Napak Tilas Jokowi Hingga Menuju Istana Kepresidenan

Siapa yang tidak mengenal Joko Widodo? Ketika mendengar namanya saja sudah terlintas di benak sosok yang sederhana, santun, dan merakyat. Pria kelahiran Surakarta, Jawa Tengah pada 21 Juni 1961 ini bukanlah berasal dari keluarga terpandang. Sedari kecilnya dia telah terbiasa berjuang sendiri mencari keperluan sekolah dan uang jajan sehari-hari. Dengan kesulitan hidup yang dia alami, Jokowi muda terpaksa berdagang, mengojek payung, dan menjadi kuli panggul. Kerasnya hidup membuat pribadi dan semangatnya kian terasah. Dia berhasil menamatkan pendidikannya di Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada. Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari bangku kuliah dan pengalaman kerja di bidang kayu milik usaha pamannya, ia bertekad untuk berbisnis dan membuka usaha sendiri.

Berkat kejujuran dan kerja keras dari usaha mabel yang dilakoninya, membuat dia berkesempatan berkeliling Eropa yang membuka mata dan pikirannya. Penataan kota di Eropa yang baik, menginspirasinya untuk diterapkan di Surakarta dan menjadi titik awal keinginannya untuk terjun di dunia politik. Dia bertekad untuk menerapkan kepemimpinan yang manusiawi dan mewujudkan kota yang bersahabat untuk penduduknya yaitu daerah Surakarta yang lebih dikenal dengan kota Solo.

Pada tahun 2005, Jokowi mulai terjun ke dunia politik. Ia diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) maju sebagai calon walikota Surakarta karena dianggap sebagai sosok yang sukses dan pintar. Secara mengejutkan Ia berhasil memenangkan pemilihan tersebut dengan persentase suara sebesar 36,62%. Setelah terpilih, Jokowi kemudian mengubah wajah kota Solo menjadi lebih baik dalam penatanan. Tak sedikit yang meragukan kemampuan Jokowi dalam kepemimpinannya, namun hal itu terpatahkan dengan berbagai prestasi yang ditorehkan untuk Solo. Di bawah kepemimpinannya, bus Batik Solo Trans diperkenalkan, berbagai kawasan seperti Jalan Slamet Riyadi dan Ngarsopuro diremajakan, dan Solo menjadi tuan rumah berbagai acara internasional. Selain itu, Jokowi juga dikenal akan pendekatannya dalam merelokasi pedagang kaki lima yang “memanusiakan manusia”. Berkat pencapaiannya ini, pada tahun 2010 ia terpilih lagi sebagai Wali Kota Surakarta dengan suara melebihi 90%.

Prestasinya tersebut membuat ia diajukan kembali oleh PDI-P sebagai gubernur ibu kota Jakarta pada tahun 2012 lalu. Tentunya tak mudah bagi Jokowi untuk duduk di singasana gubernur pusat pemerintahan Indonesia. Pertarungan politik yang sangat sengit pun terjadi antara dua kandidat yang saat itu tengah bersaing, yakni Jokowi – Basuki dan Fauzi Bowo – Nachrowi Ramli. Pada masa kepemimpinannya, Jokowi merilis kebijakan untuk mempercepat pembangunan sarana transportasi masal seperti MRT dan monorel serta memperbanyak armada Transjakarta guna mengatasi kemacetan. Untuk masalah banjir sendiri, Jokowi mengambil keputusan untuk merelokasi daerah-daerah resapan banjir dan memperbaharui serta memperbanyak taman dan hutan kota. Pada masa pemerintahannya pula, DKI Jakarta mengadakan beberapa event kreatif seperti Jakarta Night Festival, Pesta rakyat, Pekan Raya Jakarta (PRJ) dan lain sebagainya.

Setelah terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta, popularitas Jokowi kian melejit berkat rekam jejaknya yang baik dan pendekatannya yang merakyat dan santun, seperti yang ditunjukkan melalui program “blusukan”. Akibatnya, melalui surat mandat langsung oleh Megawati, Jokowi diminta untuk menjadi calon presiden. Setelah pertimbangan yang panjang mengingat masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, Ia mengatakan kesiapannya. Jokowi mengumumkan bahwa ia bersedia dan siap melaksanakan mandat tersebut untuk maju sebagai calon presiden Republik Indonesia dalam pemilihan umum presiden Indonesia 2014 bersama Jusuf Kalla sebagai wakil presiden.

Jokowi dikenal dengan gaya kepemimpinan yang membumi. Dia sering kali melakukan “blusukan” atau turun ke lapangan untuk melihat langsung permasalahan yang ada dan mencari solusi yang tepat. Gaya yang unik ini dijuluki The New York Times sebagai “Demokrasi Jalanan”. Mengawali karirnya sebagai Presiden Republik Indonesia, Jokowi mengeluarkan Kartu Jakarta Sehat (KJS), Kartu Jakarta Pintar (KJP), dan Kartu Keluarga Sejahtera. Selain “blusukan”, gaya kepemimpinannya juga dikenal akan transparansi birokrasi. Misalnya, Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama sama-sama mengumumkan jumlah gaji bulanan dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah kepada umum. Ia juga memulai sejumlah program yang terkait dengan transparansi seperti online tax, e-budgeting, e-purchasing, dan cash management system. Selain itu, semua rapat dan kegiatan yang dihadiri oleh Jokowi dan Basuki direkam dan diunggah ke akun “Pemprov DKI” di YouTube.

Kali ini, Jokowi kembali melaju sebagai calon presiden priode 2019-2024. Bersama pasangannya, Kiai Hj. Ma’ruf Amin, Ia tampil menawarkan program kerja yang bertajuk “Indonesia Maju”. Masyarakat pendukung tentunya berharap Jokowi dapat melanjutkan program kerja yang telah Ia lakukan selama menjabat Presiden RI. Indonesia telah merasakan dampak positif dari berbagai pembangunan infrastruktur dan program kesejahteraan pemerintah. Semoga Jokowi bisa membawa Indonesia menjadi maju dan lebih baik seperti ketika Ia memimpin Solo dan Jakarta sebelumnya.

JOKO WIDODO

PENDIDIKAN

  • SDN 111 Tirtoyoso Solo
  • SMP Negeri 1 Surakarta
  • SMA Negeri 6 Surakarta
  • S1, Jurusan Teknologi Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan, UGM, Yogyakarta,1980-1985

KARIER

  • Pegawai PT Kertas Kraft Aceh, 1986
  • Pengusaha Mebel, 1988
  • Wali kota Solo, 2005-2010, 2010-2012
  • Gubernur DKI Jakarta, 2012-2014
  • Presiden Republik Indonesia, 2014-2019

PENGHARGAAN

  • Pengendali inflasi – Bank Indonesia
  • Tata ruang kedua terbaik se-Indonesia – Kementerian Pekerjaan Umum
  • Top 50 Leaders dari Fortune
  • Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan – Kemenaker
  • Bung Hatta Anti Corruption Award – Meutia Hatta
  • Anti Gratifikasi – KPK
  • Program Perlindungan Anak – UNICEF Tahun 2006
  • Pencapaian target MDGs Untuk program KJP dan KJS – Bappenas
  • Pangripta Nusantara Utama – Bappenas
  • Nominasi World Mayor Tahun 2012
  • Wali Kota No. 3 Terbaik Dunia – The City Mayors Foundation

Selain itu, berkat kepemimpinanya menjadi wali kota Solo juga banyak meraih penghargaan, di antaranya:

  • Kota Pro-Investasi dari Badan Penanaman Modal Daerah Jawa Tengah
  • Kota Layak Anak dari Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan
  • Wahana Nugraha dari Departemen Perhubungan
  • Sanitasi dan Penataan Permukiman Kumuh dari Departemen Pekerjaan Umum
  • Kota dengan Tata Ruang Terbaik ke-2 di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

PANGAN DAN PERTAHANAN NEGARA

Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapa…