Sejak pertama kali populer di Amerika Serikat pada 2009, politik tagar masih relevan sampai 2019 ini. Selama Pemilu 2019, publik pernah dihebohkan oleh tagar-tagar semacam #2019GantiPresiden, #Jokowi2Periode sampai #UninstallBukalapak. Terlepas dari segala kontroversinya, perkembangan politik tagar di Indonesia lebih menarik dengan melakukan interpretasi terhadap makna-makna yang terkandung dibalik simbol #.

Tagar
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), simbol # merujuk pada kata ‘tagar’ -singkatan dari ‘tanda pagar’ yang didefinisikan sebagai petanda topik bahasan dalam status media jejaring sosial. Masih dalam KBBI, kata ‘tagar’ – bukan ‘tanda pagar’ dan yang tidak menggunakan simbol # punya definisi lain, yaitu guruh atau guntur. Walaupun definisi kata ‘tagar’ pertama dan kedua berbeda, bahkan terkesan tidak nyambung. Akan tetapi dengan melihat praktik politik tagar di dunia maya selama ini, keduanya punya hubungan dengan penjelasan filosofis sendiri. Bahwa dibalik suatu tagar yang menjadi trending topic, terdapat kecenderungan pengguna tagar yang emosional, responsif dan reaksioner terhadap tagar tersebut. Ibarat ketika hujan, tidak ada guruh yang mendahului kilat.

Mari kita ambil contoh saat masa pemilu 2019. Tak akan ada tagar #UninstallJokowi, apabila pendukung Presiden Jokowi tidak terlalu responsif dan reaksioner terhadap pernyataan Ahmad Zaky soal anggaran R&D pemerintah dan Presiden baru. Seandainya pernyataan Ahmad Zaky lebih dilihat dalam bentuk kritik yang konstruktif dan pengingat. Mungkin tidak akan ada interpretasi ‘liar’ yang didasarkan pada emosi, bahwa kata-kata ‘Presiden Baru’ yang ditulisnya merujuk pada salah satu kandidat. Data yang dikutip Zaky boleh jadi lawas, tetapi kritiknya merupakan refleksi kondisi di Indonesia sekarang. Karena anggaran R&D rendah, kita masih menjadi konsumen barang-barang dan ahli teknologi dari luar.

Ruang
Simbol # bermakna lebih dari sekedar tagar yang ‘emosional’. Bagi seorang penyunting naskah misalnya, simbol # bermakna perlunya menyisipkan spasi atau ‘ruang’ di antara dua kata dalam suatu kalimat. Antara maknanya sebagai ‘ruang’ dan praktiknya dalam politik tagar, simbol # kemudian menjadi salah satu alasan penyempitan ‘ruang’ kebebasan berpendapat oleh beberapa kelompok yang berpikiran ‘sempit’. Seperti kasus tahun lalu, dimana salah satu petinggi partai politik dilaporkan ke Polisi karena gerakan #2019GantiPresiden di media sosial diduga makar.

Lebih jauh lagi, ‘ruang’ kebebasan berpendapat di Indonesia memang terlihat makin sempit karena terjadi penyalahgunaan ketentuan hukum dalam Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 tentang Informasi Teknologi Elektronika (UU ITE). Sekarang ini kritik rakyat berarti delik oleh pejabat dan simpatisannya. Entah dengan delik pidana ujaran kebencian, pencemaran nama baik dan penghinaan. Ulasan dalam salah satu artikel media online yang berjudul “Jerat UU ITE Banyak Dipakai Oleh Pejabat Negara”, memperlihatkan statistik  Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet), bahwa sebagian besar pelapor adalah pejabat negara. Adapun sebagian besar terlapor kasus UU ITE adalah kalangan aktivis, mahasiswa, dosen dan jurnalis yang cenderung melakukan kritik dan investigasi.

Bilamana salah satu makna simbol # adalah keperluan akan ‘ruang’. Seharusnya praktik-praktik politik tagar lebih ditujukan untuk memperluas ‘ruang’ kebebasan berpendapat, bukan sebaliknya. Bisa berupa gerakan-gerakan di media sosial yang diarahkan pada upaya-upaya untuk merevisi beberapa pasal dalam Undang-Undang ITE atau membangun diskusi ‘sehat’ di ruang publik.

Skakmat

Bagi seorang pecatur, simbol # bermakna skakmat (checkmate). Skakmat merupakan istilah dalam permainan catur yang artinya Raja Kalah. Penulis sendiri paling tertarik dengan makna ini, karena interpretasinya relevan dengan pertarungan politik di Indonesia sekarang, yang bernuansa kental dengan sikap manusia-manusia ‘emosional’ yang membuat ruang  kebebasan berpendapat makin ‘sempit’. Jika politik tagar ditujukan untuk saling ‘men-skakmat’ lawan. Maka muncul pertanyaan, seperti apa ‘skakmat-nya’ nanti?

Apakah dengan skakmat yang terbilang tragis, karena ‘tertahan’ prajurit dan perwira sendiri. Istilahnya adalah smothered mate dan corridor mate. Jika dalam smothered mate, ‘skakmat-nya’ dilakukan oleh perwira kuda, saat raja tak bisa bergerak karena dikelilingi oleh prajurit dan perwiranya sendiri. Maka dalam corridor mate, kondisi raja tidak jauh berbeda, hanya ‘skakmat-nya’ dilakukan oleh perwira benteng atau ratu.

Atau dengan skakmat yang tergolong langka, hampir mustahil terjadi, bahkan dalam permainan catur antar pemula. Istilahnya adalah fool’s mate. Skakmat ini hanya bisa dilakukan pemain dengan bidak hitam, karena kejeliannya kemudian memajukan prajurit di depan raja sejauh dua petak, sehingga ratu bisa bergerak diagonal sejauh empat petak tepat di depan perwira benteng sendiri. Dengan catatan bahwa sebelumnya, pemain dengan bidak putih melakukan kecerobohan, pada langkah pertama sudah memajukan prajurit di depan perwira kuda dan perwira gajah sebelah raja sejauh dua petak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Aplikasi PeduliLindungi Tracing Kontak Covid-19 Aman, Tapi Hati-Hati Palsuannya!

Jakarta, RakyatRukun.com – Melansir CNNIndonesia.com tanggal 18 April 2020, Pemerint…