Keterlibatan Keluarga Dibalik Aksi Ledakan

Menjelang rencana kedatangan Presiden ke Sibolga pada Minggu (17/3) untuk meresmikan Pelabuhan Sambas, terjadi insiden yang menggemparkan penduduk setempat. Ledakan yang diduga bom tersebut terdengar di kawasan pemukiman warga di Jalan Cendrawasih, Kelurahan Pancuran Bambu, Kecamatan Sibolga Sambas, Sumatera Utara, Selasa (12/3).  Bom meledak pasca penangkapan terduga pelaku tindak pidana teroris di kota Sibolga, Husain alias Abu Hamzah. Dilaporkan satu anggota polisi terluka dalam insiden ini.

Abu Hamzah, pelaku terduga teroris ditangkap tim Densus 88 Antiteror pada Selasa 12 Maret 2019 sekira pukul 14.23 WIB saat berada di luar rumah. Penangkapan ini merupakan pengembangan dari penangkapan terduga teroris R di Lampung pada Sabtu (8/3). Seperti dilansir news.detik.com, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan pelaku terduga teroris yang dapat ditangkap Densus 88 Antiteror di Sibolga dan Lampung merupakan bagian dari jaringan yang berafiliasi dengan ISIS. Kadiv Humas Polri Irjen M Iqbal saat dimintai konfirmasi mengatakan bahwa ketika polisi hendak menggeledah rumah pelaku, terjadi ledakan yang mengenai seorang petugas sekitar pukul 14.50 WIB.

Ledakan kembali terdengar di rumah pelaku ketika pihak kepolisian berupaya meminta istri dan anak terduga teroris untuk menyerahkan diri. Ledakan tersebut terdengar dua kali sahingga rumah dipenuhi asap. Husain alias Abu Hamzah, terduga teroris di Sibolga, Sumut, disebut polisi sebagai bagian dari jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berafiliasi dengan ISIS. Kabar terakhir menyebutkan bahwa istri pelaku diduga meledakkan diri dini hari tadi. Pasca ledakan ini, dikabarkan Istri dan kedua anaknya meninggal dunia.

Keikutsertaan Keluarga dalam Aksi Terorisme

Kabar ini tentunya mengetuk hati dan menimbulkan pertanyaan di pikiran masyarakat. Sejauh apa keterlibatan keluarga para pelaku teroris itu dalam mendukung kegiatan radikalisme ini. Hal yang paling disorot ketika kasus terorisme terjadi adalah keikutsertaan istri dan anak para pelaku untuk membantu perakitan atau yang paling ekstrem menjadi seorang bomber. Diberitakan oleh merdeka.com, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menuturkan, fenomena bom bunuh diri melibatkan wanita bukan pertama kali terjadi di Indonesia. Tahun lalu, Jawa Timur diguncang bom bunuh diri yang dilakukan tiga keluarga dalam dua hari selama sepekan.

Keterlibatan wanita dan anak-anak dalam dunia terorisme bukan kali pertama terjadi. ISIS sering melibatkan anak-anak dalam perang dan serangan. Mereka digunakan sebagai pengecoh dan pengalih perhatian dari orang-orang sehingga ISIS menjadi lebih mudah masuk ke lokasi yang menjadi target bom bunuh diri. Para wanita juga digunakan oleh ISIS karena mereka menilai wanita lebih bisa menyatakan aspirasi di media sosial dan sulit untuk dicurigai oleh aparat. Seperti yang dikutip dari bbc.com, Pengamat Terorisme Noor Huda menyebut pelibatan keluarga dalam aksi jihad ini sebagai ‘pendekatan yang super baru’. “Memang (rasa) kekeluargaan ini yang menjaga mereka menjadi kuat,” cetusnya. Kejadian bom Bali I juga dilakukan oleh kakak beradik Amrozi, Mukhlas dan Ali Imron.

Aksi terorisme yang marak terjadi dan melibatkan satu keluarga beserta anak-anak mereka yang masih di bawah umur menunjukkan perubahan terhadap pola aksi teror. Para wanita yang merupakan istri dan ibu menjadi pelaku yang aktif dan dapat dengan mudah memanipulasi anak menjadi pelaku. Ada beberapa alasan yang memotivasi para wanita untuk bergabung dengan kelompok radikal ini. Motivasi tersebut diantaranya karena adanya kepribadian seperti narsistik, fanatik, religius, dan psikopatologi. Kemudian dipengaruhi juga oleh latar belakang personal dan orang-orang terdekat yang lebih dahulu tergabung dalam jaringan terorisme. Umumnya para wanita ini masuk mengikuti suaminya, entah karena kesadaran sendiri atau sebagai bentuk ketaatan pada perintah suami. Selain itu identitas sosial yang mereka yakini sebagai umat muslim mendorong mereka untuk terlibat lebih jauh dalam kelompok terorisme. Hal ini dilakukan sebagai pembalasan atas apa yang menimpa saudara mereka sesama muslim di luar negeri seperti Suriah dan Palestina yang tengah mengalami situasi perang.

Pada kasus kelompok terorisme lama seperti Jemaah Islamiyah (JI) dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) tidak banyak melibatkan wanita dalam pelaksanaan misinya. Hal ini dikarenakan prinsip anggotanya yang mirip dengan konsep tradisi Jawa, bahwa wanita berada pada ranah domestik dan laki-laki pada ranah publik. Selain itu terdapat kepercayaan bahwa wanita memang tidak seharusnya mencampuri urusan laki-laki. Berbeda halnya dengan kelompok ISIS yang telah melibatkan perempuan pada ranah yang lebih luas dan penuh dengan resiko. Melihat hal ini dikhawatirkan keterlibatan wanita dan anak-anak dalam praktis lapangan akan lebih banyak. Pemerintah harus bekerja ekstra keras untuk memberikan penyuluhan dan pemahaman kepada masyarakat agar tak berbaur dengan kelompok radikal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…