Menilik Si Robot Pemantau Situng KPU Milik BPN

Heboh, seorang pria lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) bernama Hairul Anas Suaidi menciptakan robot pemantau Sistem Informasi Perhitungan Suara (Situng) KPU. Tentu saja hal ini mencuri perhatian pasangan calon nomor urut 2 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Memang diketahui bahwa Hairul adalah salah satu Tim IT BPN yang giat meneriakkan kecurangan KPU. Namun, siapa sebenarnya pria lulusan ITB ini dan bagaimana cara kerja robot yang digadang-gadangkannya?

Dari Dunia Kerja Hingga Panggung Politik

Pria kelahiran Pamekasan 20 Juli 1976 tersebut bergelar sarjana teknik. Dilihat dari akun Facebook yang diduga miliknya, terlihat foto poster bergambar Hairul Anas Suadi yang diperkenalkan sebagai calon legislatif DPR RI daerah pemilihan Jatim XI Madura Raya. Dengan nomor 4, Hairul Anas mengibarkan panji Partai Bulan Bintang (PBB) sebagai kendaraan politiknya. Adapun dapil Hairul Anas meliputi Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.

Dirinya juga sudah malang melintang di dunia kerja profesional. Berdasarkan penelusuran SUARA.com di situs LinkedIN, Hairul Anas menjabat sebagai Chief Executive Officer Edumatic Internasional, sebuah perusahaan konsultan teknologi informasi (TI) yang berbasis di Bandung, Jawa Barat. Dikutip SUARA.com dari situs LinkedIN, Hairul Anas menjabat CEO dari Februari 2009 hingga sekarang. Di waktu yang bersamaan, dia menjabat sebagai Country Manager Indonesia Authority Edumatic Sdn Bhd di Brunei Darussalam dari Februari 2009 hingga Februari 2010. Sebelumnya, Hairul Anas sempat menjadi CANON ERP/Accounting Project Manager di Optima Infocitra Universal di Brunei Darussalam sejak Desember 2008 hingga Agustus 2009. Pun dia sempat menjadi senior consultant di Qasya Technologies Sdn Bhd Brunei Darussalam selama 2 tahun dari Agustus 2006 hingga Agustus 2008. Pada Agustus 2000 hingga Agustus 2006, selama 6 tahun, Hairul Anas sempat menjadi software development and infrastructure architect di JII Foundation di Bandung. Selama 1 tahun, dari Agustus 1999 hingga Agustus 2000, Hairul Anas sempat menjadi Training Manager di Jasinfo Electrical Engineering Department ITB.

Cara Kerja Robot “Tidak Ikhlas”

Dalam acara ‘Membedah Kecurangan Pilpres 2019’ di Hotel Sahid, Jakarta, Selasa (14/5/2019), Hairul Anas membeberkan cara kerja robot pemantau situng KPU tersebut. Robot ciptaan Hairul Anas tersebut diklaim menyimpan bukti-bukti menyimpan bukti-bukti secara terstruktur, masif dan sitematis halaman KPU dari hasil screen monitoring tampilan situng KPU menit demi menit secara kontinu.

“Screen monitoring, inilah robot yang saya ciptakan. Ini adalah layar KPU yang saya potret dari menit ke menit. Mulai dari halaman nasional sampai halaman TPS,” ujar Hairul Anas menunjukkan gambar bergerak hasil screen monitoring di depan Prabowo dan Sandiaga Uno.

“Dari Aceh, Bali.. ini urutan daerahnya berdasarkan abjad. Itu dari menit ke menit. Minta dari menit ke berapa pun, akan kami kasih gambarnya,” kata Hairul Anas disambut sorak sorai orang yang hadir di Grand Sahid Jaya.

Hairul Anas pun mengatakan, “Jadi jangan khawatir, bila bapak ibu menemukan kecurangan. Di situ maupun di kenyataan, inilah yang disebut robot tidak ikhlas. Saya tidak ikhlas pak Prabowo Sandi dicuri suaranya.”

“Ini mungkin lebih akurat daripada malaikat yang tidak mereka (oknum curang) takuti. Nah, kalau ini harus mereka takuti, karena ini ada mulai dari tingkat nasional sampai TPS,” ujar Hairul Anas.

Sebutan Robot Dinilai Kurang Tepat

Hairul sudah menggembar gemborkan robot ciptaannya yang memantau ‘kecurangan’ Situng KPU. Namun, terlepas dari tuduhan ‘kecurangan’ tersebut, apakah Situng KPU sudah merupakan keputusan final dalam pilpres saat ini?

Situng merupakan sistem penghitungan yang dilakukan KPU dengan cara menscan dan mengupload formulir C-1 di setiap TPS. Situng dipergunakan untuk menampilkan hitung suara atau real count berdasar formulir C1. Kendati demikian, Situng sudah dijelaskan oleh KPU, bukan sistem penghitungan yang akan menjadi dasar penetapan suara terbanyak di Pemilu. Penetapan suara terbanyak akan dihitung berdasarkan sistem penghitungan manual berjenjang. Jadi Situng hanya alat verifikasi saja atau alat kontrol. Situng pastinya memberikan potret valid tentang hasil Pemilu. Dengan inputnya dari formulir C-1 TPS. Kesalahan entri hanya 0,045%. Real count lewat Situng justru menjadi pintu transparasi, mudah diawasi, dan bisa cepat dikoreksi.

Jika dianalisa dari kacamata IT, sebutan untuk sebuah ‘robot’ dinilai kurang tepat. Dari penjelasan Hairul tentang cara kerja ‘robot’ nya tersebut hanyalah suatu capture screen halaman KPU jam per jam. Ini jelas jauh lebih sederhana jika dibandingkan dengan cara kerja sebuah robot. Untuk dapat diklasifikasikan sebagai robot, mesin harus memiliki dua macam kemampuan yaitu bisa mendapatkan informasi dari sekelilingnya dan bisa melakukan sesuatu secara fisik seperti bergerak atau memanipulasi objek. Tentunya hal ini bukan merupakan hal baru dan tidak efisien. Cara kerja yang sama dengan menggunakan screen recorder yang dapat merekam situs KPU tiap detik dan dapat digunakan oleh siapapun.

Hairul juga mengklaim hasil scan C-1 data background yang bergerak sedangkan tetapi isinya yang merupakan hasil penghitungan suara berubah. Ini tidak ada hubungannya dengan validitas data kerena yang digunakan untuk validasi adalah hasil perhitungan manual per stage mulai dari desa, kecamatan hingga propinsi. Lantas Ia juga mengaku memiliki rekaman semua inputan data lewat Situng. Namun Hairul sama sekali tidak menunjukkan data yang diklaim curang secara rinci.

Penjelasannya mengenai kecurangan yang tertangkap robot tersebut dinilai tidak spesifik dan mendetail. Apapun bentuk dugaan kecurangan tersebut, hendaknya disampaikan secara konstitusional dan  transparan sehingga instrumen pemerintahan yang berwenang dapat memproses hal itu. Masyarakat juga tidak dibodohi oleh doktrin ‘curang’ yang belum jelas kebenarannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…