Mobilitas Semakin Mudah dengan Integrasi Antarmoda Transportasi Umum

Transportasi umum yang mudah dan aman merupakan impian bagi semua masyarakat kota besar. Selain itu transportasi juga lebih murah daripada menggunakan transportasi pribadi. Dan juga kita tidak terlalu menghabiskan tenaga jika menggunakan transportasi umum, bahkan bisa beristirahat didalam kendaraan umum. Sehingga transportasi umum dapat menghemat tenaga kita.

DKI Jakarta sebagai ibu kota dan pusat perekonomian mulai berupaya mewujudkan transportasi yang mudah dan murah dengan menintegrasikan moda-moda transportasi yang ada. Di wilayah DKI Jakarta sendiri ada empat moda transportasi yang siap untuk diintegrasikan. Keempatnya adalah MRT Jakarta, Kereta Commuterline, Bus Trans Jakarta, dan Raillink Kereta Bandara. Keempat moda transportasi tersebut akan terintegrasi di Dukuh Atas, Jakarta Pusat.

Integrasi ini akan mempermudah dalam perpindahan pengguna transportasi dari moda satu ke moda lainnya, setelah MRT Jakarta beroperasi pada akhir maret nanti. Dikutip dari Antaranews.com, PLT Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Sigit Wijatmoko mengatakan sebagai kawasan transit yang besar perlu adanya rekayasa lalulintas untuk mengoptimalkan akses angkutan umum

Pemda DKI Jakarta akan menggunakan sebagian ruang kosong yang berada di ruas jalan Kendal tepatnya berada dibawah fly over Sudirman, sebagai transit hub yang menghubungkan moda transportasi kawasan dukuh atas. Pengerjaan integrasi moda transportasi sudah dimulai pada minggu 3 Maret 2019 kemarin, baik pengerjaan fisik maupun pengalihan arus.

Pemberlakuan integrasi antarmoda ini bisa juga sebagai kelanjutan dari integrasi dari Transjakarta, karena Transjakarta sendiri terbangan dengan bergabungnya beberapa operator angkutan darat, seperti Metromini, Kopaja, dan angkautan lainya. Sehingga integrasi antarmoda kali ini bisa dibilang kelanjutan dari integrasi antarmoda sebelumnya. Karena kali ini juga melibatkan moda transportasi berbasi rel.

Kemudian mengenai sistem pembayaran merupakan hal yang tidak kalah penting dari integrasi fisik antarmoda. Untuk ujicoba MRT dan LRT mendatang dengan jarak hanya 16 kilometer untuk MRT dan 6 kilometer untuk LRT, pengguna pasti melanjutkan perjalanannya dengan moda transportasi lain. Pada saat ujicoba tersebut tarif yang akan diberlakukan adalah sebesar Rp. 10.000,- untuk MRT dan Rp. 6.000,- untuk LRT dengan rute Kelapa Gading – Velodrom. Namun pada saat ujicoba nanti tarif tersebut belum terintegrasi dengan moda transportasi lain yang tergabung dalam Jak Lingko. Akan tetapi dikutip dari Sindonews.com, Kepala Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) Iskandar Abubakar mengatakan rekomendasi DTKJ untuk tarif MRT terintegrasi dengan Transjakarta dan Jak Lingko berkisar Rp12.000, sedangkan LRT yang terintegrasi dengan Transjakarta dan Jak Lingko berkisar Rp10.800.

Dengan berkembangnya integrasi antarmoda transportasi umum ini yang mempunyai tujuan utama memudahkan masyarakat dalam bertransportasi dan mengurangi kemacetan patut diapresiasi oleh masyarakat. Kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan untuk mencapai integrasi moda transportasi yang baik dan tepat. Sehingga kedepannya benar-benar tercapai integrasi antarmoda yang optimal baik dari segi fisik maupun non-fisik seperti sistem pembayaran.  Sehingga benar-benar memudahkan masyarkat untuk bermobilitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Aplikasi PeduliLindungi Tracing Kontak Covid-19 Aman, Tapi Hati-Hati Palsuannya!

Jakarta, RakyatRukun.com – Melansir CNNIndonesia.com tanggal 18 April 2020, Pemerint…