Saat membuka simposium pada Selasa (9/7/2019), Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu mengklaim telah mendesain strategi pertahanan dengan konsep Smart Power.  Dalam simposium yang bertema “Penataan Wilayah Pertahanan Dalam Rangka Mewujudkan Pertahanan Negara yang Canggih” di Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat tersebut, Menhan menjelaskan bahwa Smart Power merupakan sistem perang kombinasi antara hard power dengan soft power.

Melansir Beritasatu.com, Ryamizard menjelaskan hard power terdiri atas‎ kekuatan rakyat, TNI dan kesiapan Alutsista. Sementara soft power berupa mempengaruhi mindset atau pikiran dan diplomasi pertahanan kawasan. Namun bagaimana porsi saat ini, kekuatan mana yang saat ini lebih dominan dibutuhkan oleh Indonesia?

Indonesia Bukan Negara Konflik

Kondisi negara Indonesia memang bukanlah negara konflik yang setiap saat harus khawatir akan adanya perang fisik antar negara. Namun saat ini Indonesia dihadapkan kepada perbedaan pemikiran-pemikiran dari sejumlah kelompok masyarakat yang berpotensi dapat menimbulkan perpecahan dalam bangsa. Isu SARA yang kerap kali dijadikan umpan membuat pemerintah serta aparat keamanan harus selalu waspada manakala pikiran-pikiran yang tidak sesuai dengan dasar negara yaitu Pancasila serta UUD 1945 mulai muncul dikalangan rakyat.

Selain itu ancaman terhadap perbatasan negara saat ini juga dibutuhkan kekuatan untuk menangkal beberapa keadaan dimana kedaulatan teritorial negara Indonesia sering terganggu oleh pihak- pihak luar. Melansir foreignaffairs.com, smart power yang dikembangkan oleh Hillary Clinton di Amerika Serikat pada tahun 2003 untuk melawan kesalahan persepsi. Soft power sendiri dapat menghasilkan kebijakan luar negeri yang efektif. Kekuatan adalah kemampuan seseorang untuk memengaruhi perilaku orang lain untuk mendapatkan apa yang diinginkan seseorang.

Menurut Hillary Clinton, ada tiga cara dasar untuk melakukan smart power ini yaitu: paksaan, pembayaran, dan daya tarik. Hard power adalah penggunaan paksaan dan pembayaran. Soft power adalah kemampuan untuk mendapatkan hasil yang disukai melalui daya tarik. Jika suatu negara dapat mengatur agenda untuk orang lain atau membentuk preferensi mereka,sehingga dapat menghemat banyak daya peralatan. Tapi jarang bisa itu benar-benar diganti. Maka dari itu perlu adanya strategi pintar yang menggabungkan alat-alat baik hard maupun soft power.

Alat Untuk Mengarungi Kerasnya Dunia Internasional

Indonesia tentunya harus memiliki suatu kemampuan untuk beradaptasi dalam menghadapi perkembangan dalam sistem internasional, termasuk pemahaman serta penggunaan akan konsepsi dari power itu sendiri. Keberadaan smart power Indonesia sebagai sebuah alat untuk mengarungi kerasnya dunia internasional saat ini. Penggabungan antara kedua power tersebut sudah saatnya diterapkan melihat Indonesia tidak memiliki kapabilitas militer dan ekonomi yang cukup untuk bisa mematenkan posisi negosiasi dengan cara memaksa, dan juga tidak memiliki pengaruh yang cukup untuk mendapatkan kepentingannya dengan cara yang tidak memaksa. Penggabungan keduanya dianggap relevan bagi Indonesia untuk mampu memenuhi jiwa nasionalismenya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…