Logistik tidak dapat memenangkan pertempuran. Tetapi tanpa logistik pertempuran tidak dapat dimenangkan. Demikian semboyan terkenal di kalangan militer dalam menggambarkan betapa pentingnya logistik dalam sebuah operasi. Karena itu, kemenangan pasukan juga sangat ditentukan seberapa besar cadangan logistik yang dimiliki. Apalagi dalam perang berlarut (protracted war).

Tidak heran kalau gudang logistik selalu jadi incaran musuh untuk dihancurkan terlebih dahulu. Saat perang saudara di Amerika pada tahun 1861-1865 misalnya, pasukan utara (The Union) melancarkan taktik blokade terutama melalui laut dan sungai sehingga pasukan selatan (Confederate State) mengalami kelangkaan amunisi, terutama makanan. Bahkan Jenderal Philip Sheridan menghancurkan basis pertanian pasukan Selatan.

Kita juga dahulu mengalaminya pada era perjuangan kemerdekaan Rapublik Indonesia. Yaitu ketika Belanda menerapkan taktik blokade ekonomi, mencegah arus ekspor dan impor. Untuk menembus blokade tersebut, PM Sjahrir ketika itu mengirim bantuan beras ke India yang kemudian dibarter dengan tekstil dan obat-obatan. Siasat Sjahrir ini kemudian dikenal sebagai “diplomasi beras”.

Pentingnya logistik ini sampai Napoleon Bonaparte menyebut pergerakan pasukan ada di perutnya (an army marches on its stomach). Makanya pemimpin militer dan politik Prancis itu memberi penghargaan dan uang dalam jumlah yang tidak sedikit kepada Nicholas Appert, penemu teknologi mengemas makanan untuk tentara Prancis (Subianto, 2012).

Menariknya, dari metode itulah kita sekarang mengenal makanan kaleng. Memang tidak dapat dinafikan bahwa banyak sarana dan prasarana untuk menunjang kemudahan manusia dalam beraktifitas saat ini pada mulanya untuk kepentingan militer. Seperti Global Positioning System (GPS) dan juga termasuk internet (interconnection-networking). Dalam hal ini militer Amerika Serikat.

Melihat nilai strategis logistik ini pula Presiden Soekarno menyebut bahwa pangan adalah urusan hidup dan matinya suatu bangsa. Dengan demikian, pangan memiliki banyak dimensi termasuk soal ketahanan dan pertahanan. Pergolakan yang melanda negara-negara di Timur Tengah sampai saat ini juga berawal dari aksi bunuh diri seorang pedagang buah di Tunisia yang frustasi pada 17 Desember 2010 lalu.

Saat ini kita memang tidak dalam suasana perang. Tapi banyak ahli yang memprediksi bahwa perang masa depan itu adalah perang pangan. Hal ini seakan memutar kembali jarum sejarah. Bukankah kolonialisme bangsa Eropa dahulu termasuk ke Indonesia pada awalnya dimaksudkan untuk mencari komoditas pangan, dalam hal ini rempah-rempah?

Kekhawatiran tersebut semakin beralasan kalau kita mencermati perkembangan dan dinamika lingkungan strategis global, regional dan nasional.

Misalnya jumlah pertumbuhan penduduk semakin meningkat. Sementara lahan pertanian malah menyusut karena masifnya alih fungsi lahan. Hal ini semakin mempertegas tesis Robert Malthus bahwa pertumbuhan penduduk cenderung melampui pertumbuhan persediaan makanan. Karena penduduk, menurutnya, tumbuh seperti “deret ukur”. Sedangkan persediaan makanan bertambah seperti “deret hitung”.

Untuk Indonesia yang berdasarkan Hasil Sensus Penduduk 2010 berpenduduk 238,5 juta jiwa misalnya, mengalami laju pertumbuhan penduduk (LPP) sekitar 1,5 persen per tahun. Sementara konversi lahan sawah untuk kepentingan nonpertanian mencapai rata-rata 100 ribu hektare per tahun dan pencetakan sawah baru tidak lebih dari 50 ribu hektare per tahun.

Bahkan tampaknya angkanya pengurangannya lebih dari itu. Seperti dicatat Koran Sindo edisi Rabu 17 Juli 2020, luas panen padi selama tiga tahun belakangan ini menurun secara drastis. Yaitu dari 15,79 juta hektar pada 2017, turun menjadi 11,38 juta hektar pada 2018, dan berkurang lagi menjadi 10,68 juta hektar pada 2019. Sementara total produksinya turun dari 81,38 juta ton GKG pada 2017 menjadi 59,2 juta ton GKG dan 54,6 juta ton GKG pada masing-masing tahun 2018 dan 2019.

Turunnya produktifitas ini juga memang tidak lepas dari adanya pemanasan global (global warming) yang menyebabkan perubahan musim menjadi tidak menentu (global climate change). Hal ini tentu semakin membuat tingkat kerawanan pangan secara global semakin mengkhawatirkan, termasuk Indonesia.

Selain fenomena pemanasan global ini, kecenderungan pemanfaatan komoditas pangan untuk keperluan bahan bakar nabati (BBN) atau bahan bakar biologi (biofuel) sebagai pengganti minyak dan gas (migas) juga harus menjadi perhatian bersama. Mengingat banyak komoditas pangan kita bergantung dari impor. Saat ini negara-negara utama pengekspor komoditas pangan mengalihkan sebagian hasil pangan mereka untuk bahan baku pembuatan energi alternatif tersebut.

Belum lagi kalau terjadi bencana global seperti kasus Covid-19 seperti sekarang ini yang membuat sejumlah negara produsen bahkan pangan menghentikan ekspor untuk memenuhi kepentingan dalam negeri sendiri menyusul adanya peringatan ancaman krisis pangan dari organisasi pangan dan pertanian dunia, Food and Agriculture Organization (FAO).

Dengan demikian, ketahanan pangan (food security), kemandirian pangan (food resilience) terutama kedaulatan pangan (food soveregnity) harus menjadi tekad bersama untuk mewujudkannya. Kita tidak ingin negara kita goyah karena kelangkaan pangan.

Bila perang konvensional bagi sebagian orang adalah hal yang tidak mungkin terjadi lagi pada masa sekarang ini, meski saya tidak sependapatnya seutuhnya, tapi setidaknya kita semua sepakat bahwa bencana bisa terjadi sewaktu-waktu dan tiba-tiba. Dengan demikian, menyiapkan kesiapan cadangan logistik pangan mutlak untuk dilakukan, bahkan perlahan cadangan logistik obat-obatan, dan energi pun perlu disiapkan, sejak dini dan harus dimulai saat ini.

Karena itu, pengembangan lumbung pangan (food estate) di Kalimantan Tengah seluas 165 ribu hektar yang saat ini disiapkan Pemerintah patut disambut baik dan diberi dukungan. Terlebih inisiasi pencanangan lumbung pangan oleh Presiden Joko Widodo ini berangkat dari perspektif pertahanan, ditandai dengan penunjukkan Kementerian Pertahanan sebagai leading sector, dimana kebijakan umum pertahanan negara ada ditangan Presiden dan Presiden bisa menetapkan orientasi kebijakan politik pertahanan negara, dan melalui penunjukkan Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto sebagai pimpinan pengembangan food estate, ada sinyalemen bahwa Presiden ingin mengembangkan pertahanan kuat yang berdimensi holistik melalui penguatan pertahanan militer dan non-militer sekaligus.

Itu artinya Pemerintah, dalam hal ini Presiden semakin menyadari bahwa pemenuhan hak pangan rakyat merupakan masalah strategis. Menyangkut jatuh bangunnya sebuah bangsa. Maka, menjaga benteng pertahanan melalui kesiapan cadangan logistik strategis perlu dilakukan sedini mungkin.

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak
Peneliti Senior Institute Kajian Strategis UKRI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Aplikasi PeduliLindungi Tracing Kontak Covid-19 Aman, Tapi Hati-Hati Palsuannya!

Jakarta, RakyatRukun.com – Melansir CNNIndonesia.com tanggal 18 April 2020, Pemerint…