Wisnu-kuncoro-saat-ditangkap-KPK

Di Indonesia, Korupsi lebih sering diartikan sebagai penyalahgunaan jabatan resmi untuk keuntungan pribadi. Semua bentuk pemerintah atau pemerintahan rentan korupsi. Bahkan pemerintahan kita terasa sangat akrab dengan korupsi. Sebut saja kasus BLBI, kasus Soeharto, hingga yang terbaru yaitu e-KTP. Kasus-kasus tersebut terasa membongkar seluruh keburukan citra pemerintahan. Indonesia serasa memiliki tokoh koruptor yang selalu mencuat tiap tahunnya. 2019 sudah berjalan 3 bulan, terasa tidak butuh waktu lama bagi kita untuk menunggu pejabat yang akan korupsi.

Hari Jumat lalu, (22/3), seperti yang dilansir detik.com, Direktur Teknik PT. Krakatau Steel. Tbk, Wisnu Kuncoro ditangkap KPK di Kawasan Tangerang Selatan dengan barang bukti berupa uang Rp 20 juta. Dia ditangkap bersama 5 orang yang salah satunya diduga sebagai perantara suap yakni Alexander Muskitta . Kuncoro ditangkap karena diduga melakukan penerimaan sejumlah uang suap dari Alexander agar rekanan tertentu bisa tembus mengerjakan 2 proyek Krakatau Steel yang masih-masing bernilai Rp 24 miliar dan Rp 2,4 miliar. Bahkan penangkapan ini berdekatan dengan hari pernikahan anak Kuncoro. Netizen pun ramai. Mereka menghujat sang direktur. Sang direktur dituduh tak tahu diri karena memperkaya diri dengan cara yang buruk.

Mengaitkan korupsi dengan pejabat memang sah-sah saja. Lagipula korupsi sangat berhubungan erat dengan kekuasaan, dimana biasanya dimiliki oleh pejabat. Namun korupsi bisa jadi adalah satu tindakan yang tidak melibatkan seorang saja, tetapi melibatkan banyak orang. Dilansir dari detik.com, Ketua KPK Agus Rahardjo mengatakan banyak pejabat di Indonesia yang melakukan korupsi. Bahkan, menurut Agus, anggapan yang tertangkap itu sedang sial terkadang bisa disebut benar. Bisa saja hanya satu orang yang mendalanginya, kemudian melibatkan banyak pihak, termasuk staff paling bawah. Pada akhirnya apabila kena batunya, maka pimpinannya lah yang akan bertanggung jawab. Lagipula sebenarnya pimpinan bisa saja mengagalkan rencana korupsi ini. Banyak hal pula yang mendorong dia untuk melakukan korupsi. Mungkin dia mendapat tekanan dari atas, atau tekanan dari pihak ketiga yang bahkan mampu menekan dia, atau memang dia menginginkan uang kotor itu.

Korupsi diserap dari kata corruption. Menurut kamus Oxford English Dictionary, berarti Dishonest or fraudulent conduct by those in power, typically involving bribery. Artinya adalah Perilaku tidak jujur ​​atau curang oleh mereka yang berkuasa, biasanya melibatkan suap. Mari kita menggarisbawahi kalimat “perilaku tidak jujur atau curang”. Sederhananya, kita tidak akan dianggap melakukan korupsi jika kita jujur atau tidak curang.

Penanggulangan Korupsi oleh Pemerintah

Corruption-perception-map-2017
Corruption-perception-map-2017

Peta di atas menunjukkan gambaran jumlah korupsi di dunia. Semakin warnanya biru, angka korupsi makin rendah. Mari kita lihat negara-negara dengan warna biru yang berarti angka korupsinya rendah. Dari sekilas saja terlihat bahwa Amerika, Eropa, Australia, dan beberapa negara kecil lain saja yang angka korupsinya kecil. Ternyata bukan Cuma Indonesia, bahkan negara-negara di benua Afrika lebih parah daripada negara kita dalam hal korupsi. Nyatanya negara maju ternyata lebih sedikit angka korupsinya.

Seperti yang diungkapkan Rimawan Pradiptyo, Salah satu ciri negara maju adalah tingkat korupsi cenderung rendah. Hal ini berbeda dengan negara sedang berkembang, yang belum memiliki sistem kelembagaan yang baik sehingga tingkat korupsi relatif tinggi dibanding di negara maju. Sistem kelembagaan yang baik terdiri dari sumber daya yang baik, budaya yang baik, serta sistem kerja yang baik pula. Sayangnya, di Indonesia belum banyak instansi yang memiliki 3 faktor di atas dalam keadaan baik.

Dalam rangka menciptakan sistem pemerintahan yang baik, sebenarnya pemerintah tidak gelap mata. Mari kita lihat contoh pelayanan satu pintu di situs pelayanan.jakarta.go.id. Karena pelayanan masyarakat yang dipangkas birokrasinya, hal ini menjadikan peluang korupsi diperkecil, dan masyarakat dipermudah. Dengan ini citra masyarakat ke pemerintah menjadi baik. Ini adalah salah satu perintis sistem kelembagaan yang baik. Paling tidak saat ini pemerintah juga berusaha untuk memangkas birokrasi dalam rangka meningkatkan sistem kelembagaan.

Lalu, mampukah kita mencegah korupsi di masa depan?

Pemerintah melalui Kemendikbud, ternyata telah menyadari hal ini dan menerbitkan sebuah buku. Dalam buku yang diterbitkan Kemendikbud berjudul Pendidikan Anti Korupsi untuk Perguruan Tinggi, ada salah satu pendekatan yang mampu mencegah terjadinya korupsi di masa depan, yaitu Pendekatan Budaya. Disadur dari buku tersebut, Matakuliah Anti-korupsi tidak berlandaskan pada salah satu perspektif keilmuan secara khusus. Matakuliah Antikorupsi lebih menekankan pada pembangunan karakter anti- korupsi (anti-corruption character building) pada diri individu mahasiswa. Tujuan dari matakuliah Anti-korupsi adalah membentuk kepribadian anti-korupsi pada diri pribadi mahasiswa serta membangun semangat dan kompetensinya sebagai agent of change bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang bersih dan bebas dari ancaman korupsi. Selain itu, melalui Kemenristekdikti, Pendidikan antikorupsi juga akan segera dilaksanakan untuk sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas/ kejuruan.

Sejauh ini pemerintah melakukan tindakan preventif yang bagus terhadap korupsi. Kita tidak menuai hasil dari pendidikan ini sekarang, namun di masa depan. Pemerintah harus mendorong anak-anak bangsa untuk mampu bukan hanya kemampuan intelegensi yang baik, tetapi juga membangun budaya yang baik dan sistem kerja yang baik. Dengan konsep pembelajaran antikorupsi yang mengiringi pembelajaran tersebut, kita pun berharap agar di masa depan, usaha pemerintah ini tidak sia-sia. Jika anak-anak bangsa tidak mempelajari 3 faktor dan pembelajaran antikorupsi ini dengan baik, bukan tidak mungkin di masa depan budaya buruk korupsi akan selalu menjadi citra buruk Indonesia.

Pada akhirnya, setelah seluruh usaha yang dilakukan pemerintah untuk memberikan ilmu pencegahan korupsi kepada kita, eksekutornya adalah kita sendiri. Korupsi merugikan kita, banyak orang, bahkan citra negara kita. Tanggungan beban yang dibawa karena tindakan ini sangatlah besar. Selanjutnya kita harus memiliki kata hati yang baik, yang berani mengatakan tidak untuk korupsi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…