Peran Indonesia Membangun Hubungan Internasional

Dalam pagelaran KTT ASEAN-India di Rasthrapati Bhawan, India Kamis (25/1/2018) lalu, Presiden Jokowi mengungkapkan konsep kawasan Indo-Pasifik. Dalam pernyataan yang kemudian dikutip oleh Reuters, Jokowi mengatakan akan kepercayaannya melalui mekanisme yang dipimpin ASEAN dan melalui kemitraan ASEAN-India guna mewujudkan kawasan Indo-Pasifik yang damai, stabil dan sejahtera dapat tercapai. Negara-negara di sepanjang Samudera Hindia dan Samudera Pasifik (kawasan Indo-Pasifik) dinilai berpotensi menjadi obyek baru tarik-menarik konstelasi kekuatan dunia. 

Menurut Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Retno Marsudi saat menyampaikan pandangan Indonesia terkait konsep Indo-Pasifik pada pertemuan tingkat Menteri ke-8 East Asia Summit (EAS) di Singapore Expo (4/8/2018) menyatakan bahwa, bagi Indonesia, kondisi ini dapat mempengaruhi peran sentral dan relevansi ASEAN sebagai kawasan yang menjadi poros Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Untuk itu Indonesia memandang penting bagi ASEAN untuk terus mempertahankan peran sentralnya dan menjadikan Indo-Pasifik kawasan sebagai kawasan yang terbuka, transparan, inklusif dan menghormati hukum internasional serta kooperatif dengan menggunakan mekanisme EAS sebagai platform utama. Untuk itu Indonesia tengah mengembangkan sebuah wawasan mengenai Indo-Pasifik dengan prinsip-prinsip tersebut.

Dihadapan 10 negara ASEAN dan 8 mitra wicara (Australia, Jepang, RRT, Korea Selatan, India, New Zealand, Rusia dan Amerika), Menlu Retno menjelaskan bahwa bidang kerja sama maritim, konektivitas dan pembangunan berkelanjutan merupakan 3 titik awal kerja sama yang diusung Indonesia bagi Indo Pasifik yang sejahtera dan damai. Oleh karena itu, Indonesia merasa perlu mengembangkan kerja sama ekonomi berdasarkan kepentingan bersama melalui peningkatan kerja sama maritim dan konektivitas sebagai faktor pendorong

Indo-Pasifik Menurut Pendapat Para Menhan 

Penerapan konsep Indo Pasifik tentunya memiliki tantangan tersendiri bagi setiap negara-negara yang terlibat didalamnya. Dikutip dari Tempo.co, Perdana Menteri India, Narendra Modi, dan Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Jim Mattis, berpidato soal peran sentral Asean dalam keamanan di kawasan Indo-Pasifik mendapat tanggapan. Pernyataan kedua pejabat tinggi ini disampaikan pada forum Shangri-la Dialogue, yang digelar pada 2 Juni 2018 lalu di Singapura.

Menteri Pertahanan Vietnam, Jenderal Ngo Xuan Lich, mengatakan mendukung konsep ini, namun Vietnam merasa masih harus mempelajari konsep strategi Indo Pasifik secara aktual dan lebih dekat lagi sehingga kami bisa menyesuaikan dengan kebijakan negaranya. Sedangkan Menteri Pertahanan Indonesia, Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu, mengatakan Indonesia telah memiliki strategi untuk mengatasi dinamika keamanan di sekitar wilayah yurisdiksinya. 

Dalam pidatonya, PM India Modi mengatakan kawasan Indo Pasifik sebagai kawasan alamiah yang ditempati sejumlah negara. Modi berpendapat Asia Tenggara sebagai pusat kawasan Asia Pasifik. Dia juga berbicara soal kepemimpinan India di Laut Hindia, yang sekarang mendapat tantangan dengan kehadiran angkatan laut Cina. 

Pada pekan lalu, Pentagon mengubah nama komando Pasifik AS menjadi Komando Indo-Pasifik AS. Ini dinilai sebagai langkah simbolik untuk menghargai peran India, yang meningkat belakangan ini. Pemerintahan Presiden AS, Donald Trump, mulai menggunakan istilah Indo Pasifik sejak 2017 untuk menyebut nama kawasan Asia Pasifik. Ini juga langkah strategis AS untuk menghadang sikap agresif Cina di Laut Cina Selatan. Sejumlah negara Asean bermasalah dengan Cina mengenai perbatasan negara di Laut Cina Selatan.

Keuntungan strategis Indonesia ditengah persaingan AS-Tiongkok

Dalam KTT ASEAN Ke-32 yang digelar di The Acacia Room, Hotel Shang-La, Singapura, pada Sabtu (28/4/2018), Indonesia kembali mengusung gagasan kerja sama Indo Pasifik, sebagaimana pengembangan kerangka kerja sama Indo-Pasifik harus berdasarkan prinsip-prinsip terbuka, inklusif, transparan dan mengedepankan kerja sama serta persahabatan dibangun melalui kebiasaan dialog dan penghormatan terhadap hukum internasional. Konsep kerja sama Indo-Pasifik harus tetap mengedepankan sentralitas ASEAN. Dapat disimpulkan bahwa Indonesia berada pada kubuh AS untuk menyemarakan konsep Indo-Pasifik tersebut.

Prinsip inklusif berarti bahwa Indonesia tidak menginginkan mekanisme yang menargetkan atau mengecualikan negara tertentu (seperti China). Indonesia juga berusaha untuk mempromosikan ‘cara ASEAN’ (termasuk ‘kebiasaan dialog’) di Indo-Pasifik melalui mekanisme yang dipimpin oleh ASEAN. Untuk Jakarta, arsitektur regional Indo-Pasifik tidak dapat dan tidak boleh merusak sentralitas ASEAN dalam urusan regional.

Tentunya apa yang dapat dipetik dari konsekuensi ini adalah tentang bagaimana Indonesia dapat memainkan peran penting sekaligus mengambil keuntungan strategis ditengah persaingan AS-Tiongkok. Selain itu aspek pertimbangan ekonomis juga tidak luput dari bagaimana cara diplomsi Indonesia melihat serta membaca setiap kondisi yang kemungkinan besar akan membuka peluang bagi Indonesia untuk dapat berperan aktif, atau justru malah sebaliknya.

Tantangan Perilaku Geopolitik AS dan Inggris

Menyadari skema dan rencana strategis di balik konsepsi Indo-Pasifik, maka sosialisasi konsepsi Indo-Pasifik yang digulirkan Trump akhir tahun 2017 lalu, bukan sekadar manuver ekonomi dan perdagangan belaka. Lebih jauh dari itu, manuver ekonomi-perdagangan atas dasar skema Indo Pasifik, paralel dengan manuver militer AS di Asia Pasifik melalui kerangka US PACIFIC COMMAND (US PASCOM).

Selain harus diwaspadai sebagai perilaku geopolitik AS dan Inggris, konsepsi Indo-Pasifik pada perkembangannya juga akan menciptakan peningkatan eskalasi kekuatan militer di Asia Pasifik. Mengingat begitu kuatnya penekanan pada peningkatan kekuatan militer maupun pengembangan strategi militernya. Dengan dalih untuk membendung pengaruh Cina di Asia Pasifik.

Menyadari adanya kepungan dari dua kutub itu, saatnya  para pemangku kepentingan kebijakan luar negeri RI, agar mencermati secara intensif perilaku geopolitik negara-negara adikuasa baik dari Blok Barat yang dimotori AS dan NATO. Maupun blok Timur seperti Cina dan juga Jepang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Pegawai Rutan Makassar Mengikuti Upacara Gabungan Dalam Memperingati Hari Bela Negara

Jakarta (RakyatRukun.com) – Memperingati Hari Bela Negara, Kepala Rutan Kelas I Maka…