Mengingat kita semua adalah sebangsa dan setanah air Indonesia, tidak perlu ada niat untuk saling menghancurkan. Mulai dari Kivlan Zein yang menyuruh Tajudin alias Udin, tersangka Habil Marati yang menyokong dana atas rencana pembunuhan serta tersangka lainnya yang berperan sebagai pencari eksekutor dan eksekutor sendiri, kenapa mereka ingin membunuh rekan yang merupakan teman sebangsa dan setanah air Indonesia? Sebelumnya, Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu meragukan pengakuan para tersangka yang berencana melakukan pembunuhan terhadap sejumlah tokoh nasional. Menurut Menhan, mengapa sebangsa setanah air ingin saling membunuh dan berharap upaya pembunuhan tersebut tidak terjadi.

Tersangka makar Tajudin yang video testimoninya diputar oleh polisi mengaku mendapat perintah untuk membunuh 4 pejabat negara. Melansir Detik.com (11/6), Udin bicara sambil berdiri dan mengenakan kaus hitam dan putih. Berikut ini pengakuan lengkap Udin dalam video testimoni yang diputar pada saat konferensi pers yang dilakukan oleh Kabid Humas Polri, Selasa (12/6) siang lalu:

Nama Tajudin, tempat tanggal lahir Bogor 11 Januari 1979. Saya mendapatkan perintah dari Bapak Mayjen Purnawirawan Kivlan Zen melalui Bapak Haji Kurniawan alias Iwan untuk menjadi eksekutor penembakan target atas nama: satu, Wiranto; dua, Luhut Pandjaitan; tiga, Budi Gunawan; empat, Gories Mere.

Saya diberikan uang tunai total 55 juta dari Bapak Mayjen Purnawirawan Kivlan Zen melalui Haji Kurniawan alias Iwan. Kemudian rencana penembakan dengan senjata laras panjang kaliber 22 dan senjata laras pendek. Senjata tersebut saya peroleh dari Haji Kurniawan alias Iwan.

Tanggapan Rencana Pembunuhan Pejabat Negara

Wadir Reskrimun  Polda Metro Jaya, AKBP Ade Ary juga mengungkapkan perencanaan pembunuhan kepada 5 tokoh nasional dimana 4 diantaranya adalah Pejabat Negara dan 1 Pimpinan Lembaga Survey (Baca Juga : Polri Mengungkap Dalang Kerusuhan 21-22 Mei, Bagaimana Kelanjutannya?).

Jenderal Purn.TNI Luhut Binsar Panjaitan

Jenderal Purn. TNI Wiranto

Jenderal Purn. Pol. Budi Gunawan

Komjen Purn. Gories Mere

Yunarto Wijaya, Direktur Eksekutif Charta Politica

Saat diwawancari usai pelantikan Gubernur Lampung Arinal Djunaidi di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (12/6/2019), Jenderal Purn. TNI Wiranto menyampaikan tanggapannya tentang menjadi salah satu target pembunuhan.

 “Ini pengakuan dari berita acara pemeriksaan, testimoni yang disumpah. Bukan karangan kita. Paling tidak kan sudah bisa menetralisir bahwa Wiranto lebay, karangan pemerintah, karangan aparat keamanan, mencari popularitas. Masyaallah, ya, saya katakan. Tapi saya nggak ngomong apa-apa,” ujar Wiranto.

Dalam akun twitter Wiranto juga menuliskan untuk tetap teguh dan tidak perlu surut dengan ancaman pembunuhan.

Kita Sebangsa, Tidak Perlu Saling Menghancurkan

Saat ini, Wiranto meminta publik bersabar terkait pendalaman kasus kerusuhan 22 Mei. Pihak terkait masih melakukan pengusutan.

Direktur Lembaga Survey Charta Politika, Yunarto Wijaya yang merupakan salah satu target pembunuhan berencana, lewat akun Twitter-nya, @yunartowijaya, mengaku sudah tidak lagi memiliki dendam baik bagi perencana pembunuhan terhadapnya maupun eksekutor. Yunarto menambahkan, dalam situasi seperti ini, ia belajar tentang apa makna kasih termasuk ketika ia bisa memaafkan orang memusuhi dirinya.

Cuitan Yunarto Wijaya di akun Twitternya
Cuitan Yunarto Wijaya di akun Twitternya

Sedangkan Luhut Panjaitan pernah menyampaikan tanggapannya soal dirinya yang menjadi salah satu target pembunuhan. Melansir Kompas.com (31/6), Luhut menyesalkan adanya ancaman pembunuhan di sela-sela aksi demonstrasi yang berakhir ricuh itu. Meski diakuinya, ancaman semacam itu merupakan hal yang biasa ia terima saat berkarir sebagai tentara.

Jika perbedaan pendapat terjadi, serta merasakan ketidakadilan dalam negara sendiri, hal yang paling bijak adalah dengan menempuh jalur hukum yang benar serta sesuai dengan Undang-undang yang berlaku. Negara Indonesia adalah negara hukum, sehingga segala sesuatu telah diatur didalam hukum. Pertemuan dan diskusi antar kedua belah pihak juga diperlukan agar bertemu secara fisik dan psikologis sehingga komunikasi dan ekspresi terasa dalam menentukan keputusan. Selayaknya upaya pembunuhan merupakan tindakan yang melanggar hukum dan agama, apalagi jika selama ini kita adalah orang yang taat dalam menjalankan ibadah agama. Sangat tidak layak jika disertai dengan pikiran yang merencakan sebuah pembunuhan apalagi terhadap teman sebangsa dan setanah air. Tindakan jahat kemudian akan memicu kejahatan lainnya serta upaya balas dendam sehingga memicu perpecahan ditengah-tengah bangsa. Hal ini tentu tidak kita inginkan mengingat Indonesia adalah negeri dan rumah kita sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…