Dua hari yang lalu, Bumi dikejutkan dengan mendekatnya planet terbesar kedua di antariksa yaitu Saturnus ke planet Bumi. Planet yang mempunyai lingkaran cincin ini dapat dilihat dengan mata telanjang dari Bumi. Melansir Kompas.com, planet Saturnus terlihat dari Bumi pada Rabu (10/7/2019) senja hingga Kamis (11/7/2019) dini hari. Saturnus akan mengalami oposisi dengan Bumi dan fenomena ketika dua planet mencapai jarak terdekat satu sama lain karena orbit elipsnya. Planet tersebut akan mencapai jarak 1,351 miliar kilometer dari Bumi atau sekitar 10 kali jarak Matahari-Bumi. Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) membenarkan bahwa planet Saturnus dapat dilihat dengan mata telanjang dari Bumi berupa cahaya seperti bintang yang mempunyai cahaya yang paling bersinar terang diantara bintang lainnya. Jika ingin melihat cincin yang mengelilinginya bisa dengan menggunakan teleskop. Dengan teleskop, bulan yang dimiliki oleh planet Saturnus juga akan terlihat. Diantara 62 bulan yang dimiliki oleh Saturnus, bulan yang paling jelas terlihat adalah Titan.

Baru-baru ini Lembaga antariksa miliki Amerika Serikat NASA berencana mengeluarkan misi observasi terhadap planet Saturnus dan salah satu bulan yang dimilikinya yaitu Titan. Menurut NASA, Titan adalah satelit terbesar di Saturnus yang kemungkinan juga memiliki mahkluk hidup di lautannya. Teknisi NASA yang bernama Janelle Wellons tersebut mengatakan bahwa manusia seharusnya mempertimbangkan bulan milik planet Saturnus, Titan, sebagai lokasi koloni baru jika Bumi tidak lagi bisa dihuni.

Wellons mengatakan dalam wawancaranya dalam Futurism, “Bagaimana jika kita mempertimbangkan salah satu dari dunia air yang ada di sistem tata surya yaitu Titan.” Seperti yang diketahui selama ini, para peneliti melirik planet Mars yang merupakan planet terdekat dengan Bumi untuk diobservasi mengenai kemungkinannya manusia tinggal disana. Peneliti NASA juga menyebut bahwa Titan merupakan tempat tinggal bagi pensiunan NASA kelak. Bagaimana fakta jika benar Titan dapat dihuni kelak oleh manusia?

Suhu Dingin di Titan Saturnus

Suhu di planet Saturnus diperkiraan dapat mencapai -180 derajat Celsius. Berdasarkan riset dari NASA, bulan yang ditemukan pada tahun 1655 ini hanya menerima 1% dari sinar matahari yang diterima Bumi. Hal tersebut yang menyebabkan suhu dingin di Titan. Fakta ini menjadikan Titan mendapat sebutan sebuah dunia es dengan lapisan atmosfer berkabut keemasan.

Bisa Berenang di Lautan Metana, Titan Tidak Seburuk Perkiraan

Melansir Detik.com, Wellons menyebut bahwa permukaan Titan tidak seburuk perkiraan, seperti adanya cairan yang membentuk danau dan lautan. Cairan yang membentuk danau dan lautan ini dibuat dari metana. Meski demikian, Wellons tetap antusias dan mengatakan dengan menggunakan pakaian pelindung yang tepat manusia akan bisa berenang di laut tersebut. Hal yang paling menarik adalah ia juga mengatakan bahwa atmosfer Titan yang sangat tebal akan membuat impian manusia yang ingin bisa terbang menjadi lebih mudah. Cara keren hidup dengan menempelkan sayap pada lengan, memungkinkan manusia lebih mudah terbang. Hal ini bisa terjadi karena Titan memiliki 3 kali lebih besar atmosfernya dari Bumi sehingga dapat terhindar dari radiasi luar angkasa. Tebalnya atmosfer ini memungkinkan manusia dapat terbang dan terlindung dari sinar radiasi.

Titan tetap memiliki sisi negatif yang membuatnya sulit untuk ditinggali. Namun demikian, NASA telah berencana untuk meluncurkan misi antarika menuju bulan terbesar Saturnus yaitu Titan. Misi ini akan menggunakan pesawat luar angkasa bernama Dragonfly yang dijadwalkan meluncur pada tahun 2026. Semoga dengan rencana misi ini NASA mampu mendapatkan fakta baru di Titan yang berguna untuk kelangsungan hidup manusia di Bumi.

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Pawai Rolasan Meriahkan Maulid Nabi

Tegal (RakyatRukun.com) – Dilansir dari laman Wartabahari.com, Antusiasme warga iringi pag…