandidat. Selain itu, kemungkinan sebagian kelompok rahasia tersebut kemungkinan telah memiliki pilihan mereka, namun masih enggan menunjukkan pilihannya kepada publik dan lebih memilih menyimpan pilihan sampai Pemilu 2019 bulan April nanti tiba. Kehadiran kelompok rahasia ini memang menimbulkan suasana misterius, bahkan kedua kandidat pasangan calon akan dibuat penasaran akan pilihan mereka. Salah satu solusinya adalah tim sukses kedua kandidat pasangan calon presiden dan wakil presiden harus bekerja keras meyakinkan kelompok rahasia untuk menentukan pilihan mereka, sehingga diharapkan angka golput dalam Pemilu 2019 nanti kemungkinan kecil atau nihil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Selamat Hari Korpri, 48 Tahun Berkarya, Melayani, dan Menyatukan Bangsa

Jakarta (RakyatRukun.com) – Dilansir dari laman Kompas.com, Pada setiap 29 November …