Mampukah Pemerintah Mendorong Masyarakat Menggunakan Transportasi Umum Massal

Transportasi merupakan satu di antara berbagai masalah yang selalu menghantui kota-kota besar dunia, termask di Indonesia. Dampak urbanisasi dan pertumbuhan penduduk di kota-kota besar yang sangat cepat menuntut pemerintah untuk dapat memenuhi kebutuhan transportasi massal yang nyaman dan aman untuk beraktivitas. Jakarta sebagai ibukota Negara dan merupakan salah satu pusat bisnis penting di Asia Tenggara tak lepas dari permasalahan kemacetan dan kondisi transportasi massal yang kurang memadai. Sementara pertumbuhan jalan-jalan di kota selalu tertinggal dibandingkan pertumbuhan penjualan kendaraan bermotor. Hanya ada satu jawaban untuk bisa menyelesaikan masalah kemacetan, yaitu moda transportasi umum massal. Sayangnya walau negeri ini sudah merdeka tujuh puluh tahun, penataan kota dan sistem transportasi masih tertinggal jauh. Kini pemerintah berupa keras menata dan membangun sistem transportasi yang baik dan terpadu.

Sosialisasi Program Retrukturisasi Angkutan Umum Massal

Dalam beberapa pekan belakangan ini, isu tentang retrukturisasi angkutan umum massal guna menciptakan sistem angkutan umum massa yang lebih aman dan nyaman, banyak dimunculkan media massa dalam pemberitaannya. Program yang diusung pemerintah ini juga banyak mendapatkan tanggapan dari sejumlah pihak terkait, seperti Organda. Mereka meminta agar pemerintah melibatkan mereka dalam kegiatan restrukturisasi angkutan umum massal. Isu ini perlu dilontarkan lagi kepada media massa untuk menunjukkan bahwa pemerintah peduli dengan permasalahan yang dihadapi moda transportasi umum massal di negeri ini serta kenyamanan dan keamanan penumpang dalam menggunakan moda angkutan umum.

Mengapa Masyarakat Indonesia Malas Menggunakan Moda Transportasi Umum Massal

Permasalahannya mengapa masyarakat cenderung lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi ketimbang moda transportasi umum dikarenakan kondisi angkutan umum dan juga fasilitas di Indonesia yang jauh dari kata baik di perkotaan maupun pedesaan. Di hampir semua kawasan, angkutan umum berada dalam kondisi yang kian memburuk atau stagnan. Hal ini terindikasi dari persentase pengguna angkutan umum dari tahun ke tahun yang cenderung menurun dengan perkecualian pengguna KRL di Jabodetabek yang meningkat, dan penumpang BRT di Jakarta yang relatif stabil. Sementara di sisi lain, kendaraan bermotor pribadi justru semakin meningkat populasi, dan  penggunaannya. Fenomena ini diperparah dengan belum siapnya para pelaku industri angkutan umum dalam menangkap perubahan preferensi konsumen serta kondisi pasar dengan cepat dan tepat.

Untuk menjawab semua kendala itu, transformasi sangat penting diwujudkan guna menyelamatkan industri angkutan umum Indonesia. Transformasi berupa perubahan pola pikir baik penyedia jasa maupun pemerintah sebagai regulator serta transformasi pola pikir masyarakat sebagai pengguna. Penyedia jasa harus belajar dari pengalaman bahwa mereka sedang bergerak dalam industri yang berubah secara cepat menjadi sebuah industri jasa. Tuntutan pengguna bukan sekadar keberadaan layanan namun ketepatan layanan, kualitas, jumlah, konsistensi, keamanan serta kenyamanan. Penyiapan rute trayek, perencanaan usaha, operasional hingga pencapaian keselamatan harus dilakukan dengan jelas dan detail karena ini mencakup kebutuhan masyarakat banyak yang tuntutan perbaikan layanan akan meningkat setiap hari.

Pemerintah Harus Memfasilitasi Sarana Transportasi Untuk Semua Kalangan Masyarakat

Pada prinsipnya pemerintah harus memfasilitasi mobilitas semua kalangan masyarakat, baik masyarakat kalangan menengah ke atas maupun kalangan menengah ke bawah. Untuk kalangan menengah ke atas yang membutuhkan akses cepat, pemerintah harus memfasilitasi kebutuhan tersebut misalnya dengan membangun jalan tol. Sedangkan untuk kalangan menengah ke bawah yang sangat mengandalkan transportasi umum untuk mobilitasnya, pemerintah juga harus memfasilitasi hal tersebut dengan menyediakan moda transportasi umum massal. Baik pembangunan jalan tol dan transportasi umum massal harus dibangun karena keduanya mempunyai peruntukannya masing-masing untuk menunjang mobilitas seluruh masyarakat. 

Sistem transportasi massal harus dirancang apabila suatu kota ingin berkembang. Begitu moda transportasi massal tersedia, lebih mudah untuk mengatur perilaku masyarakatnya. Semua angkutan umum ditata terlebih dahulu, seperti angkutan umum yang nyaman, aman, dan terjangkau. Masyarakat tidak perlu dipaksa untuk pindah ke transportasi umum karena akan menyadari sendiri keunggulan dari moda transportasi umum tersebut jika semua aspek fasilitas diperhatikan dan ditata dengan baik.

Keseriusan Pemerintah Mendorong Masyarakat Menggunakan Transportasi Umum Massal

Dalam rangka memenuhi kebutuhan transportasi yang efektif dan efisien, pemerintah kini sedang membangun Mass Rapid Transit (MRT), yang sudah mulai dikerjakan sejak Presiden Jokowi masih menjabat Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Namun, ada juga tujuan lain yang hendak dicapai pemerintah, yaitu pembangunan moda transportasi massal lainnya yang terintegrasi dengan moda transportasi lainnya dan terkoneksi dengan pusat-pusat bisnis juga diharapkan dapat menginsipirasi pemerintah daerah, di sejumlah kota besar di Indonesia, dalam membangun moda transportasi massal. Keseriusan pemerintah dalam membangun fasilitas transportasi umum massal ini penting untuk menunjukkan bahwa transportasi massal modern yang nyaman dan dapat diandalkan memang bisa diwujudkan di Indonesia.

Saat ini pemerintah mengandalkan dua jaringan besar angkutan umum, yaitu KRL (Commuter)  dan Busway. Dalam waktu dekat akan ada dua jaringan besar lagi yang diharapkan akan bisa membantu mengurai benang kusut kemacetan, yaitu MRT dan LRT. Secara garis besar pemerintah telah mampu memberikan bukti keseriusan dalam membangun dan mendorong masyarakat untuk beralih menggunakan Moda Transportasi Umum Massal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…