Sebagian besar orang tentunya menginginkan sebuah hunian yang asri dan indah. Mulai dari mewarnai tembok dengan warna yang digemari hingga mendekorasi rumah dengan berbagai pernak-pernik. Tak ketinggalan hadirnya tanaman hias semakin mempercantik tampilan tempat tinggal. Tanaman hias di dalam rumah bukan hanya sekedar menjadi pajangan atau penghias ruangan saja. Tanaman hias jika ditata apik, diletakkan di lokasi yang tepat, dan dengan pot yang unik akan menjadi bagian dari dekorasi interior rumah secara keseluruhan. Selain menjadikan rumah kita semarak dengan adanya warna-warni alami, ternyata tanaman hias memiliki manfaat lain yang cukup besar bagi para penghuni rumah.

Salah satu tanaman hias yang bermanfaat adalah tanaman Lidah Mertua. Tanaman ini dapat menjadi anti-polutan sehingga membantu mengurangi polusi udara. Maka dari itum, Gubenernur DKI Jakarta Anies Baswedan bergagasan menggunakan Lidah Mertua untuk mengurangi polusi udara di ibukota. Apakah ini satu-satunya cara untuk mengurangi polusi yang parah yang di Jakarta dan seberapa efektifkah tanaman tersebut dalammembersihkan udara ibukota? 

Bukan Pilihan Terbaik Untuk Menyaring Udara

Diberitakan Antara Jumat (19/7/2019), Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Darjamuni menerangkan, tanaman lidah mertua mampu menjadi anti-polutan sehingga membantu mengurangi polusi udara di ibu kota. Namun, benarkah gagasan tersebut?

Berkaitan dengan hal ini, National Aeronautics and Space Administration (NASA) memang pernah menerbitkan studi pada 1989 tentang tanaman lidah mertua. Mereka menemukan, lidah mertua terbukti dapat menghilangkan banyak racun di udara dalam ruangan sehingga bisa menjadi solusi ramah lingkungan. Namun perlu dicatat dan diketahui ada beberapa pengertian yang keliru.

Benar bahwa peneliti NASA mempelajari efek tanaman hias pada kualitas udara. Namun, NASA tidak pernah mengatakan tanaman ini adalah pilihan terbaik untuk menyaring udara. Selain itu, riset NASA ini optimal menyerap polutan di kondisi dalam ruangan. Bukan ruang terbuka. Para ilmuwan NASA menemukan bahwa tanaman hias dapat menyerap gas yang berpotensi berbahaya dan membersihkan udara di dalam bangunan. Dengan kata lain, tanaman lidah mertua yang diletakkan di dalam ruangan secara alami membantu memerangi sick building syndrome.

Selain di dalam ruangan, NASA juga memanfaatkan lidah mertua menjadi obyek penelitian untuk penyaring dan pembersih udara di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Perangi sick building syndrome (SBS) Fenomena sick building syndrome (SBS) muncul pada 1970-an di AS ketika Bumi kekurangan minyak bumi sehingga biaya pemanasan dan pendinginan ruangan sangat mahal.

Karena hal ini, para arsitek berupaya membuat bangunan yang bisa mengurangi biaya pemanasan dan pendinginan ruangan dengan memaksimalkan energi. Hal ini melibatkan bangunan berstruktur kedap udara dengan bahan sintetis dan mengurangi pertukaran udara segar. Meski lebih hemat energi, inovasi ini justru menimbulkan masalah kesehatan baru. Penduduk AS menjadi kekurangan oksigen, saluran pernapas terganggu, sinus, membuat mata gatal, ruam kulit, sakit kepala, hingga mengembangkan kanker tertentu.

Berangkat dari masalah ini, NASA bekerja sama dengan Associated Landscape Contractors of America (ALCA) mencari solusi untuk menghilangkan berbagai faktor risiko yang menimbulkan masalah pada kesehatan itu. Selama dua tahun NASA dan ALCA mencari tahu efek tanaman hias pada ruangan sebagai solusi untuk memerangi polusi udara dalam ruangan. Penting juga untuk menyadari bahwa para ilmuwan tidak hanya mempelajari tanaman. Studi mereka berfokus pada efek dari ukuran daun tanaman, sistem akar mereka, tanah tempat mereka ditanam dan mikroorganisme yang tumbuh di tanah.

 “Dalam studi ini, daun, akar, tanah, dan mikroorganisme terkait tanaman lidah mertua telah dievaluasi sebagai cara yang mungkin dilakukan untuk mengurangi polutan udara dalam ruangan,” tulis ahli NASA dalam abstrak temuan mereka pada 1989.

Semua faktor ini penting ketika mempertimbangkan apakah atau tidak dan seberapa banyak tanaman rumah dalam ruangan mempengaruhi kualitas udara dalam ruangan. Faktor lain dari penelitian ini yang sering dilewati adalah penggunaan sirkulasi udara dan filtrasi karbon dalam kombinasi dengan tanaman sebagai cara menghilangkan polutan udara dalam ruangan yang kuat seperti radon, pelarut organik, dan asap rokok.

“Kombinasi dari sistem penyaringan karbon aktif, aerasi kuat, dan tanaman rumah menghasilkan dekontaminasi udara yang sangat efektif,” terang penjelasan di Plant Care Today. Udara bergerak melalui filter karbon yang memungkinkan sejumlah besar kontaminan diserap oleh karbon dan ditahan untuk diproses lebih lanjut oleh pabrik.

Karena alasan ini pula, Bondan Ariyanu selaku Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia mengatakan, lidah mertua sebagai solusi pengurangan polusi udara Jakarta kurang tepat. Bondan mengatakan bahwa hal yang semestinya dilakukan pemerintah DKI adalah mengendalikan langsung sumber pencemarnya. ungkap Bondan kepada Kompas.com melalui pesan singkat, Senin (22/7/2019).

Untuk itu, Bondan menyarankan pemerintah agar mau turun langsung ke lapangan dan melakukan sosialisasi pada warga Jakarta tentang bahaya membakar sampah, atau ke kawasan industri untuk mengecek apakah emisinya melebihi baku mutu atau tidak. “Beri tilang atau tindakan tegas pada kendaraan umum dan pribadi yang masih ngebul knalpotnya,” ujar Bondan.

China Juga Punya Gagasan seperti Anies

Apakah gagasan Anies sepenuhnya salah? Tidak juga. Hanya belum terbukti secara ilmiah. Sebabnya, polutan di luar ruangan bukan hanya formaldehida dan trikloro-etilen. Ada karbon monooksida, kaerbon dioksida, timbal, hingga partikel debu.

Para peneliti di China sebenarnya juga punya gagasan seperti Anies, menggunakan tumbuhan untuk mengurangi polutan atau senyawa racun. Dalam biologi, pendekatan ini disebut phylloremediation. Salah satu yang umum dan telah terbukti adalah penggunaan eceng gondok untuk menyerap logam berat. Tapi, China pun sampai sekarang juga baru taraf gagasan. Mereka mengidentifikasi sejumlah tanaman yang potensial. Pada saat yang sama, China juga mengakui bahwa langkah pertama adalah mengurangi sumber polutan itu sendiri, mulai dari kendaraan pribadi hingga asap pabrik dan pembangkit listrik.

Lidah Mertua Bukan Satu-Satunya Cara

Anies Baswedan mengatakan bahwa pembagian tanaman lidah mertua secara gratis kepada warga bukan satu-satunya cara yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta untuk mengatasi polusi udara di Jakarta. Anies menyatakan, Pemprov DKI akan melakukan sejumlah cara. Beberapa waktu lalu, Anies menyebut sejumlah cara untuk memperbaiki kualitas udara Jakarta, seperti mewajibkan uji emisi untuk seluruh kendaraan di Jakarta mulai 2020, mewajibkan bengkel dan SPBU memiliki alat uji emisi, melarang penggunaan mesin diesel, mengganti bus berpolusi tinggi, hingga memperbanyak alat ukur kualitas udara.

“Apakah ini (lidah mertua) satu-satunya? Tentu tidak. Jadi, itu bagian dari usaha kita. Semua yang bisa kita kerjakan, insya Allah kita kerjakan,” ujar Anies di Gedung DPRD DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (22/7/2019).

Meski bukan solusi satu-satunya, Anies berharap pembagian tanaman lidah buaya bisa membantu memperbaiki kualitas udara. Langkah utama yang harus dilakukan Jakarta adalah mengurangi sumber polutan. Salah satunya adalah pemberian tilang dan menindak tegas kendaraan umum dan pribadi yang tidak layak pakai.

Lidah mertua, atau tanaman apapun, bisa diteliti untuk membantu mengurangi polusi. Tanaman sirih gading (Epipremnum aureum) lewat riset baru-baru ini terbukti bisa membantu mengurangi partikel polutan PM 2.5. Tapi tetap, tanaman apapun tidak bisa jadi satu-satunya cara menghilangkan polutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…