Noda Toleransi di Hari Raya Nyepi

Siapa yang tidak mengenal Bali? Hampir seluruh penduduk dunia pernah menginjakkan kaki di daerah yang berjuluk Pulau Dewata ini. Provinsi dengan mayoritas penduduknya beragama Hindu ini telah tersohor hingga ke pelosok negeri. Keramahtamahan penduduknya, pemandangan yang menyejukkan serta nilai kebudayaan dan keagamaan yang mengikat begitu kental selalu membuat hati rindu untuk kembali kesini.

Namun sayangnya, kisah miris baru saja terjadi di tanah Bali. Menjelang Hari Raya Nyepi, umat Hindu di Bali melangsungkan Upacara Melasti untuk mensucikan diri. Video yang tengah viral di medsos memperlihatkan segerombolan orang mengambil sesajen uang diduga saat upacara di Pantai Sanur. Padahal umat Hindu belum selesai sembahyang.

Kronologi

Dilihat Rakyat Rukun, Selasa (5/3/2019), video yang diupload oleh akun twitter @Tanpaagama yang berdurasi 33 detik ini memperlihatkan beberapa orang pria yang tidak diketahui apakah warga atau wisatawan mengambil uang sesajen yang akan dipersembahkan saat Upacara Melasti. Dalam video tersebut mereka menunggu seorang wanita yang sedang membawa sesajen. Tampak bahwa mereka langsung mengambil uang sesajen tersebut setelah umat Hindu selesai berdoa. Bahkan lebih mirisnya lagi ada juga yang langsung mengambil meski ada yang belum selesai berdoa.

Video yang dimunculkan dalam akun @Tanpaagama ini telah direspon dengan lebih dari 578 tweet dan ratusan orang yang memberikan komentar. Semua komentar sangat menyayangkan peristiwa ini terjadi. Terlihat tidak adanya rasa menghargai terhadap kesakralan sebuah budaya dan agama. Seperti yang dicuit oleh akun @ofckikik, “Ini sembahyang loh. Sama aja kalo di Islam lu shalat terus sajadah lu diinjek2 orang2 bangsat, lu baca Al-Quran, Al-Qur’an lu dirampas. Semua agama punya waktu untuk bercengkrama dengan Tuhannya, bahkan ateis sekalipun butuh waktu untuk bercengkrama dengan dirinya sendiri.”

Tidak hanya di Bali saja sikap intoleran dalam beragama terjadi. Seperti yang diberitakan di Kompas.com bahwa sepanjang tahun 2018, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) se-Indonesia yang bernaung di bawah Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) telah menangani 15 kasus terkait pelanggaran hak atas kebebasan beragama dan berkeyakinan di berbagai daerah. Bentuk pelanggaran yang terjadi adalah pelarangan pendirian rumah ibadah, ujaran kebencian, pelarangan perkumpulan keagamaan dan pelarangan ekspresi keagamaan.

Kenapa hal ini bisa terjadi?

Mengapa bentuk sikap tidak menghargai ini terjadi? Beberapa hal yang memicu tindakan pelanggaran terhadap kebebasan beragama antara lain: norma hukum, lemahnya penegakkan hukum, dan ujaran kebencian. Hukum yang mengatur mengenai pendirian rumah ibadah contohnya. Perizinan untuk membangun rumah ibadah dinilai memberatkan kaum minoritas. Berdasarkan Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 2006 tentang pendirian rumah ibadah. Dibutuhkan setidaknya 90 orang  daftar nama dan KTP pengguna rumah ibadah serta dukungan masyarakat setempat paling sedikit 60 orang yang disahkan oleh lurah atau kepala desa.

Selain itu, lemahnya penegakan hukum oleh aparat terhadap kasus pelanggaran kebebasan beragama membuat masalah tidak dapat diselesaikan secara tuntas. Kaum minoritas menjadi kelompok yang sering ditekan dan terpaksa mengalah ketika terjadi konflik keagamaan. Masyarakat juga mudah sekali terpapar dan percaya dengan isu kebencian yang disebarkan oleh pihak tertentu. Biasanya kelompok ini memiliki agenda khusus untuk menyebarkan berita yang cenderung mengarah ke sikap intoleran.

Tampaknya ketamakan dan keegoisan telah mengalahkan rasa toleransi yang dasarnya dibutuhkan oleh negara ini. Sudah cukup lama rasanya masyarakat jengah dengan sikap intoleransi yang mencoreng kebersamaan ini. Pemerintah dan aparat keamaan haruslah bisa bertindak tegas terhadap pelaku intoleran tanpa memojokkan hak dari golongan minoritas untuk beragama. Indonesia bukanlah milik satu agama dan satu budaya. Bhineka Tunggal Ika merupakan akar pengikat keutuhan bangsa. Saling menghormati ritual keagamaan masing-masing dan ikut mendukung kedamaian dalam menjalankan ibadah membuat negara ini lebih damai dan indah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Aplikasi PeduliLindungi Tracing Kontak Covid-19 Aman, Tapi Hati-Hati Palsuannya!

Jakarta, RakyatRukun.com – Melansir CNNIndonesia.com tanggal 18 April 2020, Pemerint…