Pemilu 2019 telah usai. Segala hiruk pikuk yang ada didalamnya telah kita lewati bersama. Sebagai negara demokrasi, setidaknya kita patut bersyukur bahwa salah satu ujian terbesar dalam pelaksanaan demokrasi telah kita tuntaskan. Ya, tentu dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dari apa yang telah kita lalui kemarin, sudah seharusnya kita belajar. Politik, suka tidak suka, telah menjadi bagian dari kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara. Harus kita akui, bahwa dinamika politik di tahun ini, sedikit banyak telah menguji ikatan persatuan kita sebagai bangsa Indonesia. Polarisasi dua kubu melahirkan perbedaan pandangan. Bukan hanya pandangan politik, namun hingga ke ranah yang lebih pribadi dengan digunakannya agama sebagai alat.

Perikles, seorang negarawan Yunani paling terkenal dan berpengaruh pada masa Athena pernah mengatakan, “Hanya karena engkau tidak tertarik dengan politik, bukan berarti politik tidak akan tertarik kepadamu”. Suatu pernyataan sekaligus peringatan, bahwa bagaimanapun kita akan selalu dimanfaatkan dalam politik. Untungnya, dalam demokrasi kita diberikan ruang untuk menentukan. Baik atau buruk, memanfaatkan atau dimanfaatkan, kitalah yang memilih. Salah atau benar menjadi tergantung kepada banyaknya suara. Teredukasi, menjadi kunci besar dalam menentukan pilihan yang tepat. Oleh sebab itu, tidak berlebihan rasanya jika pendidikan dan pengetahuan politik menjadi hal fundamental dalam membangun kehidupan berpolitik yang berkualitas.

Memahami fenomena politik bukanlah hal yang mudah. Meskipun sebagian besar dari kita menganggap hal tersebut tidaklah sulit . Karena fenomena tersebut seakan dicitrakan sebagai bagian dalam kehidupan kita. Namun, pada kenyataannya, kita seringkali terjebak dalam teori konspirasi, cocoklogi dan hal-hal lainnya yang menimbulkan ambiguitas. Menariknya, sulit bagi mereka yang telah percaya akan hal tersebut, untuk kemudian menyadari kekeliruannya. Ruang tersebut kemudian digunakan oleh para politikus-politikus untuk menarik simpati, mencari pembenaran, dan membangun narasi negatif yang destruktif.

Agar tidak menyimpang, maka dibutuhkan alat untuk menjaga pengetahuan kita tetap dalam koridor. Harapannya, kita tidak terjebak dalam pemahaman yang salah. Dalam sains, teori menjadi salah satu alat untuk membentuk batasan-batasan tersebut. Neuman W. Lawrence, seorang profesor dan sosiolog yang terkenal dalam bidang penelitian sosial menjelaskan, teori adalah suatu sistem gagasan dan abstraksi yang memadatkan dan mengorganisir berbagai pengetahuan manusia tentang dunia sosial sehingga mempermudah pemahaman manusia tentang dunia sosial. Ia juga mengemukakan bahwa teori adalah seperangkat konstruk (konsep), definisi, dan proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik, melalui spesifikasi hubungan antar variabel, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena.

Dalam pencarian suatu pemahaman, khususnya dengan pendekatan kualitatif, teori mempunyai fungsi sebagai alat (means) dan sebagai tujuan (ends). Fungsi pertama, teori sebagai alat pada umumnya digunakan untuk mencapai tujuan penelitian melalui usaha penelitian dalam melengkapi dan menyediakan keterangan terhadap suatu fenomena khusus. Sedangkan, sebagai tujuan, teori menghasilkan petunjuk dan kisi-kisi kerja yang harus diperhatikan sehingga nantinya dikembangkan berdasarkan data yang dikumpulkan. Dalam membangun suatu ilmu, setidaknya teori memiliki empat peran besar, yaitu:

  1. Teori sebagai orientasi; Memberi suatu orientasi sehingga teori tersebut mempersempit cakupan yang akan ditelaah, sedemikian rupa sehingga dapat menentukan fakta – fakta yang ditemukan.
  2. Teori sebagai konseptual dan klasifikasi; dapat memberikan petunjuk tentang kejelasan ubungan antara konsep – konsep dan fenomena atas dasar klasifikasi tertentu.
  3. Teori sebagai generalisasi; memberikan rangkuman terhadap generalisasi empirik dan antar hubungan dari berbagai proposisi.
  4. Teori sebagai peramal fakta; memuat prediksi tentang adanya fakta dengan membuat ekstrapolasi dari yang sudah diketahui kepada yang belum diketahui.

Jika kemudian dikorelasikan dengan kehidupan nyata, secara sederhana, teori dapat mempermudah pemahaman kita dalam melihat suatu fenomena. Melihat suatu kejadian secara terstruktur. Memisahkan data, fakta, dan opini. Serta membatasi diri kita dari logical fallacies atau kesalahan logika berpikir yang dapat menjebak kita dalam argumentasi yang salah. Dengan demikian, kita tidak terjebak dalam lingkaran informasi yang salah. Setidaknya, terdapat 5 teori sains yang bisa kita pelajari paska Pemilu 2019 lalu.

Bersambung -> Part 2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Aplikasi PeduliLindungi Tracing Kontak Covid-19 Aman, Tapi Hati-Hati Palsuannya!

Jakarta, RakyatRukun.com – Melansir CNNIndonesia.com tanggal 18 April 2020, Pemerint…